Transisi Kepemimpinan

Opini Ilmiah


Selasa, 02 September 2014 - 16:30:53 WIB | dibaca: 1166 pembaca



Oleh: Aswandi
 
SEBUAH tradisi baru (semoga menjadi sistem) dalam pemerintahan di negeri ini sedang dibangun, yakni transisi kepemimpinan atau penyerahan tongkat kepemimpinan dari seorang presiden kepada presiden baru sebagai pengantinya.

Sejarah membuktikan transisi kepemimpinan sangat penting bagi kelansungan suatu pemerintahan sering kali ternodai sehingga berakibat pemerintahan baru kurang berfungsi secara efektif, dan bahkan mengalami keruntuhan.

Amin Rais selaku pakar politik dan pemimpin ormas Muhammadiyah sudah lama menyadari pentingnya transisi kepemimpinan tersebut dimana beliau pada waktu itu mengemasnya dalam sebuah isu atau tema “Suksesi Kepemimpinan Nasional”. Namun dalam perjalanannya isu tersebut seakan-akan barang haram untuk dibicarakan apalagi untuk dilakukan di sebuah negara yang katanya kekuasaan ada di tangan rakyat, beliaupun sering mendapat penolakan, intimidasi dan ancaman dari banyak pihak, tidak terkecuali penolakan dari individu (internal) ormas yang dipimpinnya. Ini sebuah gambaran bahwa kekuasaan atau kepemimpinan di negeri ini masih bersifat oligarki yang seakan-akan menjadi presiden itu adalah hak milik, sehingga siapapun yang berani membicarakan hal tersebut dianggap pencuri yang harus dilenyapkan dari muka bumi ini.

Oleh karena itu penulis memberi apresiasi sangat tinggi kepada presiden/wakil presiden terpilih Bapak Jokowi, Jusuf Kalla dan terutama kepada bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) presiden RI yang menurut penulis layak disebut pemimpin sejati yang telah mulai membangun tradisi baru dalam pemerintahan yang belum pernah dan tidak mudah terjadi di negeri ini, dengan penuh harapan semoga transisi kepemimpinan nasional ini dilakukakan dengan sungguh-sungguh, tulus-ikhlas, dan sepenuh hati, bukan hanya basa-basi.

Keputusan Presiden SBY mengambil bagian dalam transisi dan suksesi kepemimpinan nasional menjadi tauladan bagi para pemimpin lain, khususnya bagi presiden RI berikutnya. Beliau rela mengalahkan dirinya untuk kebahagian dan kesejahteraan rakyatnya, tidak mencari populeritas sebagaimana sering dituduhkan banyak pihak yang justru mencari populeritas dan beliau memberi pelajaran bermakna tentang memutuskan mata rantai kerakusan atas kekuasaan sebagaimana telah diajarkan oleh pemimpin dan ilmuan sejati, seperti Muhammad Saw, Nelson Mandela dan Paulo Fraire.   

Blanchard dan Miller (2006) dalam bukunya “The Secret” menegaskan bahwa kesanggupan mengembangkan pengganti yang memiliki kemampuan merupakan tanda dari pemimpin-pemimpin besar”.

Pendapat senada dikemukan John C.Maxwell (2001) dalam bukunya “Laws of Leadership”, ia menyatakan bahwa diperlukan seorang pemimpin (85%) untuk mengangkat atau memilih seorang pemimpin dan nilai langgeng (sejati) dari seorang pemimpin diukur dari suksesinya. Penulis harus berani mengatakan bahwa warisan besar bapak SBY tercipta karena beliau memposisikan negerinya untuk dapat dan terus melakukan hal-hal besar untuk rakyatnya di masa-masa yang akan datang sekalipun tanpa dirinya.  

Sikap dan apresiasi penulis didasarkan pada berbagai alasan, antara lain; (1) Sejarah mencatat, tidak jarang suksesi atau transisi kepemimpinan itu “Berdarah” yang telah terjadi di berbagai negara, fakta lain tidak sedikit negarawan terbunuh, tidak terkecuali yang terjadi pada transisi kepemimpinan “Khulafa Ar-Rasyidin”; (2) William Bridge (2003) dalam bukunya “Managing Transitions” menjelaskan banyak hal akan pentingnya transisi kepemimpinan tersebut. Penyebab utama kendala melakukan perubahan, bukanlah kurang dan rumitnya perubahan itu, melainkan ketidakefektifan mengelola perubahan di masa transisi akibatkan kesalahan berpikir, terutama para pengusung perubahan itu.

Transisi adalah suatu proses dimana orang keluar dari dunia lama dan masuk ke dunia baru atau dimulai dengan suatu pengakhiran, dilanjutkan pada zona netral dan diakhiri suatu permulaan.

Permulaan sangat tergantung pada pengakhiran, dengan kata lain permulaan sangat ditentukan oleh kualitas pertaubatan, karena setiap pintu keluar adalah pintu masuk ke suatu tempat lain, namun sayangnya banyak orang tidak suka mengakhirinya, karena telah terperangkap dalam “Zona Kenyamanan”. Setelah berhasil melakukan pengekangan aktif guna mengakhiri nilai lama, selanjutnya perubahan memasuki masa  “Zona Netral” atau sering disebut masa delta atau masa penuh pengorbanan diri. Hal ini mengingatkan kita untuk menangguhkan atau tidak mudah larut dalam suatu kemewahan.

Anatole France seorang penulis Prancis mengatakan; “Semua perubahan, bahkan yang sangat dinantikan memiliki suasana sedih tersendiri; karena apa yang kita tinggalkan adalah bagian dari kita sendiri, kita harus mati untuk satu kehidupan sebelum kita dapat memasuki kehidupan baru atau kehidupan lainnya”. Namun harus diingat; “orang tidak akan menemukan benua baru tanpa membiarkan kehilangan pandangan ke pantai dalam waktu sekian lama”, demikian kata Andre Gige seorang novelis Prancis.

Hampir semua orang mengalami pengakhiran yang sulit, kehilangan psikologis yang sangat besar, merasa terombang-ambing, kecemasan meningkat dan motivasi merosot, mudah terpolarisasi karena cara dan pola pikir lama harus sudah ditinggalkan, tetapi cara dan pola pikir baru belum terbentuk atau belum dirasakan nyaman, dan akibatnya selalu timbul keraguan dan seringkali harus meminta petunjuk kepada yang lebih mengetahui dan lebih berpengalaman.

Zona netral adalah tempat yang sepi, orang merasa terisolasi, terlebih bagi mereka yang tidak memahami usaha perubahan yang sedang dilakukan. Oleh karena itu pereratlah hubungan dalam kelompok. serta bersabarlah dan cerdas menghadapi kesulitan.

Setelah melewati masa zona netral yang sangat kritis tersebut, selanjutnya perubahan awal yang sebenarnya atau permulaan baru segera dilakukan, tanpa terbebaskan dari permulaan yang membingungkan itu. Seorang pakar politik Inggris Wolter Bagehot mengatakan; “Salah satu perasaan sakit terbesar pada kemanusiaan adalah perasaan sakit karena gagasan baru.”

Setidaknya terdapat 4 (empat) hal yang harus dilakukan pada masa permulaan baru, yakni; (1) menjelaskan visi, misi dan tujuan. Hal tersebut dilakukan oleh pemimpin besar. Washington Irving mengatakan; “Pikiran orang besar memiliki tujuan, sedang pikiran orang biasa hanyalah angan-angan”; (2) memberikan gambaran hasil yang diharapkan; (3) membuat perencanaan; dan (4) memberikan peran.

Pertanyaannya adalah sudahkah kita mengelola masa transisi secara sungguh-sungguh, seperti; (1) menilai kesiapan transisi; (2) merencanakan transisi; (3) membentuk tim pemantau transisi; (4) melakukan bimbingan anggota organisasi di  era transisi, dan (5) memilih pemimpin yang kredibel di masa transisi, Boleh jadi belum semua kita persiapkan atau kita lakukan.

Akhirnya, sukses transisi kepemimpinan itu ditentukan oleh pemimpinnya melalui lima tindakan; sebelum transisi, selama pengakhiran, di zona netral, selama permulaan baru, dan setelah transisi (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah /

Kemerdekaan dalam Pembelajaran

Pemilu Menguji Integritas

Komunitas Pembelajar