Revolusi Mental

Opini Ilmiah


Senin, 21 Juli 2014 - 13:44:04 WIB | dibaca: 1501 pembaca



Foto: di Lereng Gunung Fujiyama Jepang

Oleh: Aswandi
 
Sebelum debat calon presiden RI ke-7 dilaksanakan, Bapak Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan sebuah wacana perlunya “Revolusi Mental” bagi bangsa ini. Tentu saja wacana tersebut telah dipikirkan secara matang setelah beliau membaca, mengamati dan merasakan sendiri betapa seriusnya masalah mentalitas ini.  
Ensiklopedia Britenica memuat sebuah entry berjudul “Malay” yang isinya antara lain menjelaskan bahwa orang melayu (Indonesia) memiliki mental “Pemalas, suka bersolek dan suka selamatan atau kenduri.

Syed Hussien Alatas dalam bukunya “Mitos Pribumi Malas” memberikan sebuah kajian akademik yang mendalam, akhirnya menyimpulkan bahwa melayu malas hanyalah sebuah mitos atau ketidakbenaran/kepalsuan yang dipercaya.

Wajah buruk bangsa ini digambarkan Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia”, ia mengemukakan setidaknya terdapat enam sifat manusia Indonesia, yakni; (1) munafik atau hipokrit, diantaranya menampilkan dan menyuburkan sifat Asal Bapak Senang (ABS); (2) enggan atau segang bertanggung jawab atas perbuatannya; (3) bersikap dan berperilaku feodal; (4) percaya takhyul; (5) artistik atau berbakat seni, dan (6) lemah watak dan karakternya.
Di bagian akhir bukunya, Mochtar Lubis menyimpan optimisme atas kelemahan mentalitas bangsa ini yang menurut beliau dapat diperbaiki asal kita menyadari dan mau mengurangi perbuatan buruk dengan melakukan perbuatan baik, dan menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik.

Koentjaraningrat seorang begawan antropologi Indonesia yang diakui dunia menulis sebuah buku berjudul “Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan” menegaskan bahwa sikap mental dalam arti keseluruhan isi pikiran dan jiwa orang Indonesia umumnya belum siap untuk pembangunan, ditandai antara lain; bekerja tidak secara sungguh-sungguh, berorientasi masa lampau, menggantungkan hidup pada nasib bukan pada kerja keras dan kerja cerdas, orientasi vertikal kepada penguasa, suka menerabas atau jalan pintas dalam mencapai sesuatu, tidak menghargai mutu, dan daya saing rendah. Sementara mentalitas pembangunan yang diharapkan bercirikan antara lain; (1) berorientasi ke masa depan atau visioner; (2) berinovasi untuk pemanfaatan sumber daya secara optimal; (3) berorientasi pada mutu (4) mempunyai keinginan hidup yang lebih baik; (5) berdedikasi, tidak tergantung pada orang lain dan percaya diri; (6) teliti, hemat, bertanggung jawab dan berdisiplin.

Tidak bisa dibantah, lemahnya mental dan watak bangsa ini. seperti pemilu yang baru saja kita lakukan diramaikan oleh politik transaksional, seperti politik uang. Melihat kondisi keterpurukan mentalitas bangsa pada pemilu dalam memilih pemimpinnya sebuah pertanda bahwa “Kematian Kepemimpinan” sudah di depan mata. Tidak mustahil jika hal ini terus dibiarkan dan tidak mendapat perbaikan, maka pada saatnya nanti, bangsa ini kembali menjadi bangsa primitif, bukan menjadi bangsa yang beradab dan bermartabat.

Upaya memperbaiki kelemahan mental ini telah dilakukan jauh sebelum kemerdekaan atau di saat penjajahan, terutama oleh para pejuang kemerdekaan pada saat itu hampir semua gerakan yang mereka lakukan  dimaksudkan untuk memperbaiki mentalitas bangsa yang sangat buruk dan lemah itu. Kemudian setelah kemerdekaan, upaya memperbaiki mentalitas bangsa ini terus dilakukan hingga saat ini, masih dalam momori ingatan kita, dimana Soekarno bapak pendiri bangsa ini menyampaikan sebuah tema besar dalam pembangunan bangsa, yakni “Character Building”.  Terakhir Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI  mengimplementasikan pendidikan karakter dan memperbaiki kurikulum yang dikenal dengan sebutan “Kurikulum 2013” juga kembali merubah paradigma pendidikan dan pembelajaran berorientasi pada sikap atau mental ini.

Dalam sudut pandang agama, revolusi mental ini jauh lebih awal lagi, Rasulullah Saw diturunkan ke muka bumi ini membawa misi utama memperbaiki mentalitas umat manusia melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang baik dan benar.

Jadi, wacana “Revolusi Mental” yang disampaikan oleh bapak Joko Widodo (Jokowi) calon presiden RI ke-7 bukanlah sesuatu hal yang baru bagi bangsa ini. Namun tetap dipandang suatu hal sangat penting dan relevan dalam pembangunan bangsa ini.

Mahatma Gandhi mengatakan semua tergantung pada karakter atau mentalitas manusianya. Ingin menjadi negara maju yang adil, sejahtera, beradab dan bermartabat  tergantung pada karakter dan mental, demikian sebaliknya. Penulis mengalami sendiri tinggal sebulan di Jepang. Sebuah negara maju yang di tahun 1942 luluh lantak dibom oleh sekutu. Tidak jauh berbeda kondisinya dengan bangsa Indonesia saat merdeka di tahun 1945. Keyakinan penulis negara Jepang melejit menjadi negara maju jauh meninggalkan bangsa ini karena karakter kuat yang dimilikinya, seperti kerja keras dengan sungguh-sungguh (boshido), menghargai waktu, berdisiplin, dan bersih, demikian pula, bangsa ini lemah karena mentalitas itu.

Siapapun presiden RI Ke-7 pilihan rakyat nanti, penulis mendukung wacana “Revolusi Mental” yang kembali dipopulerkan oleh bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla,  tentu saja melalui proses pendidikan dan pembelajaran  bermutu dan bermakna, dilakuakn secara bersinergis. Sementara makna revolusi di sini tidak dimaksudkan merubah secara total sistem pendidikan yang sudah ada, melainkan sebuah perubahan yang dipercepat karena diyakini bahwa lebih cepat itu lebih baik. Lagi pula bangsa ini bukanlah bangsa berbudaya revolusioner dalam setiap kali melakukan perubahan, melainkan sebuah bangsa yang berubah secara bertahap dan terencana. Sebagaimana pendapat Mahatma Ghandi dan para pakar perubahan perilaku lainnya bahwa setiap perubahan mentalitas selalu diawali oleh perubahan pola pikir. Oleh karena itu mereka mengingatkan sebuah ungkapan; “Perhatikan pikiranmu karena ia akan menjadi kata-katamu, perhatikan kata-katamu karena ia akan menjadi perilakumu, perhatikan perilakumu karena ia akan menjadi kebiasaanmu dan perhatikan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karakter atau mentalitasmu”. Pakar pendidikan mengemukan strategi pembentukan karakter, watak atau mental melalui; pembiasaan, contoh atau tauladan, dilakukan secara terintegrasi dengan bidang lainya (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kelulusan Calon Mahasiswa Baru Program Pascasarjana S2 Kependidikan FKIP UNTAN TA 2014/2015

Kuat dan Terpercaya

Standarisasi Penilaian Pendidikan

Informasi Jadwal Tes bagi Calon Dosen Kontrak FKIP Untan Tahun 2014

Bahagia Bersama Keberagaman