Pidato Pelantikan Pemimpin

Opini Ilmiah


Senin, 20 Oktober 2014 - 09:34:00 WIB | dibaca: 1103 pembaca



Foto: Pidato Syukuran Wisuda

Oleh: Aswandi
 
HARI ini, Senin, 20 Oktober 2014, setelah dilantik menjadi presiden RI Ke- 7, Bapak Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato pelantikan di hadapan MPR RI dan disiarkan secara luas ke seluruh penjuru dunia. Masyarakat Indonesia bahkan dunia menunggu pidato pertama beliau karena pidato yang disampaikan oleh para pemimpin saat pelantikan diharapkan membawa perubahan, khususnya perubahan bagi bangsanya sendiri dan perubahan dunia umumnya. Dari pidato pelantikan pemimpin tersebut memperkuat keyakinan rakyat mengenai nilai-nilai dasar yang menjadi standar moral kepemimpinannya, menunjukkan komitmen dan janjinya dalam memimpin bangsanya, dan melalui pidato itu pula masyarakat memperoleh gambaran atau potret kepribadiannya.

Montefiore (2008) dalam pengantar sebuah buku berjudul “Speeches that Changed The World” mengatakan bahwa “pidato yang hebat tidak saja mengungkapkan kebenaran di masanya, namun bisa juga menyebarkan kebohongan besar. Kesederhanaan bahasa menandai pembuatan atau penyampaian pidato itu hebat sebagaimana pidato yang disampaikan oleh para rasul, orang shaleh, orang kudus dan orang bijak lainnya. Demikian sebaliknya, pidato dengan kalimat serba indah dan membuai bisa juga disampaikan oleh para tokoh jahat yang nilai pidatonya tidak lebih dari pidato yang disampaikan oleh binatang-binatang politik yang hebat”.

Pidato pelantikan sangatlah penting karena tidak sedikit pidato tersebut menjadi sesuatu yang monumental, pemberi harapan, dan petunjuk dalam menjalankan pemerintahan.
Kekuasaan seorang pemimpin tidak bisa dimiliki oleh orang-orang yang bicara atau pidatonya sembarangan, demikian kata Robert Greene.

John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” menjelaskan bahwa “Pemimpin sejati berbicara, Orang akan mendengarkannya”. Ketika Alan Greenspan berbicara di depan Kongres, semua orang mendengarkannya, Ketika ia bersiap-siap mengeluarkan pernyataan tentang tingkat suku bunga pinjaman, seluruh komunitas keuangan dunia menghentikan kegiatannya.

Demikian pula ketika Martin Luther King Jr  berbicara, orang, baik berkulit hitam maupun berkulit putih mendengarkannya. Billy Graham  selama lima puluh tahun nasehatnya telah didengar oleh para pemimpin dunia, Orang mendengarkan  apa yang dikatakan seorang belum tentu karena pesan yang disampaikannya itu sebuah kebenaran, melainkan karena rasa hormat mereka kepada si pembicara,

Robert Greene (2007) dalam bukunya “The 48 Laws of Power” mengatakan, “Ketika Anda membuat orang lain terkesan dengan kata-kata atau pidato Anda, Semakin banyak kata-kata yang Anda ucapkan, maka Anda akan tanpak semakin biasa-biasa saja dan Anda akan semakin kurang terkendali. Bahkan jika Anda mengucapkan sesuatu yang dangkal, ucapan itu pasti tampak orisinil jika Anda mengucapkannya dengan samar-samar, tanpa akhir yang jelas dan jelimet. Orang-orang yang berkuasa membuat orang lain terkesan dan mengintimidasi justru dengan lebih jarang bicara. Semakin banyak kata-kata yang Anda ucapkan, semakin besar kemungkinan Anda untuk mengucapkan sesuatu yang konyol”.

Berikut ini, penulis kutip pidato pelantikan pemimpin sejati yang sangat dihormati sepanjang masa.
Setelah mengucapkan bai’at atau ikrar,  Abu Bakar ra berdiri mengucapkan pidato pelantikan sebagai khalifah. Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah Swt , Abu Bakar ra berkata; “Saudara-saudara, saya terpilih untuk memimpin kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik diantara kamu sekalian. Kalau saya berkata baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya sesudah haknya saya berikan kepadanya. Insya Allah, dan orang yang kuat buat saya adalah lemah sesudah haknya nanti saya ambil, Insya Allah. Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepadanya. Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat menjalankan perintah Allah dan RasulNya. Tetapi apabila saya melanggar perintah Allah dan Rasulullah, maka gugurlah kesetiaan kalian kepada saya. Laksanakanlah shalat, Allah akan merahmatimu sekalian”, dikutip dari M.Husain Haekal (2001) dalam kitabnya “Abu Bakr As-Siddiq”.

Pidato pelantikan Thomas Jefferson, 4 Maret 1801 berisikan pesan antara lain; (1) saya sendiri percaya inilah pemerintahan yang terkuat di dunia; (2) kebebasan beragama, kebebasan pers dan kebebasan individu akan dilindungi oleh pengadilan, dimana keputusan akan ditentukan oleh juri yang tidak memihak; (3) sebagai manusia dengan banyak keterbatasan, saya akan sering berbuat salah. Kalaupun saya bertindak benar, saya akan tetap dianggap salah oleh mereka yang melihatnya dari sisi tertentu saja. Karena itu saya takkan takut berbuat salah”.

Pidato pelantikan Franklin D. Rosevelt, 4 Maret 1933 berisi pesan, diantaranya; (1) satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri; (2) hal terpenting untuk mengatasi rasa sulit dalam kehidupan adalah kepemimpinan yang jujur dan tegar, dipadu dengan pengertian dan dukungan seluruh rakyat; (3) kita tidak boleh lupa, bahwa pada dasarnya kebahagiaan itu bersumber dari bekerja. Bangsa ini membutuhkan tindakan, maka mulai sekarang bertindaklah. Tugas utama kita adalah membuat warga bekerja; dan (4) bangsa yang tidak punya visi pasti akan musnah.

Pidato pelantikan John F. Kennedy, 20 Januari 1961 berisikan pesan penting; (1) jangan tanya apa yang bisa dilakukan negara untukmu, tanyalah apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu; (2) kita jangan pernah bernegosiasi atas dasar rasa takut, Tapi kita jangan pernah takut bernegosiasi; (3) di tangan Anda semua, para warga terletak keberhasilan final atau kegagalan pemerintahan ini.

Sejak berakhirnya perang dingin, hadir seorang pemimpin yang paling dihormati, yakni Nelson Mandela. Setelah menjalani lebih dari seperempat abad (27 tahun) hidup dipenjara yang memisahkannya dari istri, anak-anak, handai taulan dan pengikutnya, akhirnya sampailah ia pada pelantikan sebagai pemimpin Afrika Selatan, dalam pidato pelantikannya bertema “Pengampunan”. Ia berkata; “Satu keyakinan bahwa satu-satunya cara bagi ia dan rakyatnya untuk bisa menyongsong masa depan adalah dengan menyingkirkan luka masa lalu”.

Terakhir, penulis kutip pidato pelantikan Barack Obama yang esensinya bermuara pada sebuah tema; “Change we can believe in”, artinya perubahan adalah apa yang kita percayai, termasuk di dalamnya percayailah pemimpin Anda yang baru saja dilantik ini”.

Dari pidato pelantikan pemimpin sejati tersebut di atas, ditarik beberapa kesimpulan, yakni sebuah pelantikan; (1) menunjukkan sebuah komitmen, visi dan misi, bukan euforia masa lalu: (2)  menggambarkan optimisme atau kepercayaan diri terhadap sebuah visi, misi dan tujuan yang dicita-citakan; (3) kesederhanaan bahasa menandai pidato hebat pemimpin sejati; (3) sikap rendah diri seorang pemimpin terlihat dari pidato pelantikannya (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Berguru Kepada Orang Gila

Memilih Kepala Daerah

Bergerak Bersama Membangun Bangsa

Pendidikan Berbasis Perkembangan Manusia

Kehidupan Bermakna