Sekolah Tanpa Kertas

Dunia Pendidikan


Selasa, 08 April 2014 - 11:57:10 WIB | dibaca: 732 pembaca


RABINDRANAT Tagore, bapak pendidikan India, mengingatkan, “Jangan batasi anak untuk sekedar mempelajari apa yang telah engkau pelajari, karena ia terlahir di zaman yang berbeda”.

Dunia telah mengalami gelombang yang kesekian kalinya, saat ini dikenal sebagai era revolusi informasi. Kehadiran teknologi informasi diyakini menjadi faktor dan penggagas luar biasa yang mengubah dunia. John Farndon (2011) dalam  bukunya “The Worlds Greatest Idea” menegaskan bahwa tidak ada teknologi yang memiliki dampak luar biasa mendalam dan seketika pada banyak orang seperti internet. Tidak terbatas pada kemampuannya secara tepat dan cepat dalam menerima  dan menyampaikan informasi. Produk teknologi informasi  ini telah mengubah perilaku dan mental umat manusia, lebih khusus perilaku dalam berkomunikasi. Fakta lain, Beberapa tahun terakhir ini, majalah Newsweek edisi cetak sudah tidak terbit dan beredar lagi akibat perubahan perilaku pembacanya, agar tetap eksis menemui pembacanya, majalah tersebut menggantinya dari edisi cetak ke edisi digital. Salman Khan (2013) dalam bukunya “The One World Schoolhouse” mengatakan, “Dalam revolusi informasi, kreativitas tinggi dan pemikiran analitis bukan lagi sebagai pilihan, melainkan keahlian yang wajib dimiliki untuk dapat bertahan hidup. Oleh karena itu pendidikan formal harus berubah dengan dibuat lebih selaras dengan keadaan dunia yang sesungguhnya dan lebih harmonis dengan cara manusia belajar dan berkembang. Dan pendidikan berkualitas tidak mesti bergantung pada sekolah dan kampus unggulan. Tidak ada alasan ekonomi yang sepatutnya menghalangi peserta didik untuk mendapatkan pelajaran yang sama dengan yang diperoleh anak-anak Bill Gates”.

Fenomena kehidupan di atas mengimajinasi Presiden RI ke-3 BJ.Habibie saat Konvensi Pendidikan yang diselenggarakan PGRI beberapa hari lalu. Beliau menawarkan wacana untuk mengembangkan sekolah tanpa kertas, yakni sekolah berbasis teknologi informasi. Beliau mengatakan bahwa sekarang ini kita berada di era globalisasi dan informasi teknologi. Beliau mengatakan bangsa ini harus bersiap-siap mengembangkan sekolah yang tidak menggunakan kertas lagi. Jika ada kesulitan, siswa bisa berselancar di internet mencari jawabannya. Menurutnya, teknologi informasi dapat menguntungkan proses pendidikan sebab saat ini siswa telah menguasainya, beliau contohkan cucu beliau sendiri.. Sementara Ketua Umum PGRI, Sulistiyo menyatakan bahwa wacana Sekolah Tanpa Kertas yang disampaikan bapak BJ Habibie adalah sebuah terobosan yang harus dipikirkan secara mendalam oleh banyak pihak. Bila proses ini dilakukan secara alamiah saja, beliau khawatir  Indonesia akan ketinggalan.

Penulis sependapat terhadap sikap bijak Ketua Umum PGRI untuk tidak gegabah mengimplementasikan wacana yang telah disampakan oleh bapak BJ. Habibie itu, karena tidak jarang kesalahan dalam merespon kemajuan teknologi informasi justru berdampak negatif terhadap proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran. Para pakar pendidikan sering mengingatkan bahwa produk ilmu pengetahuan dan teknologi itu hanyalah sebatas alat pendidikan dan pembelajaran bukan tujuan, mereka menyarankan agar penggunaan produk teknologi informasi ini diperlakukan sebagaimana kita  memperlakukan resep dokter.

Malcolm Gladwell (2006) dalam bukunya “Tipping Point” mengemukakan sejumlah eksperimen, menyimpulkan bahwa anak-anak yang diminta membaca satu bab dari sebuah buku, kemudian diuji untuk mengukur pemahaman mereka atas informasi di dalamnya, menghasilkan skor lebih tinggi dibanding anak-anak yang mempelajari informasi serupa melalui sebuah tayangan video. Penelitian tersebut membuktikan bahwa buku yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas itu masih memiliki peran yang sangat penting dalam praktek pendidikan bermakna. Strickland Gillilan mengatakan bahwa, “Anda mungkin punya simpanan kekayaan berlimpah ruah, berupa; peti-peti persiasan dan pundi-pundi emas. Namun kau tidak akan pernah bisa lebih kaya dari pada aku. Aku punya bunda yang selalu membacakanku buku”.  Penelitian lain menyimpulkan bahwa minat baca tinggi tumbuh sejak awal di rumah yang di dalamnya menyediakan banyak buku, anak mereka memiliki kartu perpustakaan dan sejak dini setiap hari dibacakan buku oleh orang tua mereka.

Scott Karp yang dulunya bekerja di sebuah majalah dan kini mengurus blog media online mengakui bahwa dia telah berhenti membaca buku sama sekali. Perubahan kebiasaan membacanya lebih disebabkan oleh perubah cara ia berpikir.
Katherine Hayles, seorang profesor Duke University mengakui bahwa ia tidak bisa lagi menyuruh mahasiswanya untuk membaca keseluruhan buku. Hal yang sama terjadi di negeri ini, dimana banyak orang tidak tuntas membaca buku sebagai dampak dari  kebiasaannya membaca di media internet yang sering kali lebih mementingkan kecepatan membaca dari pada memahami secara tuntas dari apa yang dibacanya. Sering kali pembaca melalui media internet malas mengakses kembali halaman terdahulu, berbeda sekali dengan mereka yang pembaca buku dengan sangat mudahnya membolak-balik halaman sebelumnya apabila mereka memerlukannya.   

Amy Chua (2011) menulis sebuah buku berjudul “Battle Hymn Tiger Mother”, sebuah buku berisi tentang cara mendidik anak agar sukses ala China. Diantara hal yang tidak pernah boleh dilakukan atau tercela untuk dilakukan oleh anak-anak mereka adalah menonton televisi atau main came komputer.
Sesungguhnya kita tidak boleh membenarkan dan menyalahkan produk IPTEK, karena pada akhirnya kembali kepada si pengguna produk IPTEK tersebut. Nicholas Carr (2011) dalam bukunya “The Shallows” mengutip pendapat McLuhan untuk menggingatkan kita semua; “Kita begitu mudah mengambing hitamkan perangkat teknologi untuk dosa para penggunanya. Produk ilmu modern tidak dengan sendirinya bagus atau jelek. Penggunalah yang menentukan nilai mereka”.

Jadi efektifitas pembelajaran bukan tergantung pada penggunaan bahan cetak atau bahan elektronik/internet, melainkan ditentukan atau dipengaruhi oleh efektifitas interaksi educatif yang terjadi antara peserta didik dengan sumber belajarnya, baik guru, buku maupun internet. Masih ditemukan, penggunaan media IT dalam pembelajaran sekedar tuntutan mode atau gaya dalam mengajar yang seakan-akan dengan menggunakan media IT tersebut ia telah melaksanakan pembelajar yang efektif. Mengajar yang baik melibatkan semua indera, dan memberi tanggapan langsung kepada siswa, sementara produk teknologi informasi, seperti televisi adalah media yang “low involvement” yang tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Olehkarena dari awal penulis sependapat dengan Ketua Umum PGRI Pusat agar wacana bapak BJ Habibie dipertimbangkan dengan baik oleh banyak orang, agar kita tidak terjebak pada sebuah adegium, “Ingin Menjawab Masalah, Justru Menimbulkan Masalah”.
Menutup opini ini, penulis ingin mengatakan bahwa sukses memiliki beragam makna tergantung pendapat masing-masing, tetapi gagal selalu berawal dari satu kata, yakni “Menyerah”. Orang bijak mengingatkan bahwa neraka itu terdiri dari dua kata, yakni “Sudah Terlambat”

(Penulis: Dr. Aswandi -  Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)
 


Berita Terkait Dunia Pendidikan /

Pencapaian Hasil Belajar

Takut Menjadi Pemimpin

Muhammad Pemimpin Umat

2014 Tahun Kepemimpinan

Sosok Utuh Guru Professional