Suksesi Kepemimpinan

Oleh: Aswandi
 
SUKSESI kepemimpinan adalah penting bagi semua institusi agar tidak terjadi matinya kepemimpinan, kata Barbara Kellerman (2012) dalam bukunya “The End of Leadership” yang ditandai telah hilang kepercayaan pengikut akibat dusta diantara mereka dan kehilangan harapan pengikut terhadap pemimpinnya. Wafatnya seorang pemimpin tidak berarti matinya kepemimpinan. Demi keberlangsungan hidup sebuah institusi, kepemimpinan harus tetap hidup.

Tidak hanya itu, sejarah mencatat tidak sedikit suksesi kepemimpinan umat ini berlumur darah dan mengorbankan banyak nyawa dalam sekejab. Pada Kekhalifahan Ar-Rasidin tercatat, hanya Abu Bakar Siddiq ra saja yang wafatnya tidak terbunuh, selain itu tidak sedikit negarawan di dunia ini kekuasaan dan kepemimpinannya berakhir karena mereka dibunuh dan kepemimpinan selanjutnya ditangan para monster (hantu-hantu bangkit).

Oleh karena itu keberlanjutan kepemimpinan harus tetap terjaga, dan proses suksesi kepemimpinan harus berjalan efektif. Memperhatikan pentingnya suksesi kepemimpinan, maka sistem pemerintahan di banyak negara membolehkan jabatan kepemimpinan untuk dua periode secara berturut-turut, setelah itu baru berganti pemimpin baru agar seorang pemimpin selain menjaga eksistensi institusi juga tidak mengklim institusi yang dipimpinnya itu adalah hak miliknya yang bisa saja diwariskan kepada anak cucunya. Itulah sebabnya, menjelang berakhirnya masa orde baru, bapak Amien Rais bersuara lantang membicarakan tema “Suksesi Kepemimpinan Nasional” yang pada waktu itu sangat tabu, beresiko tinggi, mereka yang menggagas dan membicarakannya dipandang sebagai pencuri kekuasaan yang harus dimusnahkan dari muka bumi Indonesia.

Dari hari ke hari aroma busuk di sekitar suksesi kepemimpinan dalam banyak jabatan politik, pemerintahan dan pelayanan publik lainnya sudah mulai tercium.
sepertinya bau busuk itu semakin menyengat di masa yang akan datang dimana kita disibukkan kembali dengan adanya suksesi kepala daerah.
Carut marut yang terjadi sekitar suksesi kepemimpinan, dari dulu hingga sekarang ini akibat syahwat kekuasaan yang tidak terkendali dan tidak memahami secara benar tentang hakikat dari kekuasaan dan kepemimpinan itu sendiri sehingga yang terjadi salah tafsir tentang suksesi kepemimpinan. Penulis mengamati pemahaman mereka tentang suksesi kepemimpinan ini sebatas suksesi kekuasaan saja, artinya bagaimana kekuasaan itu tetap menjadi milik pribadi dan kelompoknya. Dan praktek kepemimpinan dimaknai secara transaksional, “Aku Mendapat Apa?”.   

Misalnya, suksesi kepemimpinan Kapolri adalah pembelajaran penting bagi rakyat Indonesia sekarang ini. Presiden RI, DPR-RI dan Kompolnas tidak boleh salah dan harus bertanggung jawab dalam memilih Kapolri baru pengganti Jenderal Sutarman. Pepatah Cina mengatakan, “Kesalahan yang tidak dikoreksi, maka kesalahan itu akan menjadi kebenaran”. Mahatma Gandhi menambahkan, “Satu kesalahan ditoleransi, maka seribu kesalahan baru diundang. Hal tersebut secara pasti mengganggu efektivitas kepemimpinan”.

Secara teoretik, suksesi kepemimpinan dijelaskan berikut ini. Grenny, Patterson, Maxfield, McMillan dan Switzier (2013) dalam bukunya “Influencer” mengatakan bahwa kepemimpinan adalah pengaruh, artinya seseorang disebut “Pemimpin” karena kecakapannya dalam mempengaruhi orang lain untuk mengubah perilaku mereka guna mendapatkan hasil yang penting. Leroy Eimes menyatakan “A leader is one who sees more than others see, who sees farther than others see, and who sees before others see”.

John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” mengatakan ukuran sejati kepemimpinan adalah pengaruh (influence), tidak lebih, tidak kurang”. Dan “Jika pemimpin sejati berbicara, orang akan mendengarkannya”.
Jadi kepemimpinan berbeda dengan kekuasaan. Kesalahan dalam memahami makna dari kedua konsep tersebut berdampak pada implementasi kepemimpinan menjadi kurang efektif. 
John C. Maxwell (2012) dalam bukunya “5 Levels of Leadership” justru mendudukkan kekuasaan berada di level terendah dari kepemimpinan dimana orang lain mengikuti pemimpinnya karena keharusan atau jabatan itu. Sementara level kepemimpinan tertinggi dimana orang lain mengikuti pemimpinnya karena jati diri atau integritas sang pemimpin untuk melayani pengikutnya, bukan untuk dilayani. Perhatikan pemimpin saat ini, lebih banyak minta dilayani dari pada melayani (servant leadership).

Ken Blanchard dan Mark Miller (2010) dalam bukunya “The Secret” menyatakan bahwa pertanyaan utama yang terus menerus pemimpin ajukan kepada dirinya sendiri ialah “Apakah saya seorang pemimpin yang melayani atau seorang pemimpin yang melayani diri sendiri”.

Kepemimpinan sejati sama sekali tidak ada hubungannya dengan jabatan seseorang dalam organisasi. Bukankah banyak pemimpin buruk yang kehadirannya tidak memberi manfaat, namun memiliki jabatan yang tinggi, sebaliknya ada pemimpin baik, namun tidak memiliki jabatan sama sekali. Berdasarkan tesis di atas, menjadi beralasan jika ada anggapan di masyarakat bahwa “Megawati merupakan presiden Indonesia yang sesungguhnya saat ini. Sementara Jokowi hanya menjalankan perintah puteri proklamator Indonesia”, dikutip dari Pontianak Post, 25 Januari 2015. Penulis berpandangan semestinya hal tersebut di atas tidak boleh terjadi. Fenomena kepemimpinan tersembunyi (hidden leadership) atau kepemimpinan siluman seperti itu juga terjadi di banyak negara, tidak terkecuali negara adi daya Amerika Serikat. Siapapun presiden Amerika Serikat, kekuasaannya dipengaruhi oleh sebuah pemerintahan bayangan di bawah kendali jaringan Yahudi. 
John C. Maxwell (2012) dalam bukunya “Qualities of Leadership” menyatakan bahwa kualitas kepemimpinan seseorang ditentukan karena; karakter, karisma, komitmen, komunikasi, kompetensi, keberanian, pengertian, focus, kemurahan hati, inisiatif, mendengarkan, semangat tinggi, sikap positif, problem solver, hubungan, tanggung jawab, kemapanan, disiplin diri, kepelayanan, sikap mau belajar, dan visioner. Sementara Pouzner (2005) dalam bukunya “Credibility” mengatakan terdapat empat prediktor utama kepemimpinan, yakni; jujur, visioner, inspiratif dan cakap.

Dalam hukum suksesi kepemimpinan, dibutuhkan seorang pemimpin untuk mengangkat seorang pemimpin. Dan “Nilai langgeng seorang pemimpin diukur dari suksesi kepemimpinannya’. Kepada setiap pemimpin selalu diingatkan bahwa satu-satunya cara untuk menjadikan diri anda tak tergantikan sebagai seorang pemimpin adalah dengan cara menjadikan diri Anda dapat digantikan.

Pepatah lama mengajarkan suksesi kepemimpinan itu, “Learning today, Leader tomorrow”, kepemimpinan transformatif semakin dibutuhkan. Warren Bennis seorang pakar dimana sebagian dari hidupnya dihabiskan untuk melakukan riset kepemimpinan, dan akhir menyimpulkan bahwa kepemimpinan itu adalah kepengikutan. Pemimpin yang baik selalu lahir dari pengikut yang baik. Namun sayangnya banyak pengikut tidak sabar dan tidak sadar akan pentingnya menjadi pengikut yang baik itu. Faktanya selama ini banyak pengikut senang menjatuhkan kredibilitas pimpinannya; tidak loyal, memfitnah, menggosif dan sejenisnya menjadi tugas kesehariannya, sementara tugas pokok yang menjadi kewajibannya terabaikan (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)