Prediktor Kemajuan Sebuah Bangsa

Opini Ilmiah


Jumat, 20 Juni 2014 - 11:00:33 WIB | dibaca: 1337 pembaca



Oleh: Aswandi

MAJU atau mundur, sukses atau gagal, hidup atau mati sebuah bangsa adalah diskursus yang selalu ada di hadapan kita, kapan dan dimanapun kita berada tanpa mengenal ruang dan waktu. Baik secara pribadi maupun kelembagaan, sejak dahulu hingga sekarang, dan masa yang akan datang semua dihadapkan pada dua pilihan itu.

Ada yang telah melakukan dan memperoleh kemajuan, kesuksesan dan tetap eksis hingga saat ini, dan sebaliknya tidak sedikit yang telah berusaha keras mencapainya, namun belum juga memperoleh hasil sebagaimana yang dinginkan, melainkan mengalami kemunduran, kegagalan, dan kematian. Hal ini menggambarkan bahwa bermodal keinginan dan kemauan saja tidaklah cukup untuk tetap bertahan hidup, masih memerlukan modal-modal lain.

Jika diamati, dikaji dan diteliti secara mendalam ternyata semua kemajuan, kesuksesan, dan eksistensi manusia dikendalikan oleh dan dari diri mereka sendiri sesuai potensi yang dimilikinya. Sebagai orang yang beriman tentu percaya bahwa intervensi Allah SWT diperlukan bagi kehidupan manusia. Ada pendapat menyatakan bahwa potensi yang diinginkan atau diharapkan tidak selalu diturunkan sebagai faktor genetik, melainkan dapat dibentuk melalui proses pengasuhan dan pendidikan. Namun faktor kejujuran terhadap diri sendiri memegang peran yang sangat penting. Barang kali kemunduran, kegagalan kita selama ini lebih disebabkan oleh ketidakjujuran atau kebohongan kita terhadap diri kita sendiri dan dampak ikutannya dengan sangat mudah membohongi orang lain.Jika asumsi ini benar, maka berkepribadian jujur atau tidak berbohong adalah kebutuhan dasar hidup kita untuk memperoleh kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini.

Guna membuktikan asumsi-asumsi tersebut di atas, penulis menelusuri berbagai literatur, dan akhirnya menemukan beberapa prediktor atau faktor yang mempengaruhi kemajuan, kesuksesan dan eksistensi manusia, antara lain kehidupan yang nyaman dalam keberagaman, rasa hormat dan peduli terhadap orang lain. virus mental berprestasi, senang membaca atau belajar, dab bersikat terbuka.

Boast & Martin (2001) dalam bukunya yang berjudul “Masters of Change”  menceritakan sebuah metapora Dinosaurus & Kecoa yang hidup jutaan tahun lalu di bagian barat Colorado. Akhir kisahnya, Dinosaurus punah, sementara kecoa tetap bertahan hidup hingga saat ini dengan bermodalkan kemampuan beradaptai. Pakar perubahan menyimpulkan bahwa eksistensi manusia dari sejak zaman barbar hingga sekarang ini dipengaruhi oleh keikhlasan, kesediaan, dan kebutuhanya untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan orang lain atau hidup nyaman dalam keberagaman dimana keberagaman itu dihargai dan dihormtinya.

Suku Roseta di Italia dikenal memiliki daya tahan hidup yang sangat tinggi melebihi daya tahan hidup bangsa-bangsa lain di dunia yang sama sekali tidak berhubungan dengan faktor pola makan, olahraga dan genetik.. Penduduknya mengkonsumsi gula dan makanan berkolestrol tinggi, kurang senang berolahraga, dan keturunan mereka yang tinggal di luar negerinya mempunyai umur tidak setua mereka. Setelah diteliti secara mendalam, terbukti bahwa kemampuan bertahan hidup suku Roseta dipengaruhi oleh faktor kepribadian masyarakatnya, yakni rasa hormat dan peduli terhadap orang lain, terutama terhadap orang tuanya dan orang yang usianya lebih tua, dan sukunya dikenal suka bersilaturrahmi, Jauh sebelum penelitian ini dilakukan, agama Islam telah mengajarkan sebarkan silaturrahmi agar panjang umur dan murah rezeki.

David McCellend melakukan penelitian mendalam tentang kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa menyimpulkan bahwa kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM), bukan Sumber Daya Alam (SDA). Dijelaskan, banyak negara kaya karena sumber daya alam berlimpah tetapi tidak digolongkan sebagai negara maju, sementara ada negara sangat maju, tanah tempat tinggalnya saja mencaplok tanah orang lain di sana-sini. Diteliti secara lebih mendalam mencari unsur apa saja dari dalam diri manusia, akhirnya ditemukan terdapat virus mental pada diri manusia yang sangat mempengaruhi kemajuan dan kemunduran bangsanya, virus mental yang dimaksud adalah “Need of Achevement” atau kebutuhan berprestasi, dan sekarang virus mental tersebut merupakan faktor penting dari daya saing sebuah bangsa.

M. Quraish Shihab mengutip hasil penelitian guru besarnya di Universitas Al-Azhar Mesir. Penelitian tersebut membuktikan bahwa maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh buku atau bacaan yang dibaca oleh masyarakatnya 20 (dua puluh) tahun sebelumnya. Hasil riset tersebut menegaskan bahwa outcome atau dampak dari proses pendidikan, pembelajaran, dan pengasuhan cukup lama, setidaknya dua puluh tahun kemudian.Namun penelitian lain, menemukan bahwa dampak bacaan jauh lebih singkat lagi, yakni cukup 5 (lima) tahun. Ditemukan bahwa terjadi perubahan perilaku yang sangat bermakna setelah lima tahun dampak dari buku yang dibaca dan dengan siapa sehari-harinya anak-anak kita bergaul..  

Arnold Toynbee  seorang pakar sejarah manusia mengatakan bahwa “kebangkitan dan kehidupan umat manusia bergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan tanggapan yang pantas terhadap tantangan yang dihadapinya”.

Asumsi teoretik tersebut di atas menekankan pentingnya fungsi perencanaan. Pakar manajemen sependapat bahwa perencanaan adalah fungsi pertama dan utama dalam manajemen. Namun sangat disayangkan dalam prakteknya, fungsi perencanaan tersebut belum diposisikan sebagaimana mestinya, dan perencanaan disusun seadanya, tanpa didasarkan data yang lengkap dan akurat.

Sebelum wafat kepada Daisaku Ikeda, Arnold Toynbee menyatakan bahwa eksisteensi atau keberadaan manusia ditentukan oleh kemampuannya mentransformasi dirinya sendiri, yakni penaklukan keegoisannya dan penerapannya tentang makna cinta kasih atau kasih sayang yang akan menyelamatkan manusia dari kehancuran.  

Ian Bremmer (2013) dalam bukunya “The J Curve” mengatakan bahwa jatuh dan berjaya sebuah bangsa ditentukan oleh sebuah titik yang mempertemukan antara stabilitas dan keterbukaan. Kemajuan sebuah bangsa karena stabilitas yang terbuka atau sebuah negara yang sangat stabil dan kokoh berkat kematangan lembaga-lembagaa negaranya dan sebaliknya kejatuhan sebuah bangsa akibat stabilitas yang tertutup. Banyak faktor yang mempengaruhi kestabilan tertutup itu, namun faktor yang paling dominan menciptakan kestabilan tertutup adalah para pemimpin karismatik yang diktator. sementara sebuah negara berjaya karena kestabilan terbuka, demokratis, dan penuh tantangan, yakni kestabilan yang diciptakan oleh seorang pemimpin untuk membangun dan memberi penguatan pada semua lembaga negara. Menurut Winston Churchill, mereka adalah para diktator yang selalu naik harimau, tetapi tidak memiliki keberanian untuk turun dari tunggangan mereka, ia menciptakan kestabilan hanya untuk dirinya sendiri (Penulis Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pemimpin Pemberani

Pidato Pemimpin Perubahan

Miskin, Kaya dan Memberi

Masalah Kontemporer Pendidikan

Publikasi Ilmiah Guru