Yang Lemah Mengalahkan Yang Kuat

Opini Ilmiah


Senin, 30 Juni 2014 - 11:06:42 WIB | dibaca: 1235 pembaca



Foto: di Menara Eiffel - Paris

Oleh: Aswandi

DALAM kehidupan ini selalu terjadi paradox dan tidak linier, dimana kaum yang lemah mampu mengalahkan kaum yang kuat. Jumlah yang kecil mengalahkan jumlah yang besar, Si Miskin mengalahkan Si Kaya. Yang sakit mengalahkan Yang Sehat, Yang Cacat mengalahkan Yang Normal dan seterusnya. Apa yang kita anggap kelebihan dan kekurangan itu tidak seluruhnya benar, bahkan terkadang kita mencampuradukkan keduanya.

Beberapa bukti penulis informasikan berikut ini; (1) kemenangan umat Islam di perang badar yang terjadi di bulan ramadhan sebuah bukti bahwa jumlah pasukan dan amunisi sedikit mampu mengalahkan jumlah pasukan dan amunisi yang jauh lebih banyak atau besar dan lengkap. Riset membuktikan sebesar 30% dari semua perang dimenangkan oleh pihak yang dianggap lemah.

Namun diingatkan, perang yang jauh lebih berat dari perang badar adalah perang melawan diri sendiri atau perang melawan hawa nafsu; (2) dalam dunia binatang, kecoa adalah binatang kecil, namun mampu mengalahkan dinosaurus, satu jenis binatang besar atau raksasa karena ketidakmampuan dinosaurus beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dan larut dalam zona kenyamanan, sementara kecoa jenis binatang kecil yang tetap eksis hingga sekarang ini karena kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi sebagai dampak dari kemampaun belajar si kecoa; (3) bukti lain, Bangsa Yahudi di Amerika Serikat jumlahnya sangat sedikit, tidak lebih dari 3% dari keseluruhan warga Amerika Serikat, namun meskipun dalam jumlah sedikit  itu mereka mengendalikan pemerintahan dan pelayanan publik di negeri Paman Sam. Sama halnya China di perantauan, jumlahnya di setiap negara juga sedikit, tetapi melalui organisasi jaringan yang sangat solit dimilikinya, bargaining position mereka sangat kuat di setiap negara; (4) John Naisbit mengatakan bahwa semakin mengglobal sebuah dunia, maka akan semakin menguat sesuatu yang menjadi kearifan lokalnya; (5)  pasangan calon gubernur dengan modal uang yang sangat besar, didukung oleh banyak partai politik, termasuk di dalamnya partai politik penguasa beserta organisasi sayapnya tidak berdaya dikalahkan oleh kandidat gubernur lainnya yang memiliki sedikit uang dan beberapa partai politik saja; (6) sebanyak 25% orang sukses telah kehilangan orang tua sebelum berumur sepuluh tahun, 67% perdana menteri telah kehilangan orang tua (yatim) saat mereka berusia enam belas tahun, dan sebanyak 27% presiden Amerika Serikat adalah mereka yang telah menjadi yatim saat mereka berusia lima belas tahun; (7) orang kaya di dunia ini adalah mereka berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan banyak wiraswasta sukses mengidap penyakit disleksia.

Orang bijak mengatakan, “banyak anak yang tidak diperhitungkan oleh orang tuanya karena kelemahan yang dimilikinya, ternyata setelah dewasa mereka yang menjaga dan memelihara orang tua mereka, sama halnya banyak warga negara yang tidak diperhitungkan dan dipandang remeh karena kelemahan yang dimilikinya, ternyata mereka lebih bermakna dalam pengabdian untuk kemajuan bangsanya dari pada mereka yang dianggap kuat dan potensial oleh pemerintah dan negaranya yang justru seringkali mengeksploitasi rakyat dan kekayanan negerinya.

Terkait sebuah tema, “Yang Lemah Mengalahkan Yang Kuat” dan sejenisnya, Malcolm Gladwell (2013) dalam bukunya “David dan Goliath” menjelaskan panjang lebar tentang hal tersebut disertai bukti risetnya.

Dua tokoh imajiner, yakni David yang digambarkan mewakili kaum lemah atau orang biasa dan Goliath mewakili kaum yang kuat ibarat raksasa. Namun dalam kehidupan ini David selalu mampu mengalahkan Goliath.

Pertanyaannya adalah mengapa yang lemah, miskin, kecil, sakit, cacat dan sejenisnya yang selama ini dianggap masalah, namun kenyataannya menjadi kekuatan yang mampu mengalahkan sesuatu yang selama ini diyakini sebagai sumber kekuatan dan kemenangan, seper kekayaan, kesehatan, jumlah yang besar dan sejenisnya.

Beberapa jawaban terhadap pernyataan di atas, penulis jelaskan berikut ini; (1) untuk beberapa hal kurva U terbalik masih diyakini benar adanya, misalnya marah, hukuman, dan memanjakan anak diperlukan sebagai alat pendidikan, namun jika porsinya berlebihan, maka marah, hukuman dan memanjakan itu adalah merusak; (2) kesalahan asumsi, bukankah banyak hal yang kita anggap kuat dan berharga menjadi tidak bermakna, demikian sebaliknya. Sebuah kekuatan raksasa justru seringkali menjadi kelemahan besar, sebaliknya David yang bertubuh kecil dan kurus diasumsikan memiliki kelemahan. Dari dulu hingga sekarang ini, kita masih sering membuat kesalahan asumsi yang berdampak bagi segalanya, cara kita mendidik anak sampai cara kita sulit membedakan antara kesalahan dan kejahatan.

Kesalahan asumsi lainnya mengabaikan pentingnya kesehatan psikologi sebagai modal keberhasilan atau kesuksesan seseorang dan suatu bangsa. Terbukti banyak mereka yang lemah dan cacat secara fisik, namun secara psikologis mereka sehat membawa mereka kepada keberhasilan besar; (3) Rasulullah Saw menyampaikan sebuah metafora, banyak umat ini ibarat buih di sebuah samudra luas yang terombang-ambing diterjang ombak. Mereka dalam jumlah banyak, namun lemah akibat mereka menderita penyakit hawn, yakni cinta dunia dan takut mati. Disamping itu, mereka dalam jumlah yang besar atau banyak tetapi lemah akibat dari kurang diorganisir dengan baik, mereka sering berkonflik tanpa dikelola dengan baik sehingga semua konflik yang terjadi mengakibatkan mereka terpecah belah. Ibarat sapu yang terbuat dari lidi kelapa, menjadi sangat kuat karena mereka bersatu, sebaliknya mereka dengan mudah patahdan dipatahkan jika tidak bersatu; (4) tidak tahu posisi diri menjadi faktor dan sumber kelemahan. Dewasa ini, banyak pihak tidak mengerti dan tidak menyadari ukuran baju di badannya. Pepatah Melayu mengatakan “Tempurung dipaksa naik ke atas afar, padahal yang layak berada di atas afar itu adalah kayu api yang baik, sementara tempurung cukup berada di samping tunggku”. Perumpamaan lain, seekor semut ingin menjadi raja di kerajaan gajah, semestinya seekor semut itu menjadi raja bagi komunitas semut. Mengapa harus dipaksakan?.

Jadi inti atau hakikat dari pemberdayaan itu adalah memberi akses kepada semua orang untuk mengaktualisasikan diri mereka sesuai potensi diri yang dimilikinya. Faktanya, tidak sedikit mereka penyandang disabilitas atau cacat fisik selama ini memperoleh keberhasilan luar biasa melebihi keberhasilan yang dicapai oleh manusia normal setelah mereka memperoleh akses mewujudkan keinginannya. Sebaliknya siapapun tidak akan berhasil, apabila kehilangan harapan menatap masa depannya akibat tidak memperoleh akses itu. Terhadap mereka yang sudah kehilangan harapan, para pakar menyebut mereka sebagai kelompok masyarakat yang mengalami penyakit jiwa (depresi mental) sangat berat (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Miskin Dahulu Sukses Kemudian

Cerdas Memberi Peringatan

Sukses dan Cinta

Pemimpin Sederhana

Prediktor Kemajuan Sebuah Bangsa