Sekolah sebagai Taman

Opini Ilmiah


Senin, 04 Mei 2015 - 14:33:01 WIB | dibaca: 1533 pembaca



Sekolah sebagai taman yang menyenangkan

Oleh: Aswandi
 
KATA ”Taman” selalu dikaitkan dengan suatu tempat yang menyenangkan atau yang dijanjikan menyenangkan, seperti ”Taman (Surga) Firdaus dan Taman Zen”. Oleh karenanya semua orang ingin memperoleh kesempatan menempati, berdiam dan tinggal lama di dalamnya.

Anies Baswedan selaku Mendikbud RI dalam sambutannya pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015 mengutip Ki Hadjar Dewantara yang menyebut sekolah dengan istilah ”Taman”. Taman adalah tempat belajar yang menyenangkan. Anak datang ke taman dengan senang hati, berada di taman juga dengan senang hati dan pada saat harus meninggalkan taman, peserta didik merasa berat hati.

Para pakar pembelajaran bersepakat bahwa sekolah yang biasa digunakan sebagai tempat memperoleh dan mengkonstruksi informasi atau ilmu pengetahuan adalah tempat yang menyenangkan bagi semua, khususnya bagi  peserta didik agar ia memperoleh pengetahuan yang lebih baik, berkualitas dan lebih bermakna.

Banyak fakta dan data penelitian, baik di bidang pendidikan, psikologi, dan kesehatan menunjukkan bahwa dalam arti fisik, besarnya pengaruh taman terhadap kualitas kehidupan penghuninya. Anna Castelli Ferrieri menyatakan, “Tidaklah benar bahwa apa yang berguna itu indah, melainkan yang indahlah yang berguna karena keindahan dapat memperbaiki cara hidup dan berfikir seseorang”, dikutip dari Daneil H.Pink (2006) dalam bukunya ” A Whole New Mind”. Ia menunjukkan bukti sebuah studi dari Universitas Georgetown yang menemukan bahwa jika para siswa, guru, dan metode pembelajaran sama kualitasnya, memperbaiki lingkungan fisik sekolah memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil test peserta didik sebesar 11 persen”.

Penelitian terbaru menemukan bahwa anak dengan gangguan konsentrasi (attention deficit disorder) memperlihatkan berkurangnya gejala-gejala gangguan saat mereka menghabiskan waktu di lingkungan alamiah, kemampuan berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas dan mengikuti perintah secara drastis membaik. Ruang hijau memiliki dampak pemulihan terhadap perhatian seksama, jenis fokus intensif yang dibutuhkan untuk belajar dan bekerja, demikian Jennifer Ackerman menegaskan dalam sebuah artikelnya yang dimuat pada Nasional Geographic Edisi Maret 2007.

Anies Baswedan mempertanyakan, sudahkah sekolah kita menjadi seperti taman?. Sudahkah sekolah kita menjadi tempat belajar yang menyenangkan?.
Menjawab pertanyaan tersebut, penulis kutip pendapat para ahli yang berintikan bahwa sekolah kita belum menjadi sebuah taman.

Bernard Shaw mengatakan bahwa di muka bumi ini tidak satupun yang menimpa orang-orang tak berdosa separah sekolah. Sekolah adalah penjara. Bahkan dalam beberapa hal sekolah lebih kejam ketimbang penjara. Di penjara misalnya, anak tidak dipaksa membeli dan membaca buku karangan para sipir atau kepala penjara”, dikuti dari Faulo Freire dkk (1998) dalam bukunya “Menggugat Pendidikan”.

Sandy McGregor (2000) dalam bukunya “Peace of Mind” mengatakan bahwa selama dua tahun anak belajar di TK memperoleh ilmu pengetahuan jauh lebih banyak dari pada sembilan tahun siswa belajar di pendidikan dasar (SD dan SMP), tiga tahun siswa belajar di pendidikan menengah, dan lima tahun mahasiswa menuntut ilmu di perguruan tinggi karena di TK anak belajar dalam suasana menyenangkan (fun), sementara di jenjang yang lebih tinggi peserta didik belajar dalam suasana tertekan atau stress”.

Tidak jarang, peserta didik mendapat perlakuan kekerasan di sekolahnya, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal, seperti dicaci dan dihina yang sangat mengganggu tumbuh kembang anak di kemudian hari. Ketakutan orang tua terhadap dampak kekerasan verbal yang dialami anaknya, maka orang tua di beberapa negara Asia, seperti Jepang selalu bertanya kepada anak-anaknya setelah pulang dari sekolah mengenai keadaan yang dialaminya selama seharian di sekolah, mereka menanyakan apa saja masalah yang dihadapinya dan apakah putra-putri mereka memperoleh pelajaran yang menyenangkan di sekolahnya, dan mereka tidak menanyakan nilai pelajaran anak-anaknya”, demikian Stevenson (2001) dalam bukunya “Learning Gap”. Sangat berbeda dengan orang tua di negeri ini yang selalu dihantu rasa takut nilai rapot dan NEM anaknya rendah.

Sekolah menyenangkan sebagaimana telah dicanangkan sejak lama oleh bapak pendidikan Ki Hadjar Dewantara memiliki berbagai karakter, diantaranya adalah sekolah yang melibatkan semua komponennya, baik guru, orang tua, dan siswa dalam proses belajarnya. Sekolah yang pembelajarannya relevan dengan kehidupannya. Sekolah yang pembelajarannya memiliki ragam pilihan  dan tantangan dimana individu diberi pilihan dan tantangan sesuai dengan tingkatannya. Sekolah yang pembelajarannya memberi makna jangka panjang bagi peserta didiknya. Penulis tambahkan, menjunjung tinggi kebebasan dalam pembelajaran berbasis gaya belajar, potensi yang dimiliki, dalam suasana dan lingkungan yang menyenangkan.

Bagi guru melaksanakan tugas mendidik dan mengajar menjadi sebuah kebahagiaan, membuat peserta didik merasakan belajar sebagai sebuah kebahagiaan, dan pendidikan sebagai sebuah kegembiraan.   
Pembelajaran menyenangkan dipengaruhi pula oleh lingkungan sekolah yang didesain dengan dua elemen dasar fisik yang saling melengkapi dan secara simultan menciptakan estetika taman, yakni “hardscape” dan “softscape”. Hardscape adalah elemen taman yang bersifat padat dan keras, seperti air terjun, air mancur, batu koral, lantai paving maupun ornamen lainnya yang mampu memberi karakter sebuah taman. Sementara softscape merujuk pada elemen holtikultural yang memberikan jiwa dan hidup pada sebuah taman, seperti pepohonan, dedaunan, dan rumput-rumputan.

Riset membuktikan bahwa “ruang-ruang yang dipenuhi tumbuhan berdaun dapat menyaring polusi dan mengikat partikel-partikel mungil kotoran dan hasil pembakaran, pepohonan di sepanjang jalan dapat mengurangi partikulat di udara dari emisi mobil dan bus. Kelompok besar pepohonan bahkan memiliki dampak yang lebih besar sebagai paru-paru pembersih udara dari zat-zat kimia berbahaya. Di Chicago para ilmuan menemukan bahwa setiap tahun pepohonan menyerap sekitar 212.281 kilogram partikulat, 88.904 kilogram nitrogen dioksida, 84.368 kilogram sulfur dioksida dan 15.422 kilogram karbon monoksida. Suhu aspal atau beton di bawah naungan pohon dapat lebih dingin 20 derajat celsius dibanding se bidang aspal yang sepenuhnya berada di bawah terik matahari musim panas, udara di bawah pepohonan dapat lebih dingin tiga hingga empat derajat. Dua penelitian besar di Belanda dan Jepang menunjukkan, mereka yang tinggal di wilayah dengan akses mudah ke ruang-ruang hijau memiliki kesehatan lebih baik dengan tingkat kematian lebih rendah” Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memilih Bupati Mencari Solusi

Penguatan Insan Pendidikan

Fungsi Ujian Nasional

Mencegah Penyalahgunaan Narkotika

Akreditasi Pilar Mutu Pendidikan