Sedikit Mengajar Banyak Belajar

Opini Ilmiah


Senin, 07 Juli 2014 - 10:14:48 WIB | dibaca: 1271 pembaca



Foto: di Yakushiji Temple - Nara, Japan

Oleh: Aswandi
 
EKSISTENSI atau kelangsungan hidup manusia ditentukan oleh kemampuannya untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi sebagai dampak dari kualitas belajar yang dimilikinya dan proses pembelajaran yang dijalaninya.

Saat ini telah terjadi pergeseran makna pembelajaran, yakni dari “Teaching atau Mengajar” menjadi “Learning atau Belajar”, sementara belajar itu sendiri “Learning to Learn” atau belajar untuk belajar.

Profesionalisme seorang guru diukur dari kemampuannya melahirkan peserta didik menjadi manusia pembelajar dimana belajar bukan sekedar melaksanakan atau menggugurkan kewajiban, melainkan menjadi sebuah kebutuhan, mereka belajar apa saja, belajar kapan saja dan belajar dimana saja.

Kesalahan asumsi selama ini, mengukur efektivitas pembelajaran siswa dikaitkan langsung dengan lamanya guru mengajar, yang kemudian berimbas terhadap penghargaan dan pemberian tunjangan profesi karena telah melaksanakan tatap muka selama 24 jam sekalipun dalam prakteknya mengalami banyak kendala, yakni banyak diantara guru mengalami kesulitan memenuhi jumlah jam mengajar tersebut sehingga tidak jarang melakukan hak-hak yang kurang terpuji hanya untuk memenuhi 24 jam tatap muka/mengajar tersebut. Mereka lupa bahwa efektivitas pembelajaran itu diukur dari belajar siswa bukan dari mengajar guru. Guru boleh saja sedikit mengajar, namun peserta didik (siswa dan mahasiswa) harus banyak belajar, gunakan berbagai strategi dan model pembelajaran untuk siswa belajar.

Pasi Sahlberg (2014) dalam bukunya “Finnish Lessons” membongkar keyakinan dan kesalahan asumsi selama ini bahwa meningkatkan mutu pendidikan dengan memperpanjang masa pendidikan dan memperlama pembelajaran secara formal menjadi sedikit mengajar banyak belajar. Beliau mereview banyak riset yang akhirnya menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kecil (kurang signifikan) antara jam pelajaran yang direncanakan dengan hasil kinerja atau prestasi akademik siswa. Negara-negara berprestasi akademik tinggi yang diukur melalui studi PISA seperti Finlandia, Korea, dan Jepang kurang mengandalkan waktu pengajaran formal di sekolah sebagai penggerak belajar siswa. Sementara negara-negara dengan tingkat prestasi belajar siswa jauh lebih rendah, seperti Italia, Portugal, dan Yuinani menuntut siswanya lebih banyak atau lebih lama belajar di sekolah. Penjelasan di atas membuktikan bahwa lama belajar di sekolah bukan kunci jawaban untuk meningkatkan prestasi akademik siswa.

Sejalan hal tersebut, orang bijak mengingatkan, “Setiap kali pendidik ingin mengajar, terdapat banyak siswa yang sesungguhnya tidak ingin diajar”. Mereka tidak siap untuk mengikuti proses pembelajaran, banyak diantara siswa dan mahasiswa mengikuti proses pembelajaran layaknya mereka nonton film di bioskop tanpa menyediakan alat yang dapat digunakan untuk mencatat informasi penting yang disampaikan oleh guru dan dosennya. Majalah Tempo telah melaporkan bahwa banyak siswa dan mahasiswa Indonesia duduk manis di ruang kelas bukan untuk mengikuti proses pembelajaran atau perkuliahn yang diberikan oleh guru dan dosennya, melainkan mereka lebih asih menggunakan dan bermain handpone yang secara sengaja suara handponenya sudah disilent.

Tentu saja, banyak belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti; terbentuk perilaku belajar tersebut karena peserta didik menjali proses belajar yang menyenangkan atau belajar tidak dalam kondisi stres dan cemas, dan banyak belajar bukan berarti siswa harus disibukkan dengan mengerjakan banyak Pekerjaan Rumah (PR) melainkan sebaliknya, mengurangi dan bahkan meniadakan PR yang diyakini kurang memberi tantangan dalam pembelajaran.

Sementara sedikit mengajar bukan berarti guru mengurangi aktivitas pembelajarannya karena hakikat dari tugas utama guru atau pendidik tidak dibatasi hanya di dalam kelas, melainkan juga di luar kelas. Jam mengajar yang rendah atau sedikit guna memberi kesempatan lebih banyak kepada guru untuk melakukan berbagai kegiatan yang tentu saja berhubungan dengan pembelajaran, seperti melakukan penilaian prestasi dan kemajuan belajar siswanya, melakukan riset pembelajaran, khususnya riset tindakan kelas dan melakukan refleksi pembelajaran bersama guru-guru lain, terlibat dalam pengembangan sekolah, pengembangan kurikulum, dan pengembangan professional secara pribadi selama jam kerja mereka.

Banyak belajar siswa harus dibentuk dari sejak kecil, misalnya kegemaran membaca yang sangat berdampak terhadap efektivitas pembelajaran harus ditumbuhkan melalui aktivitas memperkaya kosakata yang dimiliki siswa melalui banyaknya mereka mendengar dongeng atau cerita dari orang tua mereka.

Pertanyaan yang selalu muncul di benak penulis adalah bagaimana mewujudkan efektivitas dan efisiensi profesionalisasi guru secara mandiri, tidak harus menunggu inisiatif dari institusi sebagaimana terjadi di negeri ini, pendidik lebih sering mengikuti kegiatan peningkatan keprofesionalannya atas undangan, bukan atas inisiatif sendiri.

Perilaku banyak belajar dipengaruhi oleh perilaku mengajar guru sebagai produk dari pendidikan calon guru yang diikutinya.
Belajar dari pendidikan guru di negara Finlandia sebuah negara yang dikenal terbaik mutu pendidikannya, dimana kesadaran untuk terus tumbuh dalam profesi sebagai pendidik yang sangat berdampak pada perilaku belajar siswanya terbentuk dan dibentuk saat mereka menjadi mahasiswa calon guru di lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang secara struktural memberikan pemahaman yang mendalam dan komprehenship kepada mahasiswanya calon guru mengenai tiga bidang ilmu utama, yakni; (1) filsafat, khususnya filsafat ilmu, (2) teori dan konsep pembelajaran, dan (3) perubahan pendidikan dan persekolahan. Setelah mahasiswa calon guru mendalami dan memahami tiga konsep ilmu tersebut, kemudian dilanjutkan mendalami ilmu tentang subject matter (bidang studi) yang ada dalam kurikulum.

Semua calon guru harus memahami paradigma ilmu pengetahuan dan pergeseran yang terjadi dalam saint tersebut, misalnya pergeseran dari positivistik menjadi naturalistik atau memberi pemahaman keduanya, baik pada aspek metafisik, epistemology maupun aksiologi saint tersebut.

Demikian pula dalam filosofi, teori, konsep dan paradigma pembelajaran yang selalu mengalami perubahan itu wajib dipahami oleh semua calon guru, misalnya pembelajaran behavioristik, pembelajaran konstruktivistik dan pergeseran paradigm pembelajaran yang terjadi, baik pada pengertian dan makna pembelajaran, tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran, lingkungan belajar dan evaluasi pembelajaran.

Sepintas lalu, penulis amati, kurikulum 2013 yang sedang digalakkan oleh pemerintah sekarang ini mengindikasikan telah memuat sedikit pemahaman tentang apa yang dikenal dengan “Sedikit Mengajar Banyak Belajar”, antara lain terlihat dari tujuan, materi pembelajaran, strategi belajar bersifat saintifik dengan harapan peserta didik melakukan banyak pengamatan atau observasi dan akhisnya menemukan suatu konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Penulis, dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Semua Karena Dipelajari

Pendaftaran wisuda untuk periode IV tahun ajaran 2013/2014

Yang Lemah Mengalahkan Yang Kuat

Miskin Dahulu Sukses Kemudian

Cerdas Memberi Peringatan