Selamanya adalah Sama

Opini Ilmiah


Selasa, 12 Januari 2016 - 08:06:22 WIB | dibaca: 483 pembaca


Oleh: Aswandi

TEMA besar tentang perubahan, apapun topiknya, yang lagi serius dibicarakan oleh umat manusia saat ini berputar-putar di sekitar dua dimensi, yakni dimensi ruang (apa yang terjadi di seantero dunia ini dan pengaruh globalnya) dan dimensi waktu (mencari kesamaan makna dari apa yang terjadi dulu, sekarang dan masa depan).

Seorang ayah menasehati anaknya melalui cerita bahwa ketika ayahnya sekolah dulu, sarana dan prasarana pendidikan masih sangat terbatas; listrik belum ada sehingga belajar menggunakan lampu “pelite”. Dari rumah ke sekolah jaraknya cukup jauh sekitar 10 km (pulang-pergi) berjalan-kaki, ada yang mendayung sampan karena tidak ada akses jalan darat, waktu itu belum ada handpone, apalagi komputer, tetapi ayah dan banyak teman ayah sukses studinya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Setelah menjadi sarjana, kembali ke daerah  (Kalimantan Barat), diantara kami ada yang menjadi pemimpin atau pejabat penting hingga pensiun. Mendengar kisah tersebut, Si Anak menjawab, “Hebat ya Ayah, tapi itu cerita dulu Ayah, sekarang zaman sudah berubah Ayah!, jauh berbeda dan yang akan datang tentu lain lagi Ayah”.   

Kisah lain, kolega penulis yang saat ini terbilang sukses dalam pekerjaan dan kariernya. Ia seorang wirausahawan dan pejabat di sebuah BUMN. Kepada penulis, dia berkata, “Dulu, ketika kecil hidupku sangat susah, mau makan lauk ayam harus menunggu ada undangan pesta perkawinan di kampung, sehari-hari nasi yang aku makan disertai lauk pedak rusip (ikan kecil yang telah membusuk). Sekarang setelah aku mampu, penderitaan atau hidup susah yang pernah kualami saat kecil tidak boleh lagi diwariskan kepada anak dan cucuku. Setiap Minggu mereka makan bersamaku di KFC, setelah itu berbelanja pakaian di mall, mereka selalu aku belikan kenderaan motor keluaran terbaru demikian pula handpone dan komputer. Dalam pikiranku, mumpung ayah dan aki mampu, kapan lagi anak dan cucu menikmati hidup ini”. Barangkali kolegaku ini tidak tahu bahwa dia bercerita dengan temannya (penulis) yang dimasa kecilnya sering tidak makan, temannya yang setiap hari dihadapkan pada satu pertanyaan, “Apakah Besok Aku Makan?”, Mama atau ibuku sering berkata, “hari ini kita tidak makan ya nak!, dan keinginanku untuk dapat makan kue serabi dan kelepon saja, harus berjuang keras bekerja menjadi buruh tani di sawah saudagar desa dengan imbalas sebuah kelapa dan sekepal gula aren.

Dulu, sekarang dan yang akan datang (selamanya) adalah sama dijelaskan oleh banyak pakar, diantaranya Stephen Hawking (2014) sangat serius mengamati  sejarah waktu ini dalam risetnya sebagaimana ditulis dalam sebuah buku berjudul “A Brief History of Time”. Kesimpulannya adalah dulu, sekarang dan yang akan datang adalah sama. Saking berbobotnya buku tersebut, ada pendapat para ahli menyatakan, “Jika dikaji secara lebih mendalam isi buku tersebut, pembaca bakal mengetahui isi pikiran Tuhannya”.

Charles Darwin (2015) dalam bukunya “Origin of Species” menyimpulkan bahwa eksistensi atau kemampuan manusia untuk bertahan hidup tidak ditentukan oleh kekuatan yang dimilikinya, melainkan ditentukan oleh faktor yang sama dan ada di sepanjang masa, yakni kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi sebagai dampak dai proses pembelajaran yang dialaminya.

Boast dan Martin (2001) dalam bukunya “Masters of Change” menegaskan bahwa sejak dahulu (zaman barbar) hingga saat ini, dan masa yang akan datang eksistensi manusia ditentukan oleh faktor yang sama, yakni merasa nyaman dalam keberagaman atau merasa damai dalam pluralistik. Bermodalkan kebhinnekaan semestinya bangsa ini telah mengalami kemajuan pesat. Kenyataannya tidak, berarti anak yang salah dalam mengelola bangsa Indonesia selama ini. Di bagian lain, mereka menegaskan bahwa semua perubahan dari dulu hingga sekarang, dari hulu sampai hilirnya diawali oleh faktor yang sama, yakni dimulai dari diri individu, baru menyebar ke institusi dan mulai dari hal-hal yang kecil.

Fakta yang menyatakan bahwa selamanya adalah sama diungkapkan dalam peribahasa lama yang masih sangat relevan hingga saat ini, seperti; (1) maling teriak maling; mereka teriak ada maling mencuri suaranya pada saat pilkada, boleh jadi mereka yang berteriak ada maling tersebut justru mereka adalah maling. Dari dulu hingga saat ini, fenomena tersebut ada di tengah masyarakat; (2) tempurung naik di atas afar; tempurung lebih baik atau lebih layak digunakan untuk membakar sampah, bukan untuk memasak nasi. Memasak nasi menggunakan kayu api yang baik sejenis batang karet yang sudah mengering. Faktanya, banyak tempurung digunakan untuk memasak nasi. Maknanya, banyak terjadi pengangkatan pejabat yang bukan ahlinya atau tidak melalui proses lelang jabatan, melainkan melalui proses korupsi, kolusi dan nepotisme. Agama mengingatkan, jika hal tersebut dilakukan, maka tunggu kehancuran yang dibuat oleh pejabat tersebut, dan (3) perilaku belah bambu; bermakna ke atas (pejabat) mereka memuji dan menjilat, ke bawah mereka menekan dan menghina.   

Karena selamanya adalah sama dan sejarah adalah peristiwa yang selalu diulang dalam modus yang berbeda, maka belajar dari sejarah masa lalu adalah penting bagi kesejahteran hidup hari ini (sekarang) dan masa yang akan datang.

Dunia hari ini menyadari bahwa sejarah memiliki pengaruh besar terhadap daya saing bangsa. Sebuah bangsa yang melupakan sejarah bangsanya memiliki daya saing rendah, demikian sebaliknya. Sejarah dapat mengkonsepsikan kehidupan dalam perjalanan waktu. Sejarah dapat mempersatukan atau menciptakan persaudaraan diantara kita. Sejarah telah terbukti mampu mengajarkan kepada kita berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, bahkan sejarah mengajarkan kepada kita mengenai apa yang tidak dapat atau belum pernah kita lihat.
Cicero salah seorang sejarahawan yang hidup satu abad sebelum masehi mengatakan, “Jika kita tidak tahu apa yang terjadi 100 tahun sebelum kita lahir, berarti kita tetap sebagai anak kecil”.

Selamanya adalah sama. Namun perbedaan diantara ketiganya (dulu, sekarang dan akan datang) terletak pada “Pemaknaan”. Dan persoalan pendidikan hari ini adalah pendidikan tanpa makna. Misalnya, Kasus keinginan kolega penulis memanjakan anak dan cucunya atau tidak mewariskan penderitaannya setelah ia menjadi kaya, menurut penulis adalah kurang tepat. Penderitaan, kesukaran dan kesusahan dalam hidup ini dapat saja diajarkan kepada anak, cucu dan keturunan kita, namun dalam makna yang berbeda. Jika dulu ia susah atau harus bekerja keras mencari sesuap nasi hanya untuk sekedar bertahan hidup, sekarang penderitaan dengan segala bentuk dan jenisnya harus diajarkan kepada anak dan cucu, bukan dalam urusan memenuhi isi perutnya, melainkan susah payah dan kerja keras dalam ususan menimba ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Hanya anak atau generasi yang memahami penderitaan orang tuanya atau para perdahulunya yang mampu mewariskan kebaikan dan mewujudkan cita-cita luhur pendahulunya (Penulis, Dosen FKIP Untan)
 
 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Agenda Pendidikan 2016

Maling Teriak Maling

Revolusi Mental Bidang Pendidikan

Menerima dan Bangkit dari Kekalahan

Memilih Pemimpin