Pertanyaan adalah Jawaban

Oleh: Aswandi - PEPATAH lama, “Barang Siapa Tidak Mampu Bertanya, Tidak Mampu Hidup”, dengan kata lain, “Mutu Pertanyaan Menciptakan Mutu Hidup”.

Albert Einstein menambahkan, “Sesuatu yang penting adalah jangan berhenti bertanya, dan jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu”. Dan seluruh kemajuan manusia didahului pertanyaan-pertanyaan baru, jawaban baru datang dari pertanyaan baru, dikutip dari Anthony Robbins (2015) dalam bukunya “Giant Steps”.

Dalam penelitian dan karya tulis ilmiah, pertanyaan berupa rumusan permasalahan adalah sangat penting, ia dibangun atas dasar adanya kesenjangan antara das sollen dan das sain yang jelas, didukung kerangka teoritik dan konseptual yang benar, jelas dan up to date, dan menjadi pedoman bagi semua tahapan penelitian berikutnya.

Dalam menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari juga demikian, tindakan kita, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi hingga umpan balik sangat ditentukan dari kualitas rumusan pertanyaan tersebut, salah merumuskan pertanyaan, maka semua proses dalam penyelesaian masalah menjadi kurang efektif dan efisien.

Peter F. Drucker seorang bapak manajemen modern dan banyak pakar lainnya  menegaskan bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka pikirkan akan semakin jelas jika dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.

Anthony Robbins (2006) dalam bukunya “Awaken The Giant Within” mengatakan untuk mengubah kehidupan anda agar lebih baik, maka Anda harus mengubah pertanyaan yang menjadi kebiasaan Anda. Pola pertanyaan yang secara konsisten menjadi kebiasaan Anda akan menciptakan kepedihan atau kenikmatan, penyesalan atau inspirasi, dan kesengsaraan atau keajaiban.

Pertanyaan itu menjadi penting, karena; (1) pertanyaan-pertanyaan itu langsung mengubah apa yang menjadi fokus kita dan oleh karenanya juga bagaimana perasaan kita; (2) pertanyaan-pertanyaan mengubah apa yang kita hapuskan; dan (3) pertanyaan-pertanyaan itu mengubah sumber-sumber daya yang tersedia bagi kita.

Pengalaman selama 38 tahun menjadi seorang pendidik di semua jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan sesekali menjadi nara sumber pada kegiatan pelatihan, seminar dan sejenisnya, penulis menemukan tidak banyak siswa, mahasiswa dan peserta seminar menyampaikan pertanyaan, jikapun ada cenderung orang yang sama, lebih sedikit jumlahnya mereka yang cerdas menyampaikan pertanyaan.  

Fakta lain, banyak negara dimana mutu pendidikannya sangat tinggi, evaluasi pembelajaran tidak diukur dari kemampuan siswanya memberikan jawaban yang benar, melainkan diukur dari kemampuannya menyampaikan pertanyaan yang benar dan baik. Kenyataan dalam hidup ini justru sebaliknya, lebih banyak diantara kita memiliki keinginan yang tinggi untuk menjawab atau menjelaskan sebuah persoalan sekalipun tidak ada yang menanyakannya. Dalam kitab “Al-Hikam” dijelaskan bahwa diantara tanda kebodohan (ketololan) adalah menjelaskan apa yang tidak ditanyakan atau bukan permasalahan dan menceritakan setiap apa yang dilihatnya.

Jeffrey H. Dyer, Hal B. Gregersen, and Clyton M. Christensen (2013) dalam bukunya “The Innovator’s DNA” menyatakan bahwa kemampuan bertanya (questioning) adalah satu dari lima “Discovery skill” of True Innovator, discovery skill lainnya adalah; associating, observing, exprimenting and networking. Pentingnya kemampuan bertanya (Questioning) tersebut telah ditegaskan  Peter F. Drucker lebih 50 tahun lalu, ia mengatakan, “The power of provocative questions”. Sebuah ungkapan, “The important and difficult job is never to find and right answers, it is to find the right question”. Kemudian dalam manajemen dikenal formula 5W(what, why, who, where, when) + 1H (how). Hingga saat ini formula 5W1H tersebut masih digunakan dalam praktek manajemen.

Pertanyaannya, mengapa kemampuan atau kecerdasan bertanya yang sangat penting dalam melahirkan banyak kesuksesan dalam kehidupan ini kurang dimiliki oleh peserta didik dan masyarakat umumnya?. Apakah mereka lupa atau tidak mengetahui bahwa pertanyaan itu adalah jawabannya. Pepatah lama mengatakan “Salah Bertanya Sesat Di Jalan”. Penulis sependapat atas pepatah tersebut bahwa kegagalam selama ini antara lain disebabkan oleh kesalahan bertanya.   

Secara teoretik bahwa kemampuan bertanya menjadi pembeda antara orang-orang sukses dan yang gagal. Cukup sederhana, orang sukses adalah mereka yang bertanya lebih baik dan sebagai akibatnya mendapat jawaban yang lebih baik. Oleh karena itu, Jika kita ingin mengubah mutu hidup ini, kita harus mengubah apa yang biasanya kita tanyakan mengenai diri kita dan orang lain.

Namun sayangnya banyak diantara kita tidak jujur terhadap dirinya sendiri, sehingga sangat berpengaruh terhadap pola pikir atau mindsetnya, selanjutnya akan berdampak pada kata-katanya, perbuatannya, kebiasaannya dan karakternya.

Penulis ingin menyatakan bahwa jika saat ini pembaca mendapat jawaban yang salah dan kehidupan gagal, maka jawaban salah dan kehidupan gagal tersebut boleh jadi berawal dari sebuah pertanyaan yang salah. Dalam teori pembelajaran konstruktivistik diasumsikan bahwa tidak ada jawaban yang salah, yang ada adalah pertanyaan yang salah.

Rendahkan kemampuan dan kecerdasan bertanya dapat disebabkan pola asuh dalam keluarga dan kesalahan strategi pembelajaran yang dialami seseorang dari sejak kecil hingga dewasa. Oleh karena itu sudah saatnya diajarkan lebih serius mengenai kompetensi bertanya.

Menurut penulis, terdapat beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatikan diajarkan dalam menyampaikan setiap pertanyaan; (1) harus didasarkan adanya masalah; (2) didukung oleh dalil atau kerangka teori yang benar; dan (3) dirumuskan dalam kalimat yang singkat, padat dan jelas (Penulis, Dosen FKIP Untan)