Ramadhan Pembentuk Kakarter

Opini Ilmiah


Jumat, 25 Juli 2014 - 09:00:48 WIB | dibaca: 419 pembaca




Oleh: Aswandi

SEGALA sesuatunya karena karakter. Sehebat apapun reputasi, popularitas, dan kekayaan yang dimiliki, ia hanya sekilas, akan hilang dengan cepat, bahkan sering kali menjadi petaka. Hanya satu hal yang kekal abadi dan menyelamatkan, yakni karakter. Novelis Walker Percy pernah berkata, “Banyak orang telah mendapatkan banyak hal, tetapi gagal dalam hidupnya”. Dalam karakter warga negara, terletak kesejahteraan bangsanya, demikian kata Cicero. Sejarawan Arnold Toynbee mengamati, dari 21 peradaban penting, 19 (90,5%) peradaban punah, bukan oleh penaklukan dari luar, melainkan pembusukan moral atau karakter dari dalam. Stephen R. Covey mengatakan, “Untuk melakukannya dengan baik, seseorang harus berbuat baik, dan untuk berbuat baik, ia harus terlebih dahulu MENJADI baik.

Jika ia belum menjadi baik atau belum menjadi contoh yang layak diteladani, sesungguhnya ia telah kehilangan hak moral untuk beramar makruf, dan bernahi mungkar. Persoalan bangsa hari ini sangatlah kompleks dan serius, seperti koruptor berusia muda (20-40 tahun), dan berpendidikan tinggi sebanyak lebih 52% berpendidikan S2 dan S3. Thomas Lickona (2012) dalam bukunya “Character Matters” mengatakan bahwa “Anak-anak sekarang ini lebih sinis dari yang pernah ada tentang kurangnya kejujuran yang mereka lihat dalam dunia orang dewasa”.

Rhenald Kasali (2013) dalam bukunya “Camera Branding” mengatakan bahwa konsep hidup sekarang ini lebih banyak dipengaruhi oleh orang asing ketimbang oleh ayah-ibu dan yang diajarkan oleh bapak-ibu guru mereka. Orang asing yang dimaksud adalah televisi, komputer, laptop, cell phone, iPod, iPad, android, twiter, facebook dan line yang semakin vulgar”.

Kondisi karakter yang sedemikian buruknya dapat diubah atau diperbaiki melalui proses perubahan dan pendidikan yang baik dan benar.

Bulan suci ramadhan, selama 29 atau30 hari adalah waktu yang cukup untuk membuat perubahan besar bagi setiap orang yang ingin mengalami perubahan perilaku. Firman Allah Swt, Hadist dan Ijma’ yang mendasari perintah berpuasa pada bulan suci ramadhan memberi dasar pijakan yang sangat kuat terhadap asumsi di atas, diantaranya; “Wahai orang-orang yang beriman, Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Demikian sebaliknya, “Barang siapa yang tidak berpuasa 1 (satu) hari dalam keadaan tidak mendapat keringanan dari Allah, maka puasa sepanjang masa tidak dapat menebusnya, walaupun ia melakukannya”, riwayat Abu Hurairah ra.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Maryam (19):26 bahwa puasa adalah menahan atau mengendalikan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, yaitu mulai dari fajar hingga matahari terbenam, dan disertai dengan niat. Kemudian pakar perubahan perilaku menyatakan hal yang sama bahwa setiap kali melakukan perubahan diperlukan niat/komitmen, modifikasi lingkungan, monitoring dan evaluasi serta pengekangan aktif.

Dibagian lain, Abu Hurairah ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa karena sesungguhnya puasa itu untukKU dan AKU yang akan membalasnya”, karena semua yang dikerjakan dan ditinggalkan untuk Allah; Ia meninggalkan syahwatnya, makannya, dan minumnya karena ketaatannya kepada Tuhannya, Allah SWT.

Sabda Rasulullah Saw mengajarkan bahwa puasa itu adalah tameng. Apabila salah seorang diantara kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan bertindak bodoh. Apabila seseorang ingin bertengkar dengannya atau mencaci makinya, hendaklah ia berkata; “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” sebanyak dua kali.  

Firman Allah SWT dan Sabda Rasulullah Saw tersebut menegaskan bahwa berpuasa di bulan suci ramadhan mengandung makna implementasi pendidikan karakter, antara lain menanamkan nilai; keiklasan, ketaatan, kepatuhan, dan pengendalian diri.

Kenyataannya, berpuasa di bulan suci ramadhan selama 30 hari dan ada yang mengamalkannya dari sejak kecil, artinya hampir seumur hidupnya ia berpuasa, namun kualitas muttaqin dan karakternya masih sangat rendah berarti ada permasalahan serius pada diri orang yang telah berpuasa itu dan puasa ramadhan yang dijalaninya selama ini, seperti keimanan yang masih berpenyakit, kurang mensyukuri nikmat bulan suci ramadah, menjalani ibadah puasa kurang sesuai dengan syariatnya, faktanya masih rendahnya kecerdasan menahan dan mengendalikan diri di bulan puasa.  

Menurut penulis, kurang efektifnya puasa sebagian umat, pertama dan utama disebabkan oleh kualitas keimanan kepada Allah SWT masih sangat rendah. Faktanya, umat ini belum sembuh dari penyakit keimanan, seperti penyakit Tahayul, Bid’ah dan Churafat (TBC).

Bersyukurlah dan bergembiralah datangnya bulan suci ramadhan ini dan barangkali tahun ini adalah ibadah puasa ramadhan terakhir buat kita. Ramadhan menemui kita menandai Allah SWT secara nyata menyayangi umatnya, yakni; (1) Di saat pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu, Allah Swt memberi kesempatan umatnya membangunkan kesadaran pribadi untuk beribadah  kepadaNya; Jika di saat seperti ini, umatnya tetap saja melalaikan ibadah puasanya berarti seperti itulah kondisi umat sesungguhnya; (2) Allah Swt memberi kesempatan bagi umatnya untuk menghapus dosa. Sekecil apapun dosa, akan menyiksa kita. Kisah umat yang lalai dalam buang air kecilnya, lupa bersuci mendapat siksa di alam kuburnya, padahal ia juga berbuat banyak kebaikan semasa hidupnya.

Demikian pula dalam proses menjalani ibadah puasa, jalani ibadah puasa yang pahalanya untuk Allah Swt dan Allah Swt yang membalasnya ini, mulai dari niat yang tidak sekedar untuk menggugurkan kewajiban keagamaan semata, ciptakan atmosfir atau suasana religious di bulan suci ini sehingga terasa lebih khusuk dan berbeda dari bulan-bulan lainnya, selalu memonitor dan mengevaluasi kualitas berpuasa yang dijalani setiap harinya guna meningkatkan kualitas buasa pada hari berikutnya.

Gunakan kesempatan di bulan suci ini untuk belajar menahan dan mengendalikan diri karena karakter tersebut sangatlah penting, namun menjadi sisi lemah pada sebagian umat sekarang ini. Terutama ketika umat memperoleh kenikmatan atau kelebihan dariNya. Umat manusia lebih banyak tidak mampu menahan atau mengendalikan diri atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt kepadanya, bahkan mereka lupa kepadaNya karena nikmat itu. Berbeda sekali saat mereka mendapat musibah atau penderitaan, merekapun ingat Allah Swt, meminta dan memohon untuk segera dikeluarkan dari penderitaan itu. Misalnya, nikmat sebuah jabatan, belum berakhir jabatannya, mereka sudah memikirkan dan mengusahakan untuk mempertahankan jabatan yang sedang diamanahkan kepadanya, jabatan tersebut sering kali mengandung dusta diantara mereka, sehingga diantara mereka semakin tidak tahu mana kawan dan mana lawan, akibatnya komunikasi diantara mereka berjalan kurang efektif dan penuh curiga (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)  



Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Persyaratan untuk Mengambil Ijazah dan Akta Mengajar IV

Pengumuman Bagi Peserta Prakondisi SM-3T Angkatan IV Tahun 2014 LPTK Universitas Tanjungpura

Revolusi Mental

Kelulusan Calon Mahasiswa Baru Program Pascasarjana S2 Kependidikan FKIP UNTAN TA 2014/2015

Kuat dan Terpercaya