Revolusi Mental Bidang Pendidikan

Oleh: Aswandi
 
MAHATMA Gandi menyatakan, “Segala sesuatunya tergantung pada mental atau karakter”. Mau maju atau mundur, mau berhasil atau gagal, dan sejenisnya “lose or win” tergantung pada mental.

John P. Kotter dan Dan S. Cohen (2014) dalam bukunya “The Heart of Change” menyatakan hal yang sama bahwa jantung perubahan bukan berada dalam pikiran, melainkan pada mental, yakni: “Sikap atau Perasaan”.

Dikatakan, “Orang mengubah apa yang mereka lakukan bukan karena mereka diberi analisis yang mengubah pikiran mereka, namun lebih karena mereka ditunjukkan sebuah kebenaran yang mempengaruhi perasaan mereka”. 

Tantangan tunggal terbesar dalam setiap perubahan adalah mengubah sikap mental. Kunci dan pergeseran sikap mental tersebut tampak jelas dalam perubahan atau transformasi yang sukses, tidak terlalu banyak kaitannya dengan analisis oleh pikiran, namun lebih cenderung terkait dengan melihat dan merasakan. Jadi, tidak adanya perubahan atau sulitnya melakukan perubahan berawal dari melihat dan merasakan realitas (perseption of reality) yang berbeda.

Mentalitas bangsa Indonesia digambarkan oleh para pakar berikut ini. Ensiklopedia Britenica mengambarkan mentalitas orang melayu, maksudnya “Orang  Indonesia” adalah pemalas, suka bersolek dan suka selamatan atau kenduri.

Syed Hussien Alatas dalam bukunya “Mitos Pribumi Malas” memberikan sebuah kajian akademik yang mendalam, akhirnya menyimpulkan bahwa melayu malas hanyalah sebuah mitos atau ketidakbenaran/kepalsuan yang dipercaya, bukan realitas yang sesungguhnya.

Wajah buruk bangsa ini digambarkan Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia”, setidaknya memiliki sifat, antara lain: (1) munafik atau hipokrit. Jika bicara bohong, dipercaya namun tidak amanah, dan ingkar janji; (2) enggan atau segan bertanggung jawab atas perbuatan salahnya, dan; (3) bersikap dan berperilaku feodal akibatnya muncul budaya Asal Bapak Senang (ABS), ibarat membelah bambu, mengangkat ke atas dan menekan ke bawah, penguasa di puja-puji sementara rakyat kecil diinjak-injak.

Di bagian akhir bukunya, sekalipun kondisi mentalitas bangsa ini berpenyakit, Mochtar Lubis menyimpan optimisme bahwa mentalitas bangsa yang lemah ini dapat diperbaiki asal kita menyadari dan mau mengurangi perbuatan buruk dengan melakukan perbuatan baik, dan menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik.

Koentjaraningrat seorang begawan antropologi Indonesia yang diakui dunia menulis sebuah buku berjudul “Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan” menegaskan bahwa sikap mental dalam arti keseluruhan isi pikiran dan jiwa orang Indonesia umumnya belum siap untuk pembangunan, ditandai antara lain; bekerja tidak sungguh-sungguh, berorientasi masa lampau, menggantungkan hidup pada nasib bukan pada kerja keras dan kerja cerdas, orientasi vertikal kepada penguasa, suka menerabas atau jalan pintas dalam mencapai sesuatu, tidak menghargai mutu, dan daya saing rendah.

Sementara mentalitas pembangunan yang diharapkan bercirikan antara lain; (1) berorientasi ke masa depan atau visioner; (2) berinovasi untuk pemanfaatan sumber daya secara optimal; (3) berorientasi pada mutu; (4) mempunyai keinginan hidup yang lebih baik; (5) berdedikasi, tidak tergantung pada orang lain dan percaya diri; (6) teliti, hemat, bertanggung jawab dan berdisiplin.

Upaya memperbaiki kelemahan mentalitas bangsa ini telah lama dilakukan, jauh sebelum kemerdekaan atau di saat penjajahan, terutama oleh para pejuang kemerdekaan pada saat itu. Kemudian setelah kemerdekaan, upaya memperbaiki mentalitas bangsa ini terus dilakukan hingga saat ini, namun tetap saja belum membuahkan hasil sebagaimana diharapkan.

Revolusi mental yang dicanangkan oleh bapak Ir. Joko Widodo selaku presiden RI setahun lalu dinilai baru sekadar mantra, pemanis bibir saat pejabat negara berbicara. Bapak Anies Baswedan (2015) selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada pengantar sebuah buku berjudul “Kilas Kinerja Pendidikan dan Kebudayaan” mengemukakan 7 (tujuh) upaya revolusi mental bidang pendidikan; yakni: (1) mengubah paradigma pendidikan “berdaya saing” menjadi pendidikan “mandiri dan berkepribadian”; (2) merancang kurikulum berbasis karakter dari kearifan lokal serta vokasi yang beragam berdasakan kebutuhan geografis daerah dan bakat anak; (3) menciptakan proses belajar yang menumbuhkan kemauan belajar dari dalam diri anak; (4) memberi kepercayaan penuh pada guru untuk mengelola suasana dan proses belajar pada anak; (5) memberdayakan orang tua untuk terlibat pada proses tumbuh kembang anak; (6) membantu kepala sekolah untuk menjadi pemimpin yang melayani warga sekolah, dan; (7) menyederhanakan birokrasi dan regulasi pendidikan ketimbang pendampingan dan pengawasan.

Jika bangsa ini ingin menyaksikan terjadinya revolusi mental, barangkali semua kita dapat memulainya dari lingkungan sekitar kita, yakni mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulai dari sekarang (Penulis, Dosen FKIP Untan)