Semua Karena Dipelajari

Opini Ilmiah


Jumat, 04 Juli 2014 - 14:31:44 WIB | dibaca: 460 pembaca



Foto: di Ruang Konferensi Pers Real Madrid FC

Oleh: Aswandi

SUKSES atau gagal, baik atau buruk, dan seterusnya dalam kehidupan ini, semua tergantung dari proses yang dipelajari, kecuali qadha dan qadhar.
Bukankah setiap orang dari sejak dalam kandungan ibunya, dari saat pembuahan atau pertemuan antara ovum dan sperma telah berjuang keras menjadi pemenang untuk hidup menjadi calon manusia. Mereka hadir ke dunia dalam keadaan menangis, tetapi orang di sekitarnya justru tersenyum, terutama ibu yang mengandung dan melahirkannya dengan susah payah.

Asumsi penulis bahwa Allah Swt tidak menciptakan satupun rahim pada seorang ibu yang di dalamnya tersimpan calon pembunuh. Semua anak manusia lahir dalam kesucian. Kemudian setelah lahir, bertumbuh dan berkembang ada diantara anak manusia itu melakukan kekerasan terhadap orang lain yang tidak diinginkan terutama oleh orang tua, guru dan kita semua. Hal ini sebagai dampak dari sebuah proses yang dipelajarinya.

Buckmenster Fuller mengatakan, semua anak terlahir genius, tetapi dengan begitu cepat (enam bulan pertama) orang dewasa memupuskan kejeniusan mereka.

Survei memperlihatkan bahwa 82% anak yang masuk sekolah pada usia 5 atau 6 tahun memiliki citra positif tentang kemampuan belajar mereka sendiri, tetapi angka tinggi tersebut menurun secara drastis menjadi hanya 18% ketika mereka berusia 16 tahun. Konsekwensinya 4 dari 5 atau 80% remaja dan orang dewasa memulai pengalaman belajarnya yang baru dengan perasaan tidak menyenangkan”, dikutip dari Dryden dan Vos (2000) dalam bukunya “The Learning Revolution”
Sarlito Wirawan Sarwono (2012) dalam risetnya tentang “Terorisme di Indonesia” menyimpulkan bahwa menjadi teroris di Indonesia adalah sebuah proses yang dipelajari, bukan dilakukan oleh mereka yang mengalami gangguan jiwa atau psikopat. Karena perilaku kekerasan tersebut adalah hasil dari proses yang dipelajari, maka setiap kekerasan sesungguhnya dapat dicegah melalui pendidikan yang baik, dapat diselidiki melalui riset yang jujur dan bertanggung jawab, serta dapat dihentikan dengan usaha yang serius dan sungguh-sungguh.

Martin Seligman dalam studinya secara mendalam menyimpulkan hal yang sama  bahwa fenomena ketidakberdayaan tersebut di atas sebagai dampak dari proses yang dipelajari.

Demikian sebaliknya, kesuksesan dan kebaikan dalam hidup di profesi apapun, juga dampak dari sebuah proses yang dipelajari. Namun sayangnya, mereka yang telah memperoleh kesuksesan dan kebaikan tersebut mengatakan bahwa mereka memperolehnya melalui belajar mandiri dimana kebebasan pembelajaran terpenuhi, bukan melalui lembaga pendidikan formal sebagaimana yang kita yakni selama ini. Jika asumsi tersebut di atas benar adanya, maka tidaklah salah jika ada pendapat mengatakan bahwa pendidikan ini sedang sakit atau sedang mati suri.  

Thomas Amstrong, murid langsung Daniel Goleman mengatakan bahwa masyarakat saat ini sedang mengalami penderitaan karena salah ajar (dysteachic). Albert Einstein menyatakan hal yang sama, yakni satu-satunya yang menghambat pembelajaran saya adalah pendidikan saya.

Peter F. Drucker (1997) dalam bukunya “The New Realities” mengatakan bahwa seseorang tidak dapat membangun prestasi puncak (excellence) di atas kelemahannya, sekalipun kelemahan itu sudah diperbaiki, seseorang hanya dapat membangun prestasi puncak berdasarkan kekuatan yang dimilikinya, antara lain berupa bakat, minat atau keinginannya. Hal ini telah diterapkan sejak zaman kejayaan Yunani, dimana pendidikan adalah usaha sadar untuk membesarkan anak agar berprestasi berfokus pada kekuatan dan potensi yang dimiliki peserta didik. Terkait hal tersebut, berarti setiap orang harus memahami dirinya secara baik.

Donald J. Trump dan Robert T. Koyosaki (2012) dalam bukunya “Midas Touch” menegaskan bahwa kecerdasan utama yang mampu mengantarkan seseorang mencapai kesuksesan adalah kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan memahami dirinya. Sayangnya, lembaga pendidikan di semua jenjang, terutama pada jenjang informal (pendidikan dalam keluarga) dan formal (persekolahan dan pendidikan tinggi) belum mampu mencerdaskan intrapersonal peserta didiknya.

Sekolah dan ruang kelas kita bukanlah ruang pembelajar; faktanya ruang tersebut kurang kondusif bagi pembelajaran efektif, tidak mampu melahirkan manusia dewasa yang mandiri, kreatif, inovatif dan adaptif, padahal 67% kreativitas tersebut terbentuk melalui proses yang dipelajari, hanya 33% kreativitas itu bersifat genetik atau diwariskan. Setelah menjadi seorang sarjana, mereka tidak mampu menyelesaikan membaca satu buku. Beberapa waktu lalu, Kementerian pendiddikan dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang di negeri ini, semakin rendah tingkat kemandirian dan kewirausahaannya.

Membaca hasil penelitian tersebut, penulis berpendapat bahwa penyelenggara pendidikan telah gagal mempersiapkan masa depan bangsanya. Coba buktikan apakah riset tersebut masih teruji kebenarannya hingga saat ini dengan cara meminta sarjana dan siswa drop out SD menyelesaikan sebuah persoalan hidupnya. Siapa diantara mereka yang lebih cepat dalam menyelesaikan masalah hidupnya itu?. Bisa jadi mereka yang lebih rendah tingkat pendidikannya lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan sehingga persoalan hidup dapat diselesaikannya. Fakta lain, Di tengah keterbatasan atau ketidakmampuan pemerintah menciptakan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya. Sekolah didirikan untuk mencetak pegawai, lebih khusus Pegawai Negeri Sipil (PNS), Jutaan siswa dan mahasiswa lulus setiap tahun dengan utang kredit belajar yang besar dan tak mampu mendapatkan pekerjaan, apalagi menciptakannya. Hal ini dapat dipahami karena sekolah kita sering kali menghadap ke belakang, tidak menghadap ke depan yang ditandai perubahan semakin cepat, tidak pasti dan kompleks. Sekolah kita hanya menghargai hasil bukan proses. Faktanya, hanya peserta didik berprestasi tinggi saja yang kita hargai, sementara proses pembelajaran kurang diperhatikan, anak gagal dalam proses pembelajaran tidak mendapat penghargaan, bahkan sebaliknya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari guru dan siswa lainnya.

Mereka lupa bahwa keberhasilan menjalani kehidupan masa depan adalah milik mereka yang memiliki kecerdasan intrapersonal yang terbentuk dari pengalaman tidak linier atau lurus, melainkan melalui pengalaman hidup penuh kegagalan dan kesukaran. Soichiro Honda mengatakan bahwa yang dilihat orang pada kesuksesan saya hanya 1%, tetapi apa yang tidak mereka lihat dari saya adalah 99%  kegagalan-kegagalan saya”.

Di dunia ini, lebih banyak orang mencela seseorang yang “Mencoba Gagal”, tetapi hanya sedikit orang mencela seseorang yang “Gagal Mencoba”. Selain itu, masih banyak diantara kita yang merasa takut terhadap sesuatu berakhir, tetapi sangat sedikit diantara kita yang takut sesuatu itu tidak bermula, padahal semua kesuksesan itu ada permulaannya. Trump dan Kiyosaki mengatakan bahwa awal dari kesuksesan itu tergantung pada kemampuan seseorang mengenal dirinya. Dengan demikian berarti jujur terhadap diri sendiri adalah modal utama menuju kesuksesan dan keberhasilan (Penulis. Dosen FKIP Untan, Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pendaftaran wisuda untuk periode IV tahun ajaran 2013/2014

Yang Lemah Mengalahkan Yang Kuat

Miskin Dahulu Sukses Kemudian

Cerdas Memberi Peringatan

Sukses dan Cinta