Tersandra Pola Pikir

Opini Ilmiah


Rabu, 07 Mei 2014 - 08:05:44 WIB | dibaca: 1182 pembaca



Oleh: Aswandi

JOHN Naisbitt (2007) dalam bukunya “Mindset” mengatakan bahwa pola pikir (mindset) ibarat tanah dimana hujan (informasi) turun dan tanaman yang tumbuh berbeda-beda tergantung pada pola pikir kita. Hasilnya: kesimpulan yang berbeda pula. Pola pikir menentukan pemahaman mengenai informasi yang diperolehnya dan bagaimana reaksinya. Intinya ada pada “Bagaimana kita menerima dan merespons atau merekonstruksi informasi itu”.

Carol S. Dweck (2007) dalam bukunya “Change Your Mindset Change Your Life” mengatakan bahwa pola pikir (mindset) adalah kepercayaan atau keyakinan. Perubahan kepercayaan atau keyakinan dalam diri manusia, bahkan kepercayaan atau keyakinan paling sederhana sekalipun dapat merubah pola pikir dan memberi pengaruh bagi perubahan perilaku.

Orang bijak berkata, “Perubahan bukan terletak pada apa yang kita lakukan, melainkan terletak pada bagaimana kita memikirkan dan melakukannya”. Bukankah banyak orang melakukan hal dan usaha yang sama, tetapi diantara mereka mendapatkan hasil yang berbeda. Edward De Bono (2007) dalam bukunya ”Teach Your Child How to Think” menegaskan bahwa banyak orang cerdas, tetapi tidak mampu berpikir dengan baik atau tersandra pola pikir dalam jebakan kecerdasan dan kemampuan berpikir buruk.

Uraian di atas mengindikasikan akan pentingnya pola pikir (mindset) tersebut bagi keberadaan atau eksistensi umat manusia. Rene Descartes mengatakan, ”Aku ada karena aku berpikir”. Dengan kata lain, ”Kita menjadi seperti apa yang kita pikirkan”. Nopoleon Hill menegaskan “Kemiskinan atau kekayaan karena pola pikir”. Sama halnya, kemajuan atau kemunduran, kesuksesan atau kegagalan juga karena pola pikir. Oleh karena itu, Mahatma Ghandi mengingatkan; ”Perhatikan pikiranmu, ... karena ia akan menjadi taqdirmu”

Harun Yahya (2002) dalam bukunya “Ever Thought about The Truth”, memberi tambahan penjelasan dengan sebuah pertanyaan utama, yakni; “Apakah dunia luar benar-benar ada, atau ia hanya merupakan sesuatu yang diproduksi otak kita?.

Apa yang dipersepsi sebagai dunia luar sebenarnya merupakan serial dari sinyal-sinyal elektrik. Kita sebenarnya bukan melihat dengan mata, melainkan dengan pusat penglihatan, dan ini bertentangan dengan yang diketahui selama ini. Jadi, otak tak pernah melihat objek itu sendiri, melain sinyal-sinyal elektrik dari objek. Definisi kita terhadap realitas atau kenyataan sering dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya dan pengakuan orang lain tentang objek tersebut.

Demikian pula indera manusia lainnya dalam memahami realitas. Semua objek yang kita lihat, sentuh dan raba, hanyalah sinyal-sinyal yang diproduksi dan diinterprestasi dalam otak dan pikiran kita. Dunia luar yang diperkenalkan kepada kita oleh indera kita adalah sekumpulan kopi berbentuk sinyal elektrik. Kita tidak dapat mencapai objek yang sesungguhnya melalui indera kita, jadi kita tak akan pernah bisa yakin apakah gambaran dunia yang terbentuk di dalam otak benar-benar merupakan refleksi dari dunia yang sesungguhnya.

Cara kita mempersepsi dunia luar didasari hanya oleh persepsi dan interpretasi otak kita yang unik. Jadi penglihatan tergantung pada siapa yang mempersepsinya, dan objek bukanlah apa yang kita lihat, sentuh dan dengar dari objek itu. Semua sensasi yang datang dari salah satu indera kita bukan bagian dari dunia luar, tetapi terjadi di dalam pikiran kita dimana sensasi itu diciptakan.

Dunia yang kita ketahui sebenarnya adalah dunia di dalam pikiran kita dimana ia didesain, diberi suara dan warna atau dengan kata lain diciptakan. Jadi kita hidup di dalam dunia ini yang ada di kepala kita, dimana kita tidak dapat melangkah sedikitpun lebih jauh dan kita keliru dalam menganggap ini adalah dunia luar yang sebenarnya. Ini bukan interpretasi filosofis yang baru, ini adalah bukti nyata dari bidang ilmu pengetahuan.

Ibrahim El Fiky menjelaskan hukum pikiran, dimana seseorang mendapat informasi dari apa yang ada dalam pikirannya, ia tidak mampu memahami realitas yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Beliau selalu mengingatkan agar berpikir positif karena informasi yang disampaikan ke otak dan pikiran kita positif pula, demikian sebaliknya.

Stephen Hawking (2010) dalam bukunya ”The Grand Design” mengatakan hal yang sama bahwa ”Tiada konsep realitas (kenyataan/wujud) yang independen dari gambaran atau teori yang ada dalam pikiran atau persepsi kita”;

John Kehoe (2012) dalam bukunya ”Mind Power: menyatakan bahwa pikiran menciptakan realitas. Segala peristiwa dipengaruhi dari apa yang kita bayangkan, kita visualisasikan, kita hasratkan, kita inginkan atau kita takutkan, serta mengapa dan bagaimana gambar yang ditetapkan dalam pikiran bisa dibuat menjadi kenyataan. Kemanapun kita pergi, apapun yang kita lakukan, pikiran-pikiran kita menciptakan realitas kita.

Dikatakan bahwa, ”Kebahagian tidak tergantung pada siapa anda atau apa yang anda miliki, melainkan hanya tergantung pada apa yang anda pikirkan”, demikian kata Dale Carnegie.

Peter F. Drucker, pakar manajemen mengatakan bahwa ”Masa depan adalah milik mereka yang memikirkannya hari ini. Dengan perkataan lain, masa depan tertanam di masa kini”. Beliau ingin menegaskan kembali bahwa apa yang kita yakini dan pikirkan, itulah yang kita dapatkan.
William James menambahkan, “Manusia dengan mengubah aspek dalam fikirannya, bisa mengubah aspek luar kehidupannya”. Kemudian Virgil mengatakan hal yang sama “Mereka bisa berubah karena mereka berfikir mereka bisa”.

Namun sayangnya, Disadari atau tidak, dunia hari ini; telah dan sedang mengalami perubahan. Era baru telah lahir yang mengharuskan pola pikir (mindset) baru sebagaimana ditegaskan oleh dua orang pakar pola pikir Edward De Bono dan Richard A. Slaughter sebagaimana tertulis dalam bukunya ”New Thinking for A New Millenium”.

Namun sayangnya, kehadiran era baru tidak selalu diikuti pola pikir baru. Albert Einstein mengatakan, ”Semua sudah berubah kecuali cara atau pola pikir kita yang masih stagnan”. Pikiran kita sebagian besar (90%) masih tertidur nyeyak, dan pikiran kita masih begitu membatasi penglihatan kita. Peter F. Drucker mengingatkan; “Bahaya terbesar adalah berpikir cara kemarin yang masih digunakan untuk menyelesaikan persoalan hidup hari ini”. Howard Gardner (2000) dalam bukunya “Unschool Mind” menegaskan bahwa pendidikan belum menyekolahkan pikiran, Fakta terkini, satu kendala implementasi kurikulum 2013 adalah pola pikir (mindset) pendidik dan tenaga kependidikan yang belum mengalami perubahan, mengajar masih bersifat status quo sebagaimana dahulu mereka diajar. Artinya, saat ini kita masih berada dalam kondisi “Tersandra Pola Pikir”.
Para pakar pola pikir memiliki keyakinan yang sama bahwa pola pikir dapat diubah dan setiap orang dapat keluar dari sandra pola pikir itu. Karena keterbatasan ruang opini ini, maka jika pembaca berkenan tema mengenai “Merubah Pola Pikir” tersebut dapat disampaikan pada opini edisi berikutnya (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pemuda Pemilik Masa Depan

Memulai Perubahan

Kekerasan Seksual pada Anak

Larangan Menyisakan Makanan

Buku Perubah Peradaban