Rumahku Pantiku

Opini Ilmiah


Kamis, 23 Juli 2015 - 10:15:41 WIB | dibaca: 452 pembaca


Oleh: Aswandi
TIDAK semua anak yatim itu berasal dari keluarga fakir- miskin secara ekonomi, demikian sebaliknya. Pemahaman yang benar tentang konsep fakir-miskin dan penyebabnya adalah sangat penting dalam upaya pemberdayaan kelompok masyarakat tersebut.

Sayyid Sabiq (2010) dalam kitabnya “Fiqih Sunnah”  mengatakan bahwa fakir-miskin adalah orang-orang yang kebutuhannya tidak tercukupi, namun mereka tidak meminta-minta. Dibagian lain, dikutip sebuah hadits dari Abu Hurairah ra yang mengatakan bahwa orang miskin adalah orang fakir yang menjaga dirinya dari berkeliling diantara manusia untuk meminta-minta dan kefakiran mereka jarang diketahui oleh manusia lain. Dan mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain (QS Al-Baqarah:273). Tidak seperti yang dipahami selama ini orang miskin memiliki citra negatif dan sering kali diekploitasi untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Aneh atau paradox, jumlah orang miskin bertambah sejalan bertambahnya jumlah orang kaya yang mengurus orang miskin.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama (hari kemudian). Maka itulah orang yang menghardik (mendorong keras) anak yatim, dan tidak mendorong (menganjurkan) memberi makan (pangan) orang miskin “, demikian QS. Al-Ma’un:1-3)

Ketika Nabi berkhotbah di atas mimbar, seraya mengatakan, “Tangan yang di atas (memberi) lebih mulia dari tangan yang dibawah (meminta)”, demikian kesaksian Ibn Umar ra. Dalam kitab “Shahih Bukhari Muslim” dikatakan bahwa malaikan berdoa, Ya Allah, “berilah ganti kepada orang yang membelanjakan (mendermakan, mensedeqahkan) hartanya, Sementara malaikat lainnya berdoa, “Ya  Allah, binasakan harta orang yang bakhil”. Dan Nabi Saw bersabda, “Bukannya kekayaan karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan yang sesunggunnya adalah kaya hati (HR. Bukhari Muslim).
Sabda Rasulullah Saw, para pengasuh anak yatim dan fakir miskin di akhirat nanti, mereka berada di surga bersama Rasulullah Saw.  Mereka tidak bisa dipisahkan, ibarat yang satu jari tengah dan yang lainnya jari telunjuk.

UUD RI pasal 34 (1) mengamanahkan, bahwa “fakir-miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Memelihara mereka harus dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, misalnya menyediakan menu makanan dan minuman yang sehat lagi sempurna, pakaian dan tempat tinggal yang layak, sebagaimana penulis saksikan sendiri di Jepang dan di China, tidak sedikit diantara  mereka tinggal di rumah susun di tengah-tengah kota dengan fasilitas yang memadai, dan memperoleh pendidikan bermutu.

Sekarang ini, banyak orang menjadi tidak berdaya atau mengalami gangguan jiwa (depresi mental) serius, akibat mereka sudah kehilangan harapan dalam hidupnya dampak dari kemiskinan. Mereka harus diselamatkan dengan memberi pertolongan yang baik dan benar.

Anak yatim dan fakir-miskin tidak hanya butuh makan enak dan pakaian bagus hanya di saat lebaran, melainkan untuk selama-lamanya. mereka perlu tumbuh-kembang sesuai fitrah atau potensi yang dimilikinya. Ketika mereka ingin memakan ikan, maka para pengasuhnya harus  memberinya pancing, artinya kepada mereka tidak boleh dibiasakan manja dan serba instant, melainkan diajari untuk mendapatkan sesuatu harus melakukan sesuatu karena Allah Swt tidak pernah memberikan sesuatu dari apa yang tidak diperbuatnya.

Pola menyantuni mereka harus diubah, antara lain penulis tawarkan pola asuh “Rumahku adalah Pantiku”, artinya anak yatim dari keluarga miskin secara ekonomi itu diperlihara, diasuh sekaligus menjadi orang tua angkat dan tinggal bersama keluarga angkatnya yang mampu secara ekonomi dan tentu saja kaya hatinya, setidaknya 1 (satu) orang sesuai kemampuannya. Mereka menjalani kehidupan bersama dengan tanggung jawab masing-masing.

Melalui pola panti ”Rumahku Pantiku” ini, menurut penulis akan: (1) merubah citra diri negatif generasi muda yang tinggal di panti. Maxwell Maltz (2004) dalam bukunya “The New Psycho-Cybernetics” menyatakan bahwa citra diri adalah konsepsi atau keyakinan kita tentang siapa diri kita, dan ia merupakan kunci kepribadian. Setiap orang senantiasa bertindak, merasa, serta berperilaku sesuai citra dirinya sendiri, terlepas dari besar-tidaknya citra diri tersebut. Tidak ada perubahan perilaku nyata yang bisa berlangsung tanpa adanya perubahan citra diri.

Oleh karena itu, anak yatim dan fakir miskin yang seringkali dicitrakan sebagai kaum dhu’afa yang lemak, tidak berdaya dan memiliki kepribadian terpecah, seperti suka meminta-minta, malas, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab, dari sejak kecil memiliki kebiasaan merokok, prestasi belajar dan akademik rendah dapat berubah. Menyadari bahwa status miskin yang disandangnya bukanlah dilahirkan, melainkan lebih karena rekonstrusi sosial kemanusiaan yang diciptakan melalui endidikan dan pembelajaran, maka sejak dulu hingga sekarang sejarah membuktikan bahwa anak yatim dan anak fakir-miskin bukan kelompok masyarakat yang lemah, banyak diantara mereka mencapai prestasi besar dan mereka tidak lupa asal usulnya, ibarat pepatah lah “tidak lupa kacang akan kulitnya”.

Sonia Carson, ibuda Benjamin Carson dan orang tua Palmer yang menolak bantuan jaminan sosial pemerintahnya karena menurut mereka menerima jaminan sosial tersebut kurang mendidik, dan tidak baik dalam membangun citra diri positif anak-anaknya. Dua orang ibu miskin ini merelakan dan mengikhlaskan dirinya bekerja keras siang dan malam menjadi pembantu di banyak rumah orang kaya demi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah bermutu di negerinya. Terbukti belum berusia 27 tahun, anak-anak mereka telah mencapai prestasi akademik (doktor) luar biasa dimana prestasi seperti itu belum pernah diraih oleh orang Amerika.

Robert Kiyosaki (2015) dalam bukunya “Why “A” Students Work for “C” Students and “B” Student work for The Government”mengatakan bahwa banyak penyebab terjadinya depresi baru di era modern ini, diantaranya; program jaminan sosial yang melahirkan generasi lemah dengan mentalitas  “Jaminan Sosial”, dalam arti menggantungkan hidupnya pada belas kasih orang lain, baik pemerintah maupun lembaga sosial masyarakat lainnya.

Selama ini pola pikir (mindset) kita pada umumnya, panti asuhan adalah sebuah tempat yang diperuntukkan bagi kaum dhu’afa (lemah) secara ekonomi, padahal jumlah dhu’afa secara social, emosional, dan spiritual jauh lebih banyak, tidak terkecuali diderita oleh banyak orang kaya. Berarti, bukan hanya anak yatim dan miskin yang perlu sebuah panti, orang mampu dan kaum beradapun memerlukan banyak panti yang dapat berfungsu sebagai laboratorium kemanusiaan bagi seluruh anggota keluarganya untuk mengasah berbagai kecerdasannya, seperti; sosial, emosional, spiritual, moral dan akhlak mulia.

Mengakhiri opini ini, penulis menegaskan kembali bahwa, selain negara bertanggung jawab menyediakan fasilitas dan pelayanan sebuah panti (pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan) yang baik, orang kaya harta dan kaya hati harus berusaha menjadikan rumahnya sebagai sebuah panti yang dapat berfungsi sebagai sebuah sekolah atau universitas kehidupan bagi anggota keluarganya (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Ketua BAP S/M Kalbar)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Publikasii Ilmiah Guru

Korban Salah Didik

Calon Guru Bersertifikat Pendidik

Membumikan Pendidikan

Mutu atau Mati