Publikasi Ilmiah Guru

Oleh: Aswandi

FENOMENA akhir-akhir ini, guru disibukkan untuk mengikuti  bimbingan teknis Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terkait diterapkannya Permenneg PAN dan RB No.16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya sebagai pengganti Permenneg PAN No. 84/1993 tentang hal yang sama.

Beberapa perubahan terjadi, terutama pada unsur publikasi ilmiah. Peraturan lama mewajibkan publikasi ilmiah mulai kenaikan ke pangkat/jabatan guru Pembina TKI/IVB, sementara Permen baru lebih awal, yakni ke pangkat/jabatan Guru Muda/IIIC. Ketika diperlakukan Permenneg lama dimana keharusan publikasi ilmiah bagi guru yang naik pangkat/jabatan ke Pembina/IVB tidak kurang 800.000 orang guru di Indonesia tidak naik pangkat/golongan karena ketidakmampuannya meneliti, menulis dan mempublikasikan karya tulis ilmiahnya sekalipun mereka sudah mengikuti diklat, bimtek dan sejenisnya tentang KTI dan PTK tersebut, terutama para guru di provinsi Kalimantan Barat. Hal ini terjadi disebabkan beberapa hal, diantaranya; (1) literasi menulis dan meneliti para guru belum tumbuh subur atau belum membudaya; (2) masih kurang seriusnya pemerintah mendorong dan memfasilitasi guru dalam kegiatan meneliti dan menulis, barangkali akibat kurang dan salah paham mereka tentang profesi guru sebagai pendidik professional, bermartabat dan sejahtera. Terbukti, ketidakseriusan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota  saat ini antara lain terlihat masih belum dan/atau lambatnya pembentukan tim penilai jabatan fungsional guru dan angka kreditnya secara definitif, belum efektif dan efisiennya implementasi penilaian kinerja guru yang akan berdampak pada penilaian angka kredit guru, belum tersosialisasi dengan baik Permenneg PAN dan RB No16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya di kalangan guru, terutama berkaitan dengan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan; (3) belum secara sungguh-sungguh dilakukan pendampingan kepada guru dalam kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Karya Tulis Ilmiah.

Harus dipahami dan disadari, terutama oleh para guru dan pemangku kepentingan lainnya bahwa kegiatan menulis karya ilmiah dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tersebut berdampak sangat luas, tidak hanya untuk mempercepat prosen Perolehan Angka Kredit (PAK) guna memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru, melainkan jauh lebih penting adalah meningkatkan profesionalisasi guru berkelanjutan secara mandiri. Jika dicermati permen baru tentang jabatan fungsional guru terlihat jelas bahwa pengakuan tinggi terhadap guru karena mereka melakukan publikasi ilmiah yang dilakukan secara mandiri; menulis buku pelajaran dan melakukan penelitian tindakan kelas, misalnya.

Argumentasi lain, penting dan strategisnya profesionalisasi guru melalui meneliti dan menulis sebagaimana diperkuat oleh Richardson yang menyatakan; ”Jika kita ingin para guru mengadopsi sesuatu yang baru, maka kita harus memberi waktu kepadanya untuk merefleksi teori tentang bagaimana peserta didik belajar atau memperoleh informasi. Para guru berfungsi sebagai reflective practitioner, researcher dan melaksanakan action research, demikian Bracey dalam artikelnya berjudul ”Teachers as Researchers” pada Phi Delta Kappan, edisi Januari 1991.

Kehadiran Permenneg PAN dan RB No.16/2009, Juklak Nomor 03/V/PB/2010 dan No. 14 /2010, Juknis No.35/ 1020 mengakomodasi asumsi tersebut di atas dan memberi akses pada guru untuk tumbuh kembang dalam jabatannya sebagai pendidik professional, bermartabat dan sejahtera.

Publikasi Ilmiah, meliputi 2 (dua) kegiatan, yakni; publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal dan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan dan pedoman guru. Dua kegiatan tersebut dijabarkan menjadi 10 (sepuluh) jenis kegiatan, yakni; (1) menulis makalah pemrasaran/nara sumber dalam Forum Ilmiah; pada seminar atau lokakarya ilmiah, kologiun dan diskusi ilmiah; (2) Laporan Hasil Penelitian, terutama PTK, baik berupa buku yang diterbitkan ber ISBN dan diedarkan secara nasional atau adanya pengakuan dari BSNP, berupa tulisan atau artikel ilmiah yang dimuat di jurnal ilmiah tingkat nasional dan provinsi yang terakreditasi dan diterbitkan di jurnal ilmiah tingkat kabupaten/kota; (3) makalah Tinjauan Ilmiah di Bidang Pendidikan Formal dan Pembelajaran; (4) Artikel ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran, tingkat nasional dan tingkat provinsi; (5) Artikel di bidang pendidikan formal dan pembelajaran, jurnal tingkat nasional dan provinsi terakreditasi, serta jurnal tingkat lokal, yakni kabupaten/kota/sekolah/madrasah; (6) Buku pelajaran; (7) Modul dan diktat yang digunakan di tingkat provinsi, kota/kabupaten dan di sekolah/madrasah. (8) Buku  pendidikan; (9) Karya Terjemahan, dan (10) Buku Pedoman Guru. Karya tulis ilmiah guru dapat ditulis secara kolektif sebanyak 2-4 orang guru dengan penghargaan yang berbeda sesuai proporsi masing-masing.

Selama ini Karta Tulis Ilmiah dan Penelitian Tindakan Kelas menjadi kendala utama percepatan karier guru, karena itu tidak semua karya tulis ilmiah dan PTK yang mereka usulkan disetujui oleh tim penilai. Rambu yang digunakan oleh tim penilai KTI dan PTK adalah; Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten, disingkat APIK.

Publikasi Ilmiah DITOLAK, karena diragukan ke-ASLIANNYA: (1) terdapat banyak data yang tidak konsisten, seperti nama penulis, nama sekolah, lampiran, foto dan data yang tidak sesuai; (2) waktu yang digunakan untuk penelitian kurang wajar; (3) adanya perbedaan kualitas; cara penulisan, gaya bahasa yang menjolok diantara karya-karya yang dibuat oleh guru yang sama; (4) terlalu banyak kesamaan yang menjolok diantara publikasi ilmiah yang dibuat pada waktu yang berbeda, seperti foto, dokumen, surat penyataan sama antara satu dan yang lain; (5) adanya banyak kesamaan yang dibuat guru lain dari daerah yang sama; sekolah, kab/kota, dan wilayah yang sama.

Publikasi Ilmiah DITOLAK, karena alasan PERLU tidaknya: (1) terlalu luas, umum, tidak terkait permasalahan nyata di sekolah/kelas, tidak berkaitan langsung dengan kegiatan guru di kelas; (2) tidak terkait dengan hal spesifik bidang keilmuan; (3)  tidak sesuai tugas sebagai guru, dan (4) karya tulis yang disampaikan berupa RPP, soal ujian, LKS, dan sebagainya yang tidak dapat digolongkan sebagai KTI.

Publikasi Ilmiah DITOLAK, karena alasan ILMIAH; (1) belum memenuhi kaidah umum karya tulis ilmiah yang sistematis dan sistemik, seperti adanya kesatuan yang utuh dari unsur berikut ini; (2) masalah; belum menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang didukung data dan fakta; (2) lemahnya teori digunakan; (3) kesalahan metodologis; (4) kesalahan data dan analisisnya; (5) kesimpulan tidaksesuai masalah..

Publikasi Ilmiah DITOLAK, karena alasan KONSISTEN tidaknya; (1) KTI tidak sesuai tugas guru; (2) telah kadaluarsa; (3) pernah dinilai dan disarankan untuk perbaikan, namun tidak dilakukan; (4) sudah ditolak, dan disarankan membuat yang baru, namun masih diusulkan;(5) permasalahan tidak sesuai dengan tugas si penulis sebagai guru; (6) tidak jelas jenis karya tulisnya sebagaimana aturan yang berlaku (Penulis, Dosen FKIP Untan, Tim Penilai Pusat Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya)