Proses Menjadi Seorang Pemimpin

Opini Ilmiah


Selasa, 08 September 2015 - 10:30:54 WIB | dibaca: 1263 pembaca


Oleh: Aswandi
 
DALAM waktu dekat, kurang lebih tiga bulan ke depan,  di bulan Desember 2015 akan diselenggarakan pemilihan pemimpin (kepala daerah) secara serentak, baik memilih walikota/bupati dan gubernur. Di Kalimantan Barat  sendiri, 7 (tujuh) kabupaten akan menyelenggarakan pemilihan bupati, yakni kabupaten: Sambas, Bengkayang, Ketapang, Kapuas Hulu, Melawi, Sintang dan Sekadau.

Sebelum mengikuti semua tahapan pemilihan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan, seorang calon pemimpin harus menyadari sebuah asumsi bahwa menjadi seorang pemimpin adalah sebuah proses yang mulai disemai dari sejak kecil, dipelihara atau dirawat dengan baik pertumbuhannya agar menghasilkan buah kepemimpinan yang efektif. Ibarat menanam sebatang pohon. Jika pohon tersebut diharapkan menghasilkan buah yang banyak dengan kualitas baik, maka mulai pemilihan bibit, perawatan dan pemeliharaan pohon tersebut harus dilakukan secara baik pula. Pendapat senada menyatakan, “menjadi seorang pemimpin sangat mirip dengan berinvestasi dalam pasar saham. Jika Anda mengharapkan kaya dalam satu hari. Anda takkan berhasil”, demikian Maxwell.

John C. Maxwell (2003) dalam bukunya “The Right to Lead” mengatakan bahwa hak memimpin hanya dapat diusahakan melalui proses belajar yang membutuhkan waktu panjang”, sementara peluang menjadi seorang pemimpin karena dilahirkan atau faktor genetik sangatlah kecil.   

Zenger, Folkman, Sherwin and Steel (2013) dalam bukunya “How to Be Exeptional” menyampaikan hasil riset yang menyatakan bahwa sekitar 32%  kemampuan memimpin karena faktor genetik, selebihnya sebesar 68% kemampuan memimpin dibentuk oleh lingkungannya melalui proses belajar mengembangkan kekuatan, bukan mengatasi kelemahan. Dan yang menjadikan seseorang pemimpin besar atau hebat adalah keberadaan kekuatan, bukan ketiadaan kelemahan. Para pemimpin belajar bahwa semakin banyak orang yang mereka sertakan (berdayakan) dalam kemajuan mereka, semakin tumbuh dan berkembang kemampuan kepemimpinannya”, artinya pengalaman memimpin adalah modal penting bagi keberhasilan kepemimpinan.
Dengan kata lain, kepemimpinan adalah kepengikutan artinya seorang pemimpin yang baik berasal dari pengikut yang baik, sebaliknya kurang pengalaman dalam memimpin sekalipun sang pemimpin banyak duitnya, maka pemimpin tersebut hanya menjadi santapan empuk atau ibarat sapi perasan bagi para pecundang.
William Ouchi (1985) menulis sebuah buku berjudul “Teori Z menyebutkan satu ciri penting pada manajemen Jepang adalah promosi yang lambat dimana seseorang diberi kesempatan menjadi pemimpin setelah memiliki banyak pengalaman dan wawasan di banyak bidang lain.

Ram Charan (2010) dalam bukunya “Leaders at All Levels” menyatakan hal yang sama bahwa kemampuan memimpin terbentuk dari praktek dan koreksi diri. Pemimpin harus berulang kali membenamkan diri dalam kerumitan selama karier mereka sebagaimana ungkapan; learning to day, leader tomorrow.

Brian Tracy (2014) dalam bukunya “How the Best Leaders Lead” menyatakan bahwa para pemimpin membentuk dan mengembangkan dirinya sendiri. Mereka terus menerus memperbaiki dan memperbaharui diri mereka, belajar, berkembang dan menjadi lebih cakap dan kompeten dari masa ke masa.

John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” mengemukakan hukum proses dalam kepemimpinan yakni “Kepemimpinan berkembang setiap hari, bukan dalam sehari”. Menurutnya, kemampuan memimpin sesungguhnya merupakan kumpulan dari berbagai ketrampilan yang hampir seluruhnya dapat dipelajari serta ditingkatkan.

Kemampuan untuk berkembang serta meningkatkan ketrampilannyalah yang membedakan pemimpin dari pengikutnya. Pemimpin yang sukses adalah orang yang belajar. Berdasarkan penjelasan teoretik tersebut di atas, semakin jelas bahwa menjadi seorang pemimpin (bupati) melalui proses yang baik dan dalam waktu yang panjang, tidak melalui loncat jabatan atau tidak tiba-tiba muncul mencalonkan diri menjadi pemimpin, tanpa memiliki wawasan, pemahaman dan pengalaman yang memadai tentang kepemimpinan itu.

Arnord Toynbee mengingatkan dalam tesisnya bahwa kemajuan sebuah bangsa (daerah) hanya terjadi apabila terdapat respons atau tanggapan yang tepat terhadap masalah dan tantangan yang dihadapinya. Tesis tersebut mengingatkan bahwa pemimpin yang muncul dadakan diragukan kemampuannya dapat merespons secara tepat dan baik tentang masalah dan tantangan yang dihadapinya.

Rasulullah Saw bersabda pilihlah pemimpin yang kuat dan terpercaya. Pendapat para pakar kepemimpinan, seperti Kouzes & Posner (1999) dalam risetnya menyimpulkan bahwa pemimpin yang dapat dipercaya memiliki 4 (empat) karakteristik utama, yakni jujur, visioner, inspiratif dan cakap. Sementara Brian Tracy menyatakan tujuh karakteristik utama pemimpin efektif, yakni: memiliki visi, memiliki keberanian, memiliki integritas, rendah hati, visioner, fokus dan dapat bekerjasama (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Menjadi Seorang Bupati

Malu pada Semut

Kemerdekaan dan Pendidikan

Ayo Kerja

Thuma’ninah dalam Pembelajaran