Sekolah Menghadap Ke Belakang

Opini Ilmiah


Senin, 25 Agustus 2014 - 10:25:17 WIB | dibaca: 1006 pembaca



Foto: The Cité de l'espace (Pusat antariksa - Toulouse, France)

Oleh: Aswandi
 
MAJU atau mundur, terus hidup atau mati tidak hanya terjadi di dunia dinosaurus dan kecoa, serta makhluk hidup lainnya, melainkan juga terjadi di institusi pendidikan, lebih khusus persekolahan mengalami kemajuan pesat, sementara tidak sedikit sekolah dan perguruan tinggi yang awalnya sangat maju, namun saat ini tidak mengalami kemajuan, jalan di tempat, bahkan telah bubar atau tutup.

Penyelenggara pendidikan, terutama lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sering kali mengeluh karena dari waktu ke waktu peserta didiknya mengalami penurunan drastis yang menurutnya dampak dari berdirinya sekolah negeri baru di sekitarnya. Ada pula perguruan tinggi swasta merasa pelanggan utamanya (calon mahasiswa) diambil oleh perguruan tinggi negeri. Mereka tidak tahu barangkali, pemerintah menaruh kepercayaan yang tinggi kepada perguruan tinggi negeri tersebut dengan menambah jumlah program studi baru yang dengan sendirinya bertambah pula jumlah mahasiswanya.

Fakta lain, orientasi orang tua melanjutkan studi putra-putrinya telah mengalami pergeseran. Pada awalnya orientasi orang tua menyekolahkan anaknya berdasarkan kesamaan nilai atau keyakinan, terutama keyakinan keagamaan, Misalnya, misalnya peserta didik beragama katolik melanjutkan pendidikannya di sekolah katolik. Peserta didik warga Nahdatul Ulama (NU) melanjutkan studi putra-putrinya ke lembaga pendidikan, seperti Yayasan Pendidikan Al-Ma’rief.

Demikian pula, peserta didik warga Muhammadiyah melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke sekolah Mu’allimin dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dikenal sangat banyak jumlahnya dan menyebar luas di seluruh pelosok tanah air ini. Orientasi tersebut bertahan cukup lama. Namun kemudian mengalami pergeseran dari orientasi nilai ke orientasi status (favoritas/populeritas) lembaga pendidikan tersebut di masyarakat. Orientasi status tersebuh tidak bertahan lama. Terakhir ini, orientasi atau pertimbangan orang tua memilih lembaga pendidikan untuk studi lanjut putra-putrinya didasarkan pada orientasi masa depan, artinya lembaga pendidikan yang memberi harapan baik bagi masa depan putra-purinya, Jangan heran demi mempersiapkan masa depan putra-putrinya, batas primordial keagamaan tembus atau runtuh. Misalnya di Kota Malang dua universitas bertetangga, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Unisma Malang. Penulis cermati tidak sedikit mahasiswa/i Universitas Muhammadiyah Malang adalah warga nahdiyin, Anak dari Hasyim Huzadi selaku ketua NU tercatat sebagai mahasiswa/i UMM. Mengapa mereka melanjutkan studinya di UMM. Jawabannya tidak lain adalah perguruan tinggi swasta tersebut diyakini menghadap ke depan atau memberi harapan bagi kebaikan masa depan alumnusnya.

Berdasarkan uraian di atas dan berbagai penjelasan akademik tentang eksistensi lembaga pendidikan, penulis menyimpulkan bahwa eksistensi dan kemajuan sekolah, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya sangat ditentukan ke mana mereka menghadapkan wajahnya. Lembaga pendidikan yang tetap bertahan dan terus berkembang karena mereka menghadapkan wajahnya ke depan, sementara lembaga pendidikan yang tidak mengalami perkembangan atau tidak mengalami kemajuan, bahkan mengalami kepunahan dan bubar akibat menghadapkan wajahnya ke belakang.

Asumsi tersebut dipertegas Alvin Tofller (1988) dalam bukunya “Future Shock” dimana ia mengatakan bahwa semua sekolah kita sekarang ini menghadap ke belakang, ke system yang sudah sekarat dan ketinggalan zaman, bukan menghadap ke depan untuk masyarakat baru, yakni masyarakat industri yang sedang terbit.

Segi yang paling buruk dan dikecam dalam pendidikan dewasa ini adalah regimentasi, tidak menghargai potensi peserta didik yang unik, system yang sangat kaku dalam pengaturan tempat duduk, pengelompokan dan pembagian tingkat, pemberian nilai, peran guru yang masih otoriter, dan sebagainya,  

Untuk membantu menghindarkan kejutan masa depan, Tofller mengusulkan agar kita menciptakan suatu sistem pendidikan superindustrialisme yang menuntut manusia mengembangkan kesadaran baru tentang waktu dan orientasi lembaga pendidikan ke arah masa depan.

Peter F. Drucker mengingatkan bahwa masa depan itu adalah milik mereka yang memikirkannya hari ini. Sementara Howard Garner (2007) dalam bukunya “Five Minds for The Future” memberi penjelasan tambahan tentang pikiran yang diperlukan bagi masa depan, yakni pikiran; terdisiplin, menyintesis, mencipta, merespek dan etis.

Sekolah menghadap ke depan adalah sekolah yang memiliki visi yang jelas. Di dalamnya berkumpun kelompok manusia pembelajar. Disamping itu, masyarakat menuntut sekolah harus relevan, lebih specifik, yakni memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak sebagaimana dikatakan oleh Robert T.

Kiyosaki (2013) dalam bukunya “Why A Student Work for C Student” bahwa umumnya siswa dan mahasiswa pergi ke sekolah atau kuliah adalah untuk memperoleh sebuah pekerjaan. Jika Anda tidak sekolah, maka Anda tidak mendapat pekerjaan yang baik. Dari pekerjaan tersebut Anda memperoleh penghasilan atau kekayaan yang layak”. Namun faktanya pekerjaan itu sendiri mengalami perubahan yang sangat cepat sehingga   lembaga pendidikan tersiuk-siuk mempersiapkan lulusannya agar siap pakai. Padahal faktanya, sebaik apapun lembaga pendidikan itu tidak pernah mampun mempersiapkan lulusannya siap pakai tanpa harus belajar lagi.

Menurut penulis yang terpenting pada alumnus dari sebuah institusi pendidikan itu mampu mengantisipasi masa depan, mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terus terjadi secara bermakna. Untuk itu, lembaga pendidikan harus menjadi organisasi pendidian yang terus belajar dan memperbaharui dirinya.

Peter Senge (1996) dalam bukunya “Fifth Discipline” mengatakan bahwa organisasi yang memperoleh keunggulan di masa depan meminta komitmen orang lain dan kapasitas belajar pada semua tingkat organisasi. Ia mengemukakan disiplin organisasi pembelajar meliputi lima unsur berikut; berfikir system, keahlian pribadi, model mental, membangun visi bersama, dan pembelajaran tim.

Terkait dengan sekolah sebagai organisasi pembelajar, Peter Senger (2001) menulis sebuah buku berjudul “School That Learn” dimana ia mengatakan bahwa sekolah masa depan adalah sekolah pembelajar. Untuk itu, sekolah tersebut harus memperhatikan setidaknya beberapa hal berikut; entering school yakni menciptakan ruang kelas pembelajar, school vision, current reality, developemnet, and leadership. Selain itu, legalitas kelembagaan memiliki kepastian hukum, pelayanan, efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pendidikan harus berorientasi masa depan (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pengumuman Pelaksanaan Daftar Ulang Mahasiswa Lama Semester Gasal 2014/2015

Kemerdekaan dalam Pembelajaran

Kalender Akademik FKIP Untan Semester Gasal 2014/2015

Alex, Bakat yang (Sementara) Terhimpit Nasib

Guru: Bukan Calon TBC Tapi Profesi yang Not Only Story, But Also History