Thuma’ninah dalam Pembelajaran

Oleh: Aswandi
 
BAPAK Sutarmidji selaku Walikota Pontianak mewacanakan, “Lima hari Sekolah (Senin-Jum’at)” tanpa mengurangi jam belajar, guna memberi waktu istirahat (mengembalikan dan memulihkan kebugaran) dan anak berkumpul bersama orang tua mereka. Sementara Sabtu dan Minggu tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Cepat kaji secara komprehenship agar segera direalisasikan kepada seluruh SDN dan SMPN di Kota Pontianak. Saya tidak mau menunggu terlalu lama”, dikutip dari Pontianak Post, 28 Juli 2015.

Wacana tersebut mendapat tanggapan dari masyarakat, diantaranya tanggapan dari bapak Heri Mustamin selaku Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, beliau mengingatkan agar jangan langsung diberlakukan, kaji dulu dari banyak aspek. Tanya juga psikolog anak. Mana yang lebih baik (Pontianak Post, 1 Agustus 2015), Penulis tambahkan, mengurus pendidikan itu, tidak semudah membangun jalan, mengurus parit dan merobohkan jembatan, dimana besok rusak, lusa dapat segera dibetulkan, tidak semudah membangun supermarket. Dalam mendidik berbeda, satu kata guru salah terucapkan (kekerasan verbal) berdampak pada kehancuran masa depan siswanya. Demikian pula melihat orang berubah, kitapun jangan latah, mau berubah tanpa memperhatikan apakah kebijakan tersebut berawal dari adanya permasalahan dan memperhatikan analisis faktor kelemahan, kekuatan, peluang dan tantangan atau lebih dikenal analisis SWOT secara mendalam. Dalam pengamatan penulis belum ditemukan peserta didik di kota Pontianak ini mengalami kejenuhan akibat lamanya sekolah, yang ada akibat lamanya bermain/maniah nonton tv, dan intensitas pertemuan anak dan orang tuanya bermasalah. Yang ada, peserta didik di kota ini masih terlalu santai dalam belajar, lebih banyak waktu digunakan untuk bermain, waktu bersama orang tua yang cukup lama itu tidak berlangsung secara efektif, efisien dan edukatif.   

Izinkan penulis memberikan tanggapan terhadap wacana 5 (lima) hari sekolah, yakni Senin hingga Jum’at. Sementara pada Sabtu dan Minggu tidak sekolah.
Setiap kebijakan semestinya diawali dari sebuah kajian akademik yang komprehensif dilakukan oleh ahlinya. Secara umum, sejak dulu sudah banyak kajian para ahli pendidikan, menyimpulkan bahwa terhadap hubungan simbiotik antara psikologi dan pendidikan, bahkan saat ini sangat dianjurkan agar proses pendidikan, khusus pembelajaran dilaksanakan dalam suasana atau atmosfir menyenangkan atau dalam suasana fisik yang bugar.
Pembelajaran yang menyenangkan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama yang terkait efektivitas proses pembelajaran itu sendiri, dan bukan karena faktor lama sekolah.

Asumsi teoretik bahwa kejenuhan belajar tidak karena lamanya hari sekolah, melainkan disebabkan oleh pembelajaran itu sendiri, seperti pembelajaran yang tidak menyenangkan, waktu jeda (thuma’ninah) dalam pembelajaran yang terlalu lama dan tugas yang menumpuk, daya seraf yang belum tercapai. Disamping itu faktor lingkungan sekolah yang kurang kondusif, berpotensi menyebabkan kejenuhan siswa berada di sekolah. Oleh karena itu sejak awal Ki Hajar Dewantara memperkenalkan lingkungan belajar sebagai taman yang menyenangkan untuk pembelajaran. Namun sayangnya, lingkungan dan atmosfir sekolah tidak lebih baik dari sebuah penjara, demikian kata Bernard Show, maka jawabannya terhadap fenomena ini tidak harus mengurangi hari sekolah.

Diantara faktor penting yang kurang mendapat perhatian adalah thuma’ninah dalam pembelajaran.
 Thuma’ninah sebagai rukun shalat adalah berdiam sejenak setelah bergerak dan seluruh anggota tubuh menetap (tidak bergerak). Para ulama menetapkan batasan waktu minimal thuma’ninah adaalah selama satu kali ucapan tasbih, dikutip dari Sayyid Sabiq (2010) dalam “Fiqih Sunnah”. Dalam mengerjakan shalat disertai thuma’ninah yang sempurna, akan dirasakan nikmatnya shalat sekalipun 23 rakaat bahkan semalaman tidak terasa jenuh. Sebaiknya, dalam proses pembelajaran disertai thuma’ninah lebih cepat, misalnya setiap 15 atau 20 menit pelajaran berlangsung dengan melakukan berbagai kegiatan berupa rileksasi, seperti berdiri, mengangkat kedua tangan, memutar kepala, dan bernyanyi. Jangan seperti sekarang ini, thuma’ninah baru dilakukan setelah siswa mengalami kejenuhan belajar, yakni 60-90 menit atau di saat istirahat ganti jam pelajaran.

David A. Sousa (2012) dalam bukunya “How the Brind Learns” menjelaskan bahwa tubuh kita memiliki siklus sirkadian (circadian rhythms) yang berhubungan dengan siklus istirahat, seperti tidur yang dikontrol oleh sepasang kluster kecil sekitar 10.000 neuron, terletak dibagian depan area limbik. Ritme sirkadian tersebut mengatur kemampuan kita untuk berfokus pada informasi yang masuk ke dalam otak. Pada saat istirahat atau tidur, otak meninjau kembali berbagai peristiwa dan tugas yang dikerjakan sepanjang hari. Kurang istirahat dengan kualititas rileksasi tinggi seperti saat tidur lelap dapat menghambat tumbuh kembang neuron baru. Dengan perkataan lain tidur atau istirahat yang baik sangat penting bagi proses pembelajaran, seperti penyimpanan memori jangka panjang. Riset membuktikan bahwa prestasi akademik siswa dipengaruhi oleh kualitas rileksasi yang diperolehnya karena istirahat atau tidur yang cukup. Para peneliti saraf dan psikiater menyimpulkan pada saat ini para remaja usia sekolah mengalami sindrom penundaan istirahat akibat banyak melakukan kegiatan di luar jam belajar, seperti mengerjakan PR, menonton TV, bermain video game, dan mengkonsumsi sejumlah besar kafein, dan zat peransang lainnya”.

Pendapat lain menegaskan bahwa, memperdalam rileksasi dan menenangkan pikiran setiap kali melakukan kegiatan adalah penting dan harus dilakukan. Dimasa lalu kegiatan rileksasi tersebut dikenal dengan sebutan; berdoa, meditasi, yoga dan kerasukan roh”, demikian Jean Marie Stine (2002) dalam bukunya “Double Your Brain Power”. Eric Jensen (2011) dalam bukunya “Brain Base Learning” menyatakan hal yang sama bahwa waktu yang disediakan setelah setiap pengalaman pembelajaran baru akan menguatkan memori seseorang. Jeda dapat distruktur; tidak sekedar waktu bebas, melainkan jeda dapat terdiri dari aktivitas penyerapan berupa bentuk lain dari pembelajaran alternative, seperti bernyanyi, bergerak, dan tarik nafas”.

Waktu guna berinteraksi antara orang tua dan putra-putrinya adalah penting karena sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun kepribadian. Namun yang terpenting bukan lamanya (quantity time) seorang anak berkumpul dengan orang tuanya, melainkan yang penting adalah kualitas waktu (quality time) dalam berinteraksi. Meskipun hanya satu hari (Minggu), akan jauh lebih baik atau bermakna jika digunakan secara efektif dan efisien. Kasus Finlandia sebuah negara dengan predikat pendidikan terbaik dunia, ketika anak mereka di rumah, tidak disibukkan lagi dengan tugas Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah, dan guru diharamkan memberikan PR tersebut, karena dikhawatirkan mengganggu waktu yang semestinya digunakan oleh orang tua bersama anak-anaknya. Ketuntasan belajar sudah harus terselesaikan sebelum siswa mereka pulang dari sekolah. Fakta lainnya, Benjamin Carson dan Palmer, anak fakir miskin yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Di hari Senin hingga Sabtu setiap harinya, ketika orang tua mereka pergi bekerja anaknya belum bangun tidur, pulang dari bekerja, anak mereka sudah tidur. Kesibukan orang tuanya mencari nafkah membuat mereka hanya dapat berkomunikasi saat mereka libur yakni Minggu. Sungguhpun demikian dua anak tersebut menyandang predikat putra terbaik Amerika Serikat dalam usia yang masih sangat muda, yakni 27 tahun mencapai gelar doktor (jenjang tertinggi di perguruan tinggi).

Jika lima hari sekolah diterapkan, orang tua, sekolah dan pemerintah lebih disibukkan oleh persoalan non-akademik yang sering kali lebih dianggap penting atau sumber keributan dari urusan pendidikan dan pembelajaran, seperti mengurus makan siang siswa. Barangkali ada diantara pembaca justru merasa khawatir terhadap keamanan anaknya karena libur di hari Sabtu itu yang selama ini anak mereka terjaga dengan baik di sekolahnya. Ditanyakan kepada penulis, bagi sekolah yang telah memberlakukan lima hari sekolah, apakah melanggar hukum, Jika dilakukan taat asas menerapkan kurikulum yang berlaku, baik ranah; tujuan, materi termasuk lama belajar dan cara mengajar sepanjang tidak melanggar, menurut penulis dapat dibenarkan.
Jadi, mengurangi hari sekolah dari 6 (enam) hari menjadi 5 (lima) hari di kota Pontianak dimana kesenjangan antar siswa dan sekolah masih sangat lebar, maka wacana tersebut bukanlah solusi yang bijak.

Mengakhir opini ini, penulis sarankan; (1) pemerintah dan penyelenggara pendidikan tetap memperlakukan enam hari sekolah; lima hari sekolah (Senin hingga Jum’at) digunakan untuk pembelajaran efektif sebagaimana ketentuan kurikulum, sementara Sabtu digunakan untuk berbagai kegiatan ektra kurikuler berupa penyaluran bakat, minat dan penalaran bagi jenjang yang lebih tinggi, pramuka dan PMR, boleh saja melibatkan orang tua dalam kegiatan ektra kurikuler tersebut; (2) bagi guru, Sabtu memberi kesempatan kepada merekaa untuk melakukan control pembelajaran, barangkali ada diantara siswa yang memerlukan remedial demi ketuntasan belajarnya, mengembangkan profesionalisme guru, dan merancang kurikulum; (3) jika tetap ingin menerapkan 5 hari sekolah, maka penulis usulkan agar dikaji secara mendalam, kemudian diuji coba untuk beberapa sekolah yang telah siap sambil dilakukan monitoring dan evaluasi. Jika ada manfaatnya atau membawa kemajuan, implementasinya diperluas ke sekolah lain pada waktu berikutnya (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Ketua BAP S/M Kalbar)