Problem Based learnig (PBL)

Opini Ilmiah


Selasa, 12 April 2016 - 10:50:33 WIB | dibaca: 369 pembaca


oleh Leo Sutrisno: Pada tanggal 16 September 2014, Suzie Boss, Jurnalis dan penggiat Problem Based Learning, dari komunitas Edutopia, The George Lucas Educational Foundation – AS, mempertanyakan hasil rangkuman meta analisis John Hattie (2007) khususnya pada effect zise Problem Based Learning (PBL) yang sangat rendah (ES=0.15) pada hasil belajar. Cara memaknai nilai ES adalah memperlakukannya sebagai skor-Z. Nilai ES merujuk pada satuan selisih antara nilai rata-rata yang bersangkutan dan nilai rata-rata pembanding dalam Tabel Distribusi Normal. 

Pada tahun 2007, John Hattie, profesor pendidikan dari Universitas Auckland-Selandia Baru (kini John Hattie di Universitas Melbourne, Australia) menerbitkan hasil rangkuman lebih dari 750 meta analisis hasil pendidikan. Rangkuman ini mencakup lebih dari 50 000 penelitian yang melibatkan lebih dari 200 juta orang siswa dan 80 juta orang guru di seluruh dunia. Ia menemukan 100 macam variabel yang berpengaruh pada hasil pendidikan. Salah satunya adalah implementasi PBL dalam pembelajaran. Ada 203 penelitian yang berfokus pada implementasi PBL.  Pengaruh PBL pada hasil belajar berada pada urutan ke 82 (ES=0.15) dari 100 variabel yang lain. 

Itu  berarti, menurut temuan John Hattie, pembelajaran PBL hanya sekitar 6% lebih baik dari pembelajaran yang bukan PBL. Nilai inilah yang membuat Suzie Boss mempertanyakannya. Mungkin tidak hanya Suzie Boss, tetapi juga pembaca, khususnya para dosen Universitas Tanjungpura yang pada 5-6 April 2016 mengikuti ‘workshop PBL’ sebagai bagian dari Project 7-in-1.

Apa PBL?
PBL adalah salah satu tradisi pembelajaran yang memberi kesempatan siswa/mahasiswa belajar dengan cara mengalami dan menyelesaikan masalah yang (mungkin akan dihadapi) sehari-hari (Vanessa Vega, 5 April 2016, http://www.edutopia.org). Karena itu, siswa/mahasisiwa mesti mengontrol dan mempertanggung-jawabkan sendiri kegiatan belajarnya. Para guru dan dosen bertindak sebagai ‘coach’ dan ‘fasilitator’. 

Dalam praktek di kelas, para guru/dosen membuat ‘soal’ yang berupa ‘masalah’ yang harus diselesaikan siswa/mahasiswa. Yang membuat berbeda dari ‘soal’ yang sering dibuat para guru/dosen adalah kadar realitasnya. Soal-soal dalam tradisi PBL lebih realistis, lebih nyata, lebih kongkrit. Lebih bernuansa dunia nyata ketimbang soal-soal yang sering dibuat para guru/dosen pada umumnya.

Apa kata peneliti lain?
David Gijbels (Universitas Antwerp), Filip Dochy (Universitas Leuven) Piet Van den Bossche (universitas Maastricht), serta Mien Segers (Universitas Leiden), 2009, memeta-analisis 45 penelitian PBL yaitu menerapkan komponen kognitif dari penyelesaian masalah menurut model Surgrue (1995). Ditemukan bahwa ES rata-rata pada pemahaman konsep adalah -0.04, ES rata-rata pemahaman prinsip hubungan antar konsep (0.75) dan ES rata-rata penerapan konsep dan prinsip sebesar 0.40. ES total sebesar 0.33 (meningkat 10%).

Mark Newman, dari Universitas Middlesex – Inggris, 2004 , memeta-analisis 91 penelitian PBL khusus di fakultas Kedokteran. Effect Size pada  ‘accumulation of knowledge’ berkisar antara -4.90 hingga 2.00 dengan ES rata-rata -0.30. Itu berarti lebih rendah sekitar 13% dari tradisi yang lain. 

Andrew Walker dan Heather Leary, dari Universitas Utah – AS, 2009, memeta-analisis 82 penelitian PBL dari berbagai disiplin ilmu. ES rata-rata bidang pendidikan 0.64; ilmu sosial 0.30; kesehatan 0.26; bisnis 0.16; kedokteran 0.09; sains 0.06, dan ilmu rekayasa 0.05. ES rata-rata sebesar 0.13 (lebih baik 5%). Disebutkan juga ada 21 penelitian yang menghasilkan ES negatif. 

Jiyin Zhou, Shiwen Zhou, Chunji Huang, Rufu Xu, Zuo Zhang, Shengya Zeng, dan  Guisheng Qian, 2016, memeta-analisis 16 penelitian PBl pada pendidikan farmasi di Tiongkok. Mereka menemukan ES tersebar antara 0.39 hingga 4.39 dengan rata-rata 1.17 (37% lebih baik). 

Dolmans DH, Loyens SM, Marcq H, dan Gijbels D., 2015, memeta-analisis 21 penelitian PBL di bidang pendidikan kesehatan. Mereka menemukan 4 penelitian justru menghambat proses ‘deep learning’ dan 6 penelitian yang lain tidak menimbulkan efek sama sekali. ES rata-rata 0.08 (meningkatkan sekitar 3%). 

Filip Dochy dari Universitas Leuven-Belgia, Mien Segers, Piet Van den Bossche, dan David Gijbels dari Universitas of Maastricht, Belanda, 2003, memeta-analisis 43 penelitian PBL di bidang pendidikan kesehatan. Mereka menemukan ES rata-rata dalam penguasaan pengetahuan  -0.22, dan ketrampilan 0.46. ES rata-rata gabungan sebesar 0.12 (meningkat sekitar 4%). 

Gabungan dari enam meta-anlisis ini mencakup 298 penelitian PBL yang menghasilkan ES rata-rata 0.25 (meningkat sekitar 10%). Nilai ini cukup tinggi karena memperoleh sumbangan dari 16 penelitian penerapan PBL di pendidikan farmasi di Tiongkok (ES 1.17). Jika sumbangan ini di-‘singkirkan’ maka dihasilkan ES rata-rata sekitar 0.09 (meningkatkan sekitar 4%). Temuan ini konsisten dengan sejumlah temuan lain, termasuk temuan John Hattie 2007. 

Karena itu, ada baiknya penerapan PBL di Indonesia yang sangat gencar ini dipertimbangkan lagi. Semoga!


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Leo Sutrisno

Bicara Pemimpin

Catatan Ujian Nasional

Peran Etnosains dalam MEA

Aktor Kekerasan

Dialog Sains (nalar-Barat) dan Mistik (religius-Timur)