Takut Menjadi Pemimpin

Opini Ilmiah


Selasa, 08 April 2014 - 11:01:09 WIB | dibaca: 918 pembaca



SAAT ini banyak orang ingin menjadi pemimpin, bahkan ada diantara mereka tidak sabar menunggu datangnya pemilu 9 April 2014, faktanya mereka telah melanggar ketentuan penyelenggaraan pemilu, seperti kampanye sebelum waktunya dan memasang baliho di tempat terlarang. Tentu saja setiap ada keinginan selalu ada alasannya, barangkali mereka berkeyakinan bahwa menjadi pemimpin adalah menjadi penguasa dengan segala fasilitas yang disiapkan untuknya secara gratis, belum lagi dana aspirasi yang akan diterimanya, dan otoritas memerintah yang dimilikinya. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian, menjadi pemimpin di negara ini banyak tidak nyamannya, anehnya banyak orang rebutan. Bermacam cara dilakukan untuk memperoleh dan mempertahankan jabatan pemimpin tersebut, seperti; datang ke dukun atau para normal, beli ijasah palsu dan sejenisnya. Mereka lupa pada hakikat menjadi seorang pemimpin sebagai seorang pelayan.

Fenomena enaknya menjadi penguasa telah diingatkan oleh para khalifah; Abu Bakar Siddiq ra mengatakan bahwa siapapun dia, para penguasa itu menjadi kuat karena kekuasaan yang diberikan kepadanya, faktanya banyak orang, baik yang berpangkat maupun yang berduit menjaga pemimpinnya. Kemudian mereka dengan sangat mudah menjadi lemah tak berdaya setelah kekuasaan dicabut darinya. Oleh karena dapat dipahami apabila KPK menangkapnya setelah mereka pensiun atau tidak berkuasa lagi dimana banyak orang meninggalkannya. Mereka lupa pesan moral dari Umar bin Abdul Aziz bahwa semua pemimpin telah menitipkan sebelah kakinya di neraka. Sebaliknya, mereka yang hari ini berada dalam posisi lemah, termarginalkan dan sering kali terhina akan menjadi kuat dan terhormat dampak dari kekuasaan yang diberikan kepadanya.         .
Di tengah-tengah efouria atau “kemarukan” ingin menjadi pemimpin, masih ditemukan ada segelintir orang yang takut menjadi pemimpin; seorang isteri minta dicerai, jika suaminya mencalonkan diri menjadi kepala desa. Pada saat konvensi calon presiden yang diselenggarakan oleh Partai Demokrat, bapak Dahlan Iskan selaku kandidat presiden bercerita bahwa isteri beliau takut mengenai rencana suaminya mencalonkan diri menjadi presiden pada Pemilu 2014. Ketakutan isteri beliau sangat beralasan dan mudah dipahami, karena ia saksikan dan dengar sendiri pemberitakan banyak pemimpin dan pejabat negara ditangkap sebagai sebuah bentuk pertanggung jawaban telah terjadi korupsi, baik yang dilakukannya sendiri maupun yang dilakukan oleh bawahannya, belum lagi banyaknya calon pemimpin yang gagal di setiap kali pemilu dan pilkada masuk rumah sakit jiwa karena terindikasi stress berat sebagaimana tercatat dan dilaporkan KIPP; RSJ Grogol dan RSUD Duren Sawit di Jakarta pada Pileg 2009 menyiapkan bangsal untuk 7276 orang caleg gila. Menjelang pemilu 2014 yang akan datang, RSJ Menur Surabaya telah menyiapkan 300 tempat tidur dan 10 kamar paviliun puri anggrek guna mengantisipasi terjadinya caleg gila karena gagal pemilu 2014 nanti, RSJ Ernaldi Bahar Palembang dan RSJ Singkawang melaku hal yang sama.

Fenomena yang sama telah terjadi sejak lama,Thabrani dalam kitabnya “Kitab al-Kabir wa al-Ausath” meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda, Dahulu, di kalangan umat sebelum kalian ada seorang raja sadar diri. Ketika sedang duduk di singgasana kerajaan yang dipimpinnya, ia sering berfikir bahwa sebuah kekuasaan akan berakhir dan telah mengalihkan perhatiannya dari beribadah kepada Allah SWT.

Pada suatu malam, ia pergi mengendap-ngendap ke luar dari istananya. Saat pagi tiba, ia sudah sampai di kerajaan lain dan memilih tinggal di pesisir pantai. Di tempat itu, ia bekerja sebagai pencetak batu. Ia bisa makan dan bersedekah dari hasil jerih payahnya itu.Keadaan itu berlangsung sampai prihal dirinya, ibadahnya dan keutamaannya terdengar oleh raja dari daerah lain. Sang raja pun memanggilnya untuk menghadap, namun ia menolak. Sang raja menyuruh orang mendatanginya untuk kedua kalinya, namun ia tetap menolak untuk datang.
Suatu hari raja itu pun datang sendiri, tapi orang itu lari dan menghindar, “Wahai hamba Allah mengapa kamu lari dan selalu mengindar, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu”.
Sang raja bertanya, siapa gerangan dirimu, Orang itu berkata ”Aku adalah si Fulan, seorang penguasa di suatu kerajaan, setelah menjadi raja aku baru menyadari bahwa semua yang aku miliki akan berakhir. Semua itu telah mengalihkan perhatianku dari beribadah dan dekat dengan TuhanKU. Dulu aku taat, sekarang aku lalai. Dulu aku jujur, sekarang aku suka berbohong. Dulu aku zuhud dan sederhana, sekarang aku sombong, congkah dan banyak lagi kebaikan kuganti dengan kejatahan bergelimang dosa, Menjelang kematianku ini, maka lebih baik  kutinggalkan kerajaanku dan datang ke tempat ini untuk lebih banyak beribadah kepada Allah SWT.
Sang raja berkata, “Tahukah kamu, aku sedang merasakan apa yang kamu rasakan itu, bahkan lebih dari apa yang kamu rasakan”.

Mengakhiri opini ini, penulis sampaikan, terutama kepada para calon pemimpin, ”Jika anda ingin menjadi pemimpin sukses dan selamat, maka dari sejak awal pastikan jawaban Anda pada dua pertanyaan penting, yakni mengapa (why) dan bagaimana (how) kepemimpinan yang akan Anda jalani. Niat Anda menjadi pemimpin harus jelas, yakni ingin beribadah kepadaNya dalam bentuk memberi pelayanan, kemudian raihlah posisi menjadi pemimpin itu dalam semangat “Bersatu, Berjuang, Menang” (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Muhammad Pemimpin Umat

2014 Tahun Kepemimpinan

Sosok Utuh Guru Professional

Mendidik dengan Cinta

Edaran Dirjen Dikti no.177/2014 tentang Usulan Kenaikan Pangkat/Jabatan Dosen