Tanjungpura Nama Kampusku

Opini Ilmiah


Senin, 11 Mei 2015 - 10:30:23 WIB | dibaca: 958 pembaca



Oleh: Aswandi
 
DIES Natalis Universitas Tanjungpura ke- 56 tahun 2015 mengagendakan satu kegiatan yakni mengunjungi makam raja Tanjungpura, sebuah nama besar yang tidak asing bagi masyarakat Kalimantan Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya. Nama besar tersebut menjadi nama sebuah universitas ternama dan kebanggaan masyarakatnya, yakni Universitas Tanjupura (Untan) dan nama Pangdam Tanjungpura.

Keberadaan para pahlawan yang terkubur di Makan Raja Tanjungpura tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya. Sejarah mengajarkan kepada kita cara menentukan pilihan untuk mempertimbangkan berbagai pendapat. Sejarah juga dapat mempersatukan atau menciptakan persaudaraan diantara kita. Sejarah telah terbukti mampu mengajarkan kepada kita berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, bahkan sejarah mengajarkan kepada kita mengenai apa yang tidak dapat kita lihat.

Cicero salah seorang sejarahawan yang hidup satu abad sebelum masehi mengatakan, “Jika kita tidak tahu apa yang terjadi sebelum kita lahir, berarti kita tetap sebagai anak kecil”. Nilai sejarah menjadi sangat penting karena sering diulang dan terulang dalam modus yang berbeda, ia mengajarkan dan mengingatkan kepada kita, misalnya setiap ada kemajuan, ada perjuangan dan pengorbanan, bahkan selalu ada pecundang atau penghianat di sekelilingnya, artinya sejarah itu bukan sekedar fakta/data semata, melainkan yang terpenting dari sejarah itu adalah interpretasi atau penilaian, kepedulian dan kewaspadaan.
Bung Karno mengumandangkan sebuah slogan “Jas Merah”, yang bermakna bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya atau tidak melupakan jasa para pejuang dan pahlawannya.

Akhir-akhir ini, disaat semua bangsa di dunia ini membicarakan “Daya Saing Bangsa”. membangun kesadaran sejarah bangsa di negera tersebut semakin menguat karena diyakini terdapat penguh signifikan kesadaran sejarah terhadap daya saing bangsa. Terbukti bangsa yang melupakan sejarahnya memiliki daya saing rendah, Misalnya, Ketika Amerika Serikat menyaksikan pesawat luar angkasa Sputnik milik Rusia diluncurkan, kemunduran dan keterpurukan prestasi akademik siswanya bidang matematika, sains dan bahasa, jauh lebih rendah dibanding prestasi akademik yang dicapai siswa Rusia dan Asia.  Negara adi daya tersebut, memandang negerinya dalam keadaan bahaya atau “Nation at Risk”. Berkumpul para ilmuan guna mencari jawabannya. Dari pertemuan tersebut diyakini faktor menurun dan melemahnya daya saing bangsanya adalah akibat melemahnya rasa kebanggaan warga negara dan para pelajar terhadap bangsanya. Solusinya, bukan upaya memperbaiki proses pembelajaran bidang studi MIPA tersebut, melainkan menambah dan mewajibkan siswanya untuk mempelajari sejarah bangsanya.

Menurut Gunawan Muhammad, hanya di negeri ini, nama pahlawan dan kerajaan diabadikan menjadi nama universitas atau perguruan tinggi, misalnya Universitas Gajah Mada di Yogyakarta, Universitas Hasanudin di Makasar, Universitas Diponegoro di Semarang, Universitas Tanjungpura di Pontianak, dan masih banyak yang lainnya.

Penggunaan nama pahlawan dan nama kerajaan pada setiap universitas hanya sebatas nama saja tanpa peduli hakikat dari penggunaan nama para pahlawan dan kerajaan tersebut. Semestinya nilai-nilai kejuangan dan pengorbanannya diajarkan kepada peserta didiknya, Jangankan nilai perjuangan dan pengorbanan untuk diajarkan, siapa sesungguhya raja, pahlawan dan kerajaan tersebut pun tidak diperkenalkan secara utuh dan jelas. Penulis memiliki keyakinan, banyak mahasiswa dan alumni Universitas Tanjungpura (Untan) tidak dan belum mengetahui dan mengenal kerajaan Tanjungpurna, siapa nama rajanya dan bagaimana perjuangannya, demikian pula mahasiswa dan alumni dari sebuah universitas lain yang menggunakan nama pahlawan. Kalau demikian hal, apa maksud dan makna dari penggunaan nama pahlawan dan kerajaan tersebut. Semestinya kita menghayati apa kata ahli sejarah bahwa “Pelajaran terpenting ketika kita ingin menghargai para raja dan pahlawan tidaklah sekedar memperkenalkan fakta dan data saja, melainkan yang terpenting adalah interpretasi terhadap fakta dan data tersebut”.

Selama ini, sebagian besar penghargaan kita terhadap para raja, pahlawan, dan kerajaan baru sebatas memperingati dan mengenang secara serimonial peristiwa sejarah tersebut setahun sekali, mengabadikan nama para raja, pahlawan dan kerajaan sebagai nama jalan, tugu, gedung, universitas, serta memberi sedikit penghasilan kepada para pejuang atau veteran dan sebagainya.

Kesadaran pentingnya sejarah lokal mulai disemai dan ditumbuhkan kembali oleh prof. Thamrin Usman DEA selaku rektor Untan. Sebelum terpilih menjadi rektor Untan kedua kalinya, beliau telah merencanakan dalam program kerjanya memberi penghargaan kepada para raja dan tokoh masyarakat yang telah berjasa membangun daerah ini serta memberi kesempatan kepada putra-putri terbaik di daerah ini, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi melanjutkan studinya di Untan tercinta. Pada dies natalis tahun 2015 ini, tepatnya 9 Mei 2015 beliau bersama pimpinan universitas dan para dekan di lingkungan Untan mengunjungi Makan Raja Tanjungpura yang berada di Kabupaten Ketapang dan Alhamdulillah kehadiran rektor dan rombongan disambut dan diterima baik oleh pemerintah daerah Kabupaten Ketapang yang diwakili oleh bapak Wakil Bupati, dan masyarakat di desa Tanjungpura dimana lokasi makan itu berada.

Dari pengalaman berkunjung ke Makan Raja Tanjungpura, penulis secara pribadi berpendapat agar situs sejarah ini dibangun lebih baik lagi oleh kita semua.

Ke depan, nilai kejuangan para raja dan pahlawan, seperti para raja dari kerajaan Tanjungpura ini harus diinternalisasikan atau diajarkan setidaknya kepada para peserta didik di semua jenjang pendidikan melalui “Muatan Lokal” yang terintegrasi ke dalam pelajaran sejarah dan ke berbagai mata pelajaran lainnya di sekolah dan di perguruan tinggi.

Namun, penulis merasakan sendiri ternyata menginternalisasikan dan/atau mengajarkan nilai kejuangan para raja dan pahlawan tersebut tidaklah mudah akibat kurang dukungan dari masyarakat, terutama kurangnya dukungan dari pemerintah sebagaimana kekecewaan penulis terhadap dubes Indonesia di Jepang dan WNI di sana yang tidak tahu adanya peristiwa kekejaman Jepang di daerah ini yang lebih dikenal “Mandor Berdarah”menelan lebih dari 20.000 korban dan  memiliki kontribusi besar terhadap kemunduran daerah ini di banding daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka sangat memahami peristiwa kekejaman Westerling di Makasar yang menelan 5.000 korban atau jauh lebih sedikit. Dan penulis salah seorang yang ikut mempersiapkan lahirnya peraturan daerah (perda) hari bergabung daerah Kalbar untuk  mengingat  korban kekejaman Jepang tersebut. Sudah sejak lama penulis usulkan agar peristiwa tersebut menjadi muatan lokal yang wajib diajarkan dan dipelajari di sekolah, namun kenyataannya sampai hari ini keinginan tersebut hanya menjadi wacana yang belum juga terwujudkan (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)



Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri: SBMPTN 2015

Sekolah sebagai Taman

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2015

Memilih Bupati Mencari Solusi

Penguatan Insan Pendidikan