Pidato Pemimpin Perubahan

Opini Ilmiah


Selasa, 10 Juni 2014 - 15:16:56 WIB | dibaca: 1228 pembaca



PADA saat Deklarasi Pemilu Berintegritas dan Damai, calon presiden RI, bapak Prabowo dan Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato yang isinya antara lain; kedua mengharapkan pemilu berjalan damai, bermartabat, tidak jurang, tidak melakukan kampanye hitam dan kekerasan serta intimidasi. Diantara dua kandidat presiden RI tersebut menunjukkan pidato dan gestur yang sama dan berbeda. Capres No.1 tampil tenang, menyapa dan memuji kompetitornya dengan santun, siap menerima dan taat pada presiden/wakil presiden pilihan rakyat. Sementara capres No.2 tampil lebih singkat, terlihat tegang, kaku, dan tidak sempat menyapa lawannya.

Pidato singkat calon presiden RI yang diharapkan membawa perubahan ini, mendapat respons dari banyak pihak, diantaranya respons disampaikan oleh Taufik Bahaudin seorang pakar perilaku yang dijuluki Peter F. Drucker Indonesia, beliau mengatakan bahwa pidato yang disampaikan merupakan representasi dari apa yang dipikirkan dan berdampak pada perilaku dan tindakannya. Mahatma Ghandi mengatakan hal yang sama, “Bahasa kita adalah cermin dari diri kita. Oleh karena itu, perhatikan apa yang kamu pikirkan karena ia akan menjadi kata-katamu dan perhatikan kata-katamu karena ia akan menjadi perbuatanmu”, Efendy Gozali selaku pakar komunikasi politik memberi skor pidato capres tersebut adalah 1:0. Komentar lain terhadap pidato yang disampaikan capres No.2, bapak Jokowi antara lain, diakui bahwa beliau bukan tukang pidato melainkan pekerja, tidak suka suasana hiruk pikuk dan kepalsuan retorika atau berbasa-basi, Hal tersebut secara akademik dan pragmatik dapat dibenarkan. Teori kepemimpinan mengatakan bahwa memimpin adalah bertindak dan pemimpin adalah pekerja (leader in action). Disamping itu, hukum kekuasaan justru menyatakan bahwa berbicara lebih sedikit dari pada yang diperlukan. Ketika Anda membuat orang lain terkesan dengan kata-kata Anda, semakin banyak kata-kata yang Anda ucapkan, maka Anda akan tampak semakin biasa-biasa saja dan semakin terkendali, Bunda Teresa dalam satu kesempatan mengatakan “seribu kali kau berkhotbah belum tentu lebih baik dari pada satu kali kau bekerja menyapu di halaman rumah saudaramu”. Raja Thailand dihormati rakyatnya karena tidak banyak dan santun berbicara, demikian juga bapak Suharto presiden RI dikenal seorang pemimpin yang santun berbicara. Tidak pernah beliau menyebut dirinya “Saya” dalam setiap pidatonya.   

Syekh Ahmad Atailah (1995) dalam kitabnya “Al-Hikam” mengingatkan bahwa “Barang siapa melihat orang yang suka menjawab segala sesuatu yang diajukan kepadanya. Menceritakan segala sesuatu yang pernah disaksikannya, menyebut semua yang pernah diketahuinya, perbuatan seperti itu termasuk perbuatan orang bodoh atau tolol”.

Montefiore (2008) dalam pengantar sebuah buku berjudul “Speeches that Changed The World” mengatakan bahwa “pidato yang hebat tidak saja mengungkapkan kebenaran di masanya, namun bisa juga menyebarkan kebohongan besar. Kesederhanaan bahasa menandai pembuatan atau penyampaian pidato itu hebat sebagaimana pidato yang disampaikan oleh para rasul, orang shaleh dan orang bijak lainnya. Demikian sebaliknya, pidato dengan kalimat serba indah dan membuai bisa juga disampaikan oleh para tokoh jahat yang nilai pidatonya tidak lebih dari pidato yang disampaikan oleh binatang-binatang politik yang hebat”.   

Namun banyak diantara calon pemimpin dan/atau pemimpin melupakan peringatan Abraham Lincoln seorang pemimpin sejati dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa “ketidakpercayaan masyarakat kepada pemimpinannya tidak dapat disembuhkan melalui pidato atau retorika sehebat apapun bahasa yang digunakannya”. Dunia takkan lama atau tak banyak mengingat apa yang kita katakan di sini, namun dunia takkan pernah melupakan apa yang dilakukan pahlawan di sini”.

Namun tidak terbantahkan pidato pemimpin mampu merubah dunia. Berikut ini penulis sampaikan cuplikan inti sari pidato 20 orang pemimpin yang mengubah dunia, yakni; (1) Muhammad Saw bersabda, “Allah Swt tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan; (2) Yesus dari Nazareth mengatakan “berbahagilah orang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan surga”; (3) Musa diantara sepuluh perintah Tuhan, mengingatkan agar; hormatilah ayah dan ibumu, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, dan jangan berdusta; (4) Abu Bakar Siddiq ra saat dilantik menjadi khalifah pengganti Rasulullah Saw menegaskan, “Saya bukanlah yang terbaik diantara kalian, oleh karena itu, jika saya keliru dalam memimpin kalian, maka luruskanlah saya. Sebaliknya, jika saya benar memimpin kalian, ikuti dan taatilah saya; (5) Ratu Elizabert I, “Aku tahu tubuhku adalah tubuh perempuan yang lemah dan rapuh, tetapi aku memiliki hati dan semangat seorang raja”; (6) Raja Charles I berpidato di tiang gantungan, “Aku pergi dari kerajaan yang bisa dirusak ke kerajaan yang kekal abadi”; (7) George Washington, “Persatuan sesungguhnya merupakan syarat utama bagi terpeliharanya kebebasan. Cinta Anda harusnya membuat Anda menjaga orang lain. Jalinlah hubungan baik yang adil dengan semua bangsa lain, ciptakanlah perdamaian dan harmoni semua”; (8) Thomas Jefferson, “Kebebasan beragama, kebebasan pers dan kebebasan individu akan dilindungi oleh pengadilan, dimana keputusan akan ditentukan oleh juri yang tidak memihak; (9) Vlademir I.. Lenin, “Kelas mana yang memegang kekuasaan, dialah yang menentukan segalanya”; (10) Woodrow Wilson, “Dunia harus dibuat aman bagi demokrasi”; (11) Joseph Stalin, “Kita harus memperkuat propaganda kita di negara-negara yang berperang sebagai persiapan begitu perang berakhir”; (12) Winston Churchill mengatakan,”Saya tidak bisa memberikan apa-apa kecuali darah, perjuangan, air mata, dan keringat”; (13) Vyacheslav Molotov, “Jika kita berperang atas dasar alasan yang benar, maka musuh akan mudah dikalahkan”; (14) Franklin Roosevelt, “Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri dan bangsa yang tidak punya visi akan musnah. Bangsa ini membutuhkan tindakan, maka bertindaklah. Tugas utama kita adalah membuat warga bekerja”; (15) Jawaharlal Nehro, “Kemerdekaan dan kekuasaan menuntut tanggung jawab”; (16) John F. Kennedy, “Jangan tanya apa yang bisa dilakukan negara untukmu, tanyalah apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu”; (17) Martin Luther King, “Saya punya mimpi”; (18) Mikhail Gorbachev, Kebebasan memilih adalah prinsip universal yang tidak ada pengecualiannya; (19) pesan suksesi kepemimpinan dari Ir. Soekarno presiden RI Pertama, “Daun-daun tua harus bersedia gugur dan menjadi pupuk yang subur bagi tumbuh kembang kuncup-kuncup muda”; (20) Jenderal Sudirman, “Kami sanggup mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan sampai titik darah yang penghabisan”

Apapun dan bagaimanapun sebuah pidato itu disampaikan oleh calon pemimpin dan/atau pemimpin, bagi penulis, kualitas sebuah pidato ditentukan dengan  menggunakan 4 (empat) parameter sebagaimana disampaikan oleh Aristoteles, yakni: pesan yang disampaikan adalah (1) sebuah kebenaran universal, (2) yang diperlukan, (3) untuk kebaikan bersama, dan (4) penuh tanggung jawab.


(Penulis: Aswandi, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)  


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Miskin, Kaya dan Memberi

Masalah Kontemporer Pendidikan

Publikasi Ilmiah Guru

Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan

Penerimaan Mahasiswa PRODI BARU: Program MAGISTER PENDIDIKAN SOSIOLOGI FKIP Untan