Perilaku anti-sosial

Opini Ilmiah


Rabu, 22 April 2015 - 08:03:36 WIB | dibaca: 798 pembaca


Leo Sutrisno
Dalam perjalanan ke berbagai sekolah beberapa bulan terakhir ini, sering terlibat diskusi dengan sejumlah guru tentang siswa-siswinya yang bertindak anti-sosial. Di kelas sering membuat keributan baik terhadap kawan-kawannya maupun gurunya. Ada kesan bahwa jumlah siswa yang anti-sosial itu makin hari makin bertambah.
Mike Ford, dari ‘Wisconsin Policy Research Institute’ AS, (2013), melaporkan antara 2010-2011, di negara bagian Wiscnsin menunda keniakan kelas 48.000 siswa karena mereka sering bertindak anti-sosial. Dampak dari kebijakan ini adalah hasil belajar siswa meningkat secara signifikan. Temuan ini juga dikuatkan oleh temuan John Hattie (2009). Dari meta-analisis 140 penelitian  diperoleh ‘Effect Size’ rata-ratanya dari kelas tanpa siswa yang anti-sosial pada hasil belajar sebesar 0.88 atau sekitar 17% lebih baik dari kelas yang memiliki sejumlah siswa yang anti-sosial.

Berikut disajikan sebuah ilustrasi apa yang dilakukan oleh seorang siswa yang bertindak anti-sosial.
Pada suatu hari, Bu guru Tina menyuruh siswa-siswanya mengeluarkan buku bacaannya dan menuliskan definisi sejumlah kata kunci yang terdapat pada halaman 25-33. Semua murid melaksanakan tugas itu kecuali Mikael. Sebaliknya, ia justru duduk seperti sedang tertidur lelap di bangkunya.
Bu Tina: “Mikael, ibu menyuruh seluruh siswa-siswa di kelas ini agar mengeluarkan buku bacaan dan mulai menuliskan definisi kata-kata kunci yang ada pada halaman 25-33. Semua kawanmu di kelas ini sduah mengerjakan, kecuali engkau. Kenapa?!”
Mikael tidak menghiruakan teguran itu dan terus berpura-pura tidur. Bu Tina menjadi marah. Dengan nada tinggi ia mengulangi kata-kata yang diucapkan tadi. Mikael bangun, berdiri dan dengan kaki di seret ia ke luar kelas sambil menghentakkan pintu, tanpa menjawab perkataan Bu Tina.

By Hill M. Walker, Elizabeth Ramsey, dan Frank M. Gresham (2004) menyebutkan bahwa guru sering merasa kesulitan bahkan frustrasi mengahadapi para siswanya yang anti-sosial ini. Mereka juga mengingatkan bahwa tidak ada satu pun strategi yang dapat digunakan untuk mengelola tingkah laku anti sosial para siswa yang berkembang dari waktu ke waktu. Karena itu, disarankan agar para guru secara terus-menerus melakukan berbagai upaya preventif untuk menekan tindak anti siswa para siswa di kelas masing-masing. Para guru diharapkan menggunakan nasehat-nasehat jika diperlukan. Hasil penelitian (Walker, 1995) pemberian nasehat yang tidak tepat waktu dan sasaran justru menumbuhkan rasa penentangan.

Mereka juga menyarankan agar para guru mengubah perintah-perintah yang berfungsi menghentikan tindak anti-sosial (terminating command) dengan ajakan-ajakan untuk melakukan sesuatu (initiating command). Ketimbang berkata, “Mikael, hentikan mengganggu Tono (terminating comand)” lebih baik berkata, “Mikael, coba baca keras-keras paragraf ke-3, dari atas dari halaman 27 bukumu itu (initiating comand)”  

Ada baiknya perintah itu diberikan satu kali saja, tidak perlu diulang-ulang. Bila siswa yang bersangkutan masih bertahan denan kelakukannya ada baiknya dilakukan perintah yang lain. Misalnya, menyuruh yang bersangkutan mengerjakan soal yang lain atau bila perlu menyuruh anak pergi ke guru BP atau kepala Sekolah. Akan lebih baik lagi, jika siswa yang bersangkutan diberi kesempatan juga untuk merespons barang sepuluh-lima belas detik.

Dalam disertasinya di Universitas Albany (AS), Barbara F. Zimmerman (1995) mengatakan bahwa penyebab tindak anti sosial siswa menurut para guru berdari dari pandangan siswa itu sendiri. Para guru berpendapat bahwa tindak anti-sosial siswa berkaitan dengan emosi siswa yang berasal dari kejadian-kejadian di luar sekolah. Misalnya keadaan keluarga yang kurang baik. Ada pula guru yang mengatakan rasa frustrasi atas tugas sekolah yang berlebihan menjadi salah satu penyebab ulah siswa yang anti-sosial ini. Beberapa guru juga menyebutkan para siswa bertindak anti-sosial karena kurang mendapat perhatian para guru sendiri. Tetapi, pandangan siswa sendiri jauh dari itu. Mereka berntindak anti-sosial karena merasa diperlakukan ‘unfair’ oleh gurunya. Atau kadang-kadang karena mereka merasa bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja di kelasnya.

Michael Lisin, seorang guru yang telah mengajar selama 24 tahun dan sudah berpengalaman mengajar dari tingkat TK hingga kelas 8 (kelas 2 SMP) dari Colorado (AS) (2013) mengatakan bahwa untuk mentransformasi para siswa yang anti-sosial menjadi siswa yang lebih baik  mesti mereka itu diberi kesempatan untuk bertanggung jawab. Ia mengingatkan agar para guru menjadi ‘straight shooter’.

Sebuah pemberian yang sangat berharga baik para siswa anti-sosial adalah suatu asesmen yang jujur tentang posisinya, baik perilaku maupun akademis, saat ini yang diikuti sebuah visi yang jelas bagaimana mereka dapat ‘merangkak’ setapak demi setapak menuju ke suatu perbaikan.  Mengatakan secara langsung bahwa kelas tidak dapat menerima perilaku seperti itu lebih baik ketimbang mengatakan mereka baik padahal sesungguhnya tidak. Kejujuran yang mereka terima walalupun mungkin saat itu tidak setuju akan membuat mereka berefleksi, berpikir ulang apa yang telah dilakukan.

Dari 180 penelitian tentang pengaruh perilaku  guru di depan kelas terhadap hasil belajar mengasilkan ‘effect size’ rerata sebesar 0.80 (John Hattie, 2007). “Being honest with students has a powerful and influential side effect: it adds meaning to praise and encouragement”, tulis Michael Lisin (2011). “If you’re always honest with difficult students, they’ll learn quickly that when you praise them, they can take it to the bank” lanjutnya. Pujian yang jujur sangat berarti pada para siswa. Sebuah sentuhan yang mendalam. Dan, tentu saja muncul harapan mereka akan berubah ke arah yang lebih baik, Semoga!

 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Leo Sutrisno

Pemilihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tahun 2015

Penguatan Insan Pendidikan

Insentif Buku Ajar Tahun 2015

Informasi Buku Teks Perguruan Tinggi Tahun 2015

Mindfulness –éling dan waspada