Tuna Rungu di Era Modern

Opini Ilmiah


Kamis, 10 Maret 2016 - 10:16:57 WIB | dibaca: 428 pembaca


Oleh: Aswandi
 
INKELS seorang pakar modernitas mengatakan diantara ciri-ciri masyarakat modern adalah maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, orientasi masa depan dan menghargai waktu. Sementara tuna rungu adalah gangguan fisik pada telinga yang membuat penderitanya tidak mampu mendengar dengan baik. Di era modern sekarang ini, tuna rungu tidak sebatas penyakit fisik semata, melainkan juga bersifat psikis atau kejiwaan, artinya ketidakmampuan dan ketidaksiapan mendengar seseorang bukan semata-mata karena gendang telinganya telah rusah sehingga tidak berfungsi dengan baik, melainkan karena karakter dan kepribadiannya terpecah sehingga sulit mendengar pendapat orang lain. 

Stephen R. Covey dan banyak pakar kepemimpinan di dunia ini sepakat bahwa kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang lebar dan sehat telinganya serta kecil mulutnya, maknanya adalah kemampuan mendengar dan bertanya pemimpin sejati tersebut adalah tinggi, melebihi kemampuannya untuk bicara, dan menjawab apalagi menggurui, dan mengerti dahulu baru dimengerti. Pada saat ini, banyak pemimpin menderita penyakit tuna rungu karena ketidakmauannya mendengarkan informasi dari berbagai sumber, mereka hanya mau mendengar informasi atau perintah atasannya. 

Setiap orang memiliki dua telinga dan satu mulut, dan dua telinga tersebut tidak mampu menutup dirinya sendiri tanpa dibantu oleh bagian tubuh lainnya, jari misalnya, sementara mulut bisa menutup dirinya sendiri, maknanya, Allah Swt menciptakan dua telinga dan satu mulut dengan maksud agar manusia lebih banyak mendengar dari pada bicara, perbandingannya, setidaknya dua kali mendengar, sekali bicara. Bagi seorang pemimpin cerdas bicara atau menjadi orator adalah penting, namun cerdas mendengar jauh lebih penting. 

Tidak semua siswa mendengar gurunya menjelaskan materi pembelajaran, dan mahasiswa mendengarkan dan menyimak materi yang disampaikan oleh dosennya di ruang kuliah. Pakar pembelajaran sejak lama mengingatkan kepada para pendidik (guru dan dosen) bahwa setiap kali Anda ingin mengajar, sesungguhnya terdapat banyak peserta didik (siswa dan mahasiswa) yang tidak ingin belajar/diajar. Oleh karena itu, jangan heran, apabila mereka para peserta didik lebih menyibukkan dirinya mengunakan handpone saat pendidiknya menyampaikan materi pembelajaran di ruang kelas.

AM. Fatwa, selaku ketua Dewan Kehormatan DPD menceritakan pengalamannya menghadiri setiap kali pertemuan hanya untuk mendengarkan anggotanya berbicara dimana tidak semua pembicara menyampaikan presentasinya secara berkualitas. Selaku pimpinan ia harus siap dan sedia mendengarkan dengan serius celotek bawahannya, apapun yang disampaikannya.

Sumber Tempo, 25 Nopember 2012 melaporkan risetnya tentang penggunaan handpone di kelas dan di saat rapat, kesimpulannya adalah sebagai berikut: pengguna berusia 22-30 tahun sebesar 52%, pengguna berusia 30an tahun sebesar 38%, dan pengguna berusia 40an tahun sebesar 32%.

Di era teknologi informasi belum maju, handpone merupakan barang mewah, hanya dimiliki oleh beberapa orang berduit saja, digunakan seperlunya untuk maksud dan tujuan yang jelas. Mereka menggunakan produk teknologi informasi tersebut agar sesuatu yang jauh menjadi dekat. Saat ini sarana komunikasi berupa handpone berkembang pesat, hampir semua kita dari anak berusia sekolah dasar hingga dewasa memilikinya, namun faktanya kemajuan teknologi ini tidak selalu yang jauh menjadi dekat, justru membuat sesuatu yang dekat menjadi jauh, banyak ditemui mereka asik bermain handpone, orang dekatnya bertanya dan bicara tidak diperdulikannya, ia sibuk dengan dirinya sendiri seperti penderita autis saja. Lebih mengerikan lagi mereka gunakan handpone di saat mengendari motor dan mobil sehingga tidak sedikit yang akhir mengalami kecelakaan berlalu lintas. Mereka lupa bahwa korban lalu lintas lebih banyak dari korban peperangan. Di hari Jum’at, petugas masjid selalu mengingatkan agar handpone dimatikan atau disilent.  Tidak hanya karena handpone, sikap memalingkan muka pada saat berbicara ada yang sudah menjadi karakter atau watak seseorang, misalnya saat berbicara dan bersalaman memalingkan muka. 

Dari Abu Dzar ra, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali meremehkan perbuatan baik, walaupun sekedar menyambut saudaramu dengan menunjukkan wajah berseri-seri”, demikian HR. Muslim. Dihadist riwayat Muslim lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan suatu kebaikan meskipun sekedar berwajah ceria tatkala bertemu dengan saudaramu”. Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu, demikian HR. Tirmizi.

Uraian di atas menggambarkan, bukan sebatas gagap teknologi (gaptek) melainkan lebih karena belum terbentuknya kultur teknologi dan kepribadian sehingga banyak orang mengidap penyakit tuna rungu. Oleh karena itu, membangun literasi terhadap IT jauh lebih penting dilakukan sehingga ia akan menggunakan IT sebagaimana mereka memperlakukan resep obat yang diterimanya dari seorang dokter.

Dalam membangun literasi teknologi informasi berbagai cara dapat dilakukan, misalnya pelayanan administrasi pemerintahan atau pelayanan publik lainnya berbasis IT, demikian pula bimbingan akademik, seperti penulisan skripsi, tesis, atau disertasi tidak melalui tatap muka, melainkan menggunakan teknologi informasi. Karena kultur IT belum terbentuk dan lemahnya kepribadian dosen, maka faktanya pelayanan berbasis IT tidak selalu berjalan efektif, banyak mahasiswa mengeluh pada dosennya yang sudah menyepakaiti bimbingan, namun setiap kali mahasiswa menyampaikan pertanyaan via handpone dan internet tidak dibalas atau tidak dijawab, akhirnya penyelesaian studi mahasiswa terlambat dan secara tidak langsung sikap dan perilaku pendidik yang tidak baik itu menginternalisasi ke dalam diri peserta didik berwujud perilaku negatif. Kong Hu Tsu seorang fisosof China menasehati kita, “Jangan engkau lakukan sesuatu, apabila engkau tidak senang jika orang lain melakukannya kepadamu”.

Sistem yang telah dibangun dengan susah payah dan sudah sangat bagus ini, ternyata tidak juga mampu membangun literasi dan budaya teknologi. Para pakar sistem manajemen menegaskan bahwa sistem yang baik itu tergantung pada manusia yang melaksanakannya, efektivitas manajemen ditentukan oleh 35% sistem dan 65% manusianya. 

Dapat dibenarkan dalam membangun literasi teknologi di masyarakat tersebut diperlukan adanya intervensi dari pemerintah melalui berbagai aturan dan ketentuan yang berlaku sebagaimana dilakukan oleh bapak Sutarmidji selaku walikota Pontianak melalui surat edaran Nomor: 800/125/EK/-BANG, tertanggal 12 Februari 2016 yang isi pesannya; “Jangan ada aparatur yang tengah memberi pelayanan berkomunikasi dengan masyarakat sampai menggunakan handpone atau alat komunikasi lainnya”, dikutip dari Tribun Pontianak, 27 Februari 2016. Penulis setuju jika sebelum guru mengajar terlebih dahulu memastikan bahwa handpone siswa dan mahasiswa dimatikan atau disilentkan kemudian disimpan di dalam tas. Polantas harus bertindak tegas ketika menemukan pengendara kendaraan di jalan raya menggunakan handpone, yakni mengambil handponenya atau menahan motornya sebelum kecelakaan itu terjadi. Kesalahan kita selama ini adalah bersikap reaktif, baru bertindak setelah sesuatu itu terjadi (Penulis, Dosen FKIP Untan).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pemeringkatan Perguruan Tinggi

Air dan Kepemimpinan

Kepemimpinan Para Pembisik

Mewujudkan Kebahagiaan Tanpa Batas

Melawan Rasa Takutt