Perkuliahan Bermakna

Opini Ilmiah


Senin, 02 Maret 2015 - 17:23:39 WIB | dibaca: 868 pembaca


Oleh: Aswandi
 
Perkuliahan bermakna yang dimaksud pada opini ini adalah proses pembelajaran efektif di perguruan tinggi, yakni perkuliahan yang mencapai tujuan. Banyak diantara kita salah paham tentang pembelajaran efektif tersebut, misalnya kita sering mendengar, mahasiswa sudah merasa kuliah dengan baik karena selalu hadir di saat perkuliahan dan nilai mata kuliah yang diikutinya sangat baik (A), tanpa pernah bertanya dan melihat ke dalam dirinya bahwa pikiran, sikap dan tindakan mereka belum mengalami proses pembelajaran atau perkuliahan. Demikian pula dosen, karena selalu hadir memberikan kuliah ditambah lagi telah berimprovisasi menggunakan Information Technologi (IT) dalam perkuliahannya, merekapun mengklim dirinya telah melaksanakan kewajibannya menyampaikan perkuliahan dengan baik. Tanpa menyadari banyak mahasiswanya telah menjadi kurban perkuliahan yang mereka berikan. Rhenald Kasali (2014) dalam bukunya “Self Driving” mengatakan bahwa dampak dari perkuliahan kurang bermakna, terjadi kesulitan merubah pola pikir (mindset) mahasiswa/i dari penumpang (passengers) menjadi pengemudi (driver).

Fenomena tersebut telah lama diteliti oleh Martin E. Seligman seorang psikolog dunia yang dikenal melalui tesisnya “Ketidakberdayaan yang Dipelajari”, artinya seseorang menjadi tidak berdaya akibat dari proses yang dipelajarinya. Pendapat senada disampaikan oleh John C. Maxwell (2013) dalam bukunya “Sometimes You Win Sometimes You Lose = LEARN” menegaskan bahwa sukses/menang atau gagal/kalah seseorang adalah akibat dari proses pembelajaran yang dialaminya.
Sehubungan permasalahan tersebut di atas dan diperkuat bentuk perguruan tinggi di Indonesia yang umumnya “Teaching University”, maka penulis terinspirasi menulis opini berjudul ”Perkuliahan Bermakna”.

Maxwell dibagian lain, mengemukakan hakikat dan esensi pembelajaran (perkuliahan) yang harus dipahami , dihayati dan diamalkan agar perkuliahan menjadi bermakna, yakni sebagai berikut; (1) the spirit of learning is HUMILITY atau rendah hati; (2) this foundation of learning is REALITY; (3) the first step of learning is RESPONSIBILITY; (4) the focus of learning is IMPROVEMENT; (5) the motivation of learning is HOPE; (6) the pathway of learning is TEACHABILITY; (7) the catalyst of learning is ASVERSITY; (8) opportunities for learning is PROBLEMS; and (9) the prespective of learning is BAD  EXPERIENCES. Aristoteless, seorang filosof menegaskan hal yang sama; “The Roots of Education is BITTER, but The Fruit is Sweet”; (10) the price (harga) of learning is CHANGE; and (11) the value (nilai) of learning is MATURITY.

Agar mahasiswa tidak menjadi kurban perkuliahan, berikut ini penulis kutip beberapa konsep dasar perkuliahan bermakna yang dikembangkan oleh I Nyoman Sudana Degeng pakar pembelajaran Universitas Negeri Malang, meliputi; makna dan hakikat perkuliahan, tujuan perkuliahan, penataan lingkungan perkuliahan, strategi perkuliahan, dan evaluasi perkuliahan.

MAKNA PERKULIAHAN. Mahasiswa diberi pemahaman mendalam mengenai: (1) filsafat dan pergeseran paradigm saint dimana pengetahuan telah diyakini sesuatu non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu. Mahasiswa calon guru di Finlandia wajib mempelajari filsafat ilmu pengetahuan; (2) belajar adalah penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi; (3) mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan; (4) mahasiswa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan prespektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya; (5) sukses mengajar ditentukan oleh kesiapan mahasiswa (readness of learning). Perlu dipikirkan untuk melakukan restrukturisasi kurikulum perguruan tinggi, misalnya mengurangi atau menyederhanakan jumlah mata kuliah (subject matter), diikuti menambah lama jam perkuliahan (learning hours) agar mahasiswa/i memperoleh pengalaman belajar lebih komprehenship dan bermakna.

TUJUAN PERKULIAHAN: Tujuan perkuliahan ditekankan pada bagaimana perkuliahan sesungguhnya, menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata (kontektual) yang mendorong mahasiswa untuk berfikir dan memikir ulang serta mendemonstrasikan.
LINGKUNGAN PERKULIAHAN, Harus dimaklumi bahwa (1) suasana ketidakteraturan, ketidakpastian, dan kesemerautan dalam perkuliahan; (2) mahasiswa harus memperoleh kebebasan belajar (freedom of learning). Hanya di alam yang penuh kebebasan tersebut, mahasiswa dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasi terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar; (3) kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda dan perlu dihargai. Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Mahasiswa adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasannya untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, arinya tidak boleh ada lagi kontrol perkuliahan di luar mahasiswa. John Stuart Mill (2000) dalam bukunya “On Liberty” menegaskan prinsip dasar mengenai kebebasan, “Tidak ada alasan bagi masyarakat untuk mencampuri kebebasan bertindak seseorang kecuali kebebasan tersebut mencederai orang lain”. Di bagian lain, ia mengatakan, “Saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan. Namun saya akan mempertahankan hingga mati hak Anda untuk mengucapkannya”. Perbedaan pendapat dan argumentasi adalah satu-satunya cara untuk menjaga kebenaran dari kerancuan yang disebabkan oleh praduga dan dogma. Sebuah kekuasaan, tidak dibenarkan untuk membungkam umat manusia”.

STRATEGI PERKULIAHAN: (1) penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian; (2) pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan dan pandangan mahasiswa; (3) aktivitas perkuliahan lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan menekankan pada ketrampilan berfikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan hipotesis; dan (4) perkuliahan dan evaluasi menekankan pada proses. Strategi perkuliahan bermakna hanya dapat dilakukan oleh dosen yang memiliki pemahaman mendalam tentang mata kuliah yang diampunya. Mereka harus banyak membaca referensi yang terkait mata kuliah yang diasuhnya, sebagai ilustrasi, seorang dosen di Jepang membaca buku 100 halaman/hari, bahkan ada yang membaca 1,5 buah buku/hari berarti sekitar 50 buku atau referensi dibacanya setiap bulan. Berapa buah buku dibaca dosen di negeri ini setiap hari?.

EVALUASI PERKULIAHAN: (1) evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata; (2) evaluasi menggali munculnya berfikir divergen, pemecahan ganda, bukan saja satu jawaban benar. Sesungguhnya tidak ada jawaban salah, yang ada hanya pertanyaan yang salah; (3) evaluasi merupakan bagian utuh dari perkuliahan dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas perkuliahan bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata; (4) evaluasi menekankan pada ketrampilan proses dalam kelompok.
(Penulis, Dekan FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Melawan Rasa Takut

Kebahagiaan Tidak Membahagiakan

Memikirkan Kembali Perguruan Tinggi

Bacaan Pertama dan Utama

Suksesi Kepemimpinan