Peran Etnosains dalam MEA

Opini Ilmiah


Selasa, 29 Maret 2016 - 14:11:47 WIB | dibaca: 1051 pembaca



Pendahuluan

Sejak Desember 2015, Indonesia bersama-sama dengan Brunei,  Filipina,  Kamboja,  Laos,  Malaysia,  Myanmar,  Singapura,  Thailand, dan Vietnam membentuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)[1]-sebuah pasar tunggal antarnegara se Asia Tenggara. Keberadaan MEA ini memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat[2]. Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional. Di antaranya adalah: Insinyur, Arsitek, Akuntan, Dokter Gigi, Tenaga Pariwisata, Tenaga Survei, Praktisi Medis, dan Perawat[3]. 

Dalam dua dasa warsa terakhir ini, ada fenomena baru di sejumlah negara ASEAN, yaitu ‘knowledge economy’ - suatu kebijakan yang menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai faktor utama untuk pengembangan ekonomi. Negara-negara ASEAN meningkatkan investasinya di dunia pendidikan secara mencolok. Koefisien antara ‘knowledge economy index’ dan ‘scientific output’ sebesar 0.94. Walaupun persentasenya hanya 0.5%, berdasarkan jumlah publikasi ilmiah tingkat internasional ini, negara-negara ASEAN dapat dibagi ke dalam empat kelompok. Dengan 45% dari seluruh publikasi Ilmiah tingkat internasional yang berasal dari ASEAN Singapura menempati kelompok pertama, disusul berturut-turut Thailand (21%) dan Malaysia (16%) di kelompok kedua, Vietnam (6%), Indonesia (5%) dan Pilipina (5%) di kelompok ketiga, dan Kamboja, Laos, Myamar dan Brunei di kelompok keempat[4]. 

Mencermati pengelompokkan ini, terasa diperlukan usaha  yang jauh lebih besar bagi Indonesia untuk menempatkan dirinya sebagai negara yang terpandang (di ASEAN). Dalam sajian ini akan dibahas tentang apa yang dapat dilakukan untuk menempatkan Indonesia dalam posisi yang setara dengan Malaysia, Thailand dan Singapura. 

Usaha yang ditawarkan adalah mengembangkan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal di tengah-tengah pendidikan global, belajar dari Tiongkok[5]. Sejak 1950 Tiongkok mencoba mengembangkan pendidikan bermuatan kearifan lokal sekaligus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan internasional. Dikhususkan pada sejumlah teori yang dapat digunakan untuk menggali pengetahuan lokal, ethnoscience, yang dapat didampingkan dengan pengetahuan internasional.

Teori mengangkat pengetahuan lokal[6] di era global

Ada enam teori yang dapat digunakan untuk mengangkat pengetahuan lokal dan disandingkan dengan pengetahuan internasional. Ke-enam teori itu adalah: the theory of tree, theory of crystal, theory of birdcage, theory of DNA, theory of fungus, dan theory of amoeba. Masing-masing teori ini memiliki penekanan yang berbed-beda dalam menguatkan pengetahuan lokal yang tesebar antara yang memiliki akar budaya hingga terbuka total hanya menerima pengetahuan internasional. Sehingga, masing-masing memiliki karateristik yang khas berserta implikasinya pada pengembangan kurikulum. Berikut disajikan satu per satu secara singkat.

Theory of Tree

The Theori of Tree-Teori (menanam) pohon- beranggapan bahwa prsoes penguatan pengetahuan lokal harus berakar pada tata nilai dan tradisi masyarakat setempat sembari menyerap pengetahuan internasional yang relevan dan bermanfaat untuk pertumbuhannya. Karena itu, diperlukan identitas dan akar budaya setempat. Pengembangan kurikulum mesti didasarkan pada tata nilai lokal serta aset-aset budaya setempat. Pengetahuan internasional dan teknologi maju diadopsi untuk mendukung pengembangan komunitas serta individu agar menjadi masyarakat setempat. 

Tiongkok, Jepang, Thailand, dan Korea ‘menggunakan’ teori ini dalam mengembangkan sistem pendidikannya. Lulusan yang dihasilkan adalah “a local person who remains a local person with some global knowledge and can act locally and think locally with increasing global techniques”.

Theory of Crystal

The Theory of Crystal – Teori (mengasah) batu mulia – berangkat dari keprihatinan pada fenomena identitas lokal lenyap tergerus arus globalisasi. Cahaya yang datang pada suatu batu mulia dipantulkan kembali dengan pola tertentu sesuai dengan bangun geometrisnya. Dengan perkataan lain, batu mulia memiliki ‘bibit’ untuk memantulkan cahaya yang datang.  Bangun geometris itu terjadi karena ‘diasah’ – ada campur tangan dari luar, dari pengasahnya. 

Teori mengasah batu mulia mensyaratkan pengetahuan lokal sebagai ‘bibit’ untuk mengkristalkan dan meakumulasi pengetahuan global yang sesuai dengan harapan dan tuntutan lokal. Karena itu, pengembangan kurikulum mesti diawali dengan menggali inti dari kebutuhan  dan ‘nilai-nilai’ lokal sebagai ‘bibit’ untuk mengakumulasi pengetahuan internasional yang relevan. Diharapkan akan dihasilkan lulusan ‘a local person who remains a local person with some global knowledge and can act locally and think locally with increasing global techniques’.

Theory of Birdcage

The Theory of Birdcage – teori ‘memelihara’ burung berasal dari keinginan untuk meminimalisasi ‘dominasi’ global pada suatu negara atau komunitas lokal sebagai dampak dari proses modernisasi. Teori ini terbuka dengan pengetahuan global tetapi sekaligus menahan secara sistematis materi-materi  tertentu yang dapat menghambat/mengancam perkembangan masyarakat setempat.

Kurikulum dikembangkan berdasarkan ideologi atau kebijakan lokal/negara sehingga secara sistematis memberikan pedoman untuk menangkal materi-materi tertentu agar keberlanjutan masyarakat setempat tetap terjaga. Diharapkan lulusan berupa sebagai ‘a local person with bounded global outlook, who can act locally with filtered global knowledge’.

Theory of DNA

The Theory of DNA – Teori ‘mencangkok’ DNA- didasarkan pada pendapat bahwa tidak semua muatan lokal itu baik dan tidak menghambat modernisasi. Karena itu, ada sejumlah materi lokal yang perlu diganti dengan materi internasional. Pandangan ini mirip dengan konsep ‘DNA implantattion’.

Pengembangan kurikulum dimulai dengan menginventarisasi pengetahuan lokal yang ‘diduga’ akan menghambat modernisasi dan disiapkan pengetahuan internasional yang unggul. Hasilnya adalah ‘a person with locally and globally mixed elements, who can act and think with mixed local and global knowledge.’

Theory of Fungus

The Theory of Fungus – Teori ‘membudidayakan’ Jamur merujuk bahwa jamur hanya dapat tumbuh dengan baik pada suatu media tertentu sesuai dengan ‘nutrisi’ yang diperlukannya. Teori membudidayakan jamur digunakan oleh negara-negara yang sangat tergantung dari negara luar. Teori ini beranggapan bahwa dengan cara menyerap dan mengadopsi elemen-elemen pengetahuan internsional tertentu lebih mudah dan lebih cepat dalam mengembangkan masyarakat setempat ketimbang mengembangkan muatan lokal sendiri.  

Pengembangan kurikulum diarahkan untuk membuat siswa mampu mengidentifikasi dan mempelajari pengetahuan internasional yang sesuai dengan kemampuannya sendiri dan masyarakat setempat. Hasilnya adalah ‘a person equipped certain types of global knowledge, who can act and think dependently of relevant global knowledge and wisdom’. 

Theory of Amoeba

The Theory of Amoeba – teori ‘cara hidup’ Amuba- kurang berminat untuk melestarikan kearifan lokal dan lebih cenderung mengadaptasikan dirinya berserta lingkungannya pada pengetahuan global. 

Kurikulum dirancang dengan perspektif global semaksimal mungkin agar dapat memenangkan persaingan global. Hasilnya adalah ‘a flexible and open person without any local identity, who can act and think globally and fluidly’.

Dari keenam teori ini, khusus Indonesia sebaiknya menggunakan Theory of tree untuk mengangkat muatan lokal di era pendidikan global ini[7]. Dalam pendidikan di Kalimantan Barat, mengembangkan etnosains masyarakat Kalimantan Barat menjadi pilihan yang cukup penting. Karena, di Kalimantan Barat sangat multi-budaya[8]. 

Etnosains

Pengertian ‘etnosains’ dalam makalah ini tidak merujuk pada difinisi yang dibuat dalam Wikipedia sebagai “"to reconstitute what serves as science for others, their practices of looking after themselves and their bodies, their botanical knowledge, but also their forms of classification, of making connections, etc."[9]. Etnosains yang dimaksud merujuk pada ‘local knowledge’[10] atau the knowledge of  indigenous peoples[11]. Sebagai contoh misalnya, pengetahuan masyarakat yang tinggal di kutub Utara tentang perubahan iklim global[12].

Etnosains terdiri atas serangkaian yang rumit tentang teknologi yang ditemukan dan dilestarikan oleh masyarakat lokal baik secara lisan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa banyak mengalami perubahan melalui contoh langsung, tindakan  atau cerita [13]. 

Salah satu manfaat etnosains adalah integrasi etnosain dan etnoteknologi pada program konservasi dan pelestarian sumber daya alam baik secara nasional maupun secara internasional[14]. Sajian yang lengkap dan mendalam tentang etnosains di Asia – Afrika yang dikembangkan dalam dunia pendidikan disusun oleh Dip Kapoor and dan Edward Shizha[15]. 
Etnosains Kalimantan Barat

Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia, Kalimantan memiliki kekayaan yang khas, yang dalam bahasa biologi yang endemik-tidak ada di tempat lain kecuali di Kalimantan. Kalimantan barat yang merupakan bagian dari Kalimantan tentu juga memiliki sesuai yang khas Kalimantan Barat, salah satunya adalah etnosains. Kalimantan Barat. 

Sejak juni 2015, Pontianak Post, pada Kolom Edukasi, menurunkan secara berseri hal-hal yang khas dari Kalimantan Barat. Dalam seri itu, disajikan pula, pengetahuan lokal yang terkait. Beberapa dapat diangkat di sini. 

Matthew J. Struebig, Catherine  Gonner, dan  Rachel Sykes (Universitas Kent, UK), Manuela Fischer, Andreas Wilting, dan Stephanie Kramer-Schadt (IZW, Jerman), serta David L A. Gaveau dan Erik Meijaard, Sergea Wich (CIFOR, Bogor), 2015, mengembangkan model lingkungan hidup yang cocok bagi sejumlah hewan yang terancam punah, berdasarkan kasus orangutan Kalimantan yang diprojeksikan berlaku hingga 2080. Model dibangun dengan mengintegrasikan model bioklaimatik, projeksi deforesisasi dan perkebunan kelapa sawit[16].

Bagi masyarakat lokal hutan beserta isinya tidak hanya melulu dipandang sebagai hutan tetapi juga merupakan bagian penting dalam kehidupan religius mereka. Karena itu, setiap usaha pelestarian hutan perlu mempertimbangkan fungsi religius hutan bagi masyarakat setempat. Peran religius burung enggang gading, misalnya, dimata masyarakat lokal digambarkan sebagai burung sakti. Karena itu,  satwa ini kerap digunakan warga sebagai perantara untuk berhubungan dengan alam gaib. Kehadiran dan perilaku enggang dihubungkan dengan sebuah pertanda, pesan atau firasat tertentu[17].

B. Achmad, 2008, Unersitas Airlangga, mengerjakan skripsi tentang pemanfaatan  senyawa oligostilbenoid dari kulit Tengkawang Tungkul sebagai antiradikal bebas hidroksi dan antiradikal bebas anion superoksida. Senyawa yang dihasilkan berbentuk padatan berwarna cokelat dengan titik leleh 325-327 derajad Celcius yang dikenal dengan nama Hensleyanols D[18].
Dalam disertasi yang dipertahankan di UGM, Noor Sudiyati (2012)  bahwa motif yang diterapkan tidak berubah. Pembuatnya dengan setia menjaga tema motif ornamen yang merupakan atribut budaya Cina. Di antaranya adalah:  delapan dewa, naga, bunga-bunga: krisan (chrysantemum), peony (Paeonia), Persik (Prumus Persica), dan bunga lotus (Nelumbonaceae).   Ia menyatakan bahwa keramik dari Singkawang berlatar belakang estetika etnis Cina, disimbolkan dengan wujud motif sebagai spirit hidup.  Spirit ini bernilai Ilahiah, menuntun pada: kebaikan, kebenaran, keagungan, kekuatan, serta kebijaksanaan.  Motif-motif ini menunjukkan suatu gerak perubahan yang luar biasa menuju kebaikan, karena perjalanan panjang bagi mahkluk yang beradab berujung pada suatu sikap “manembah” kepada sang Pencipta. Di dalam perwujudan keramik Singkawang terkandung motif-motif yang memiliki estetika tinggi[20].

Peran etnosains di era MEA?

Etnosains yang mempunyai padanan ‘local knowledge’ merupakan pengetahuan ‘endemik’. Karena ‘endemik’ maka etnosains menjadi khas setempat. Dalam konteks MEA, etnosains menjadi suatu yang khas bagi masing-masing anggota MEA. Etnosains menjadi ‘penanda’ suatu negara.

Dalam posisi seperti itu, etnosains mempunyai ‘nilai jual’ di pasar tunggal. Persoalannya berada pada isi dari etnosains itu. Apakah memiliki nilai jual yang tinggi atau tidak.  Memilih etnosains yang mempunyai nilai jual internasional/regional yang tinggi menjadi tugas kita semua. Semoga!

Referensi
  1. Masyarakat Ekonomi ASEAN,  Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
  2. BBC Indonesia. Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean. 27 Agustus 2014
  3. 8 Profesi yang Bersaing Ketat dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. http://lifestyle.liputan6.com
  4. Tuan V. Nguyen • Ly T. Pham, 2011, Scientific output and its relationship to knowledge economy: an analysis of ASEAN countries. Scientometrics, 89:107–117. DOI 10.1007/s11192-011-0446-2
  5. Milan Zelenny, 2006. From knowledge to wisdom: on being informed and knoweldgeable, becoming wise and ethical. International Journal of Information Technology. Tech. Dec. Mak., 05, 751 (2006). DOI: 10.1142/S0219622006002222 
  6. Yin Cheong CHENG, 2002. Fostering Local Knowledge and Wisdom in Globalized Education: Multiple Theories. Disajikan pada The 8th International Conference on “Globalization and Localization Enmeshed: Searching for a Balance in Education”. Bangkok, Thailand November 18-21.
  7. Leo Sutrisno, 2014. Peran layanan perpustakaan menghadapi MEA. Makalah disajikan pada Seminar nasional Pustakawan Indonesia, 4-5 November.
  8. Leo Sutrisno, 2015. Kalimantan Barat: Penduduk yang multi etnis. Pontianak Post, 9 Agustus 
  9. Wikipedia, the free encyclopedia. Ethonoscience.
  10. Douglas Nakashima dan Marie Rou´e, 2002.  Indigenous Knowledge, Peoples and Sustainable Practice.  Peter Timmerman (Ed.) Encyclopedia of Global Environmental Change, (ISBN 0-471-97796-9. John Wiley & Sons, Ltd, Chichester, 2002, halaman: 14–324
  11. The knowledge of indigenous peoples and policies for sustainable development: Updates and trend in the world’s indigenous people. Inter-agency support group on indigenous peoples’s issues. Thematic. Tematic paper towards the preparation of the 2014 World Conference 0n  indigenous peoples, Juni 2014 
  12. Department of Environmental Protection/Nature Conservation, Ministry of the Environment of Finland,     Indigenous Peoples and Traditional Knowledge Related to Biological Diversity and Responses to Climate Change in the Arctic Region
  13. Marrie battiste, 2002, Indigenous knowledge and pedagogy in the first nations education aliterature review with recommendation. Paper disampaikan pada National Working Group on Education and the Minister of Indian Affairs Indian and Northern Affairs Canada, Otawa, Kanada, 31 Oktober.
  14. Stephan Rist dan farid dahdouh-Guebas, 2006. Ethnosciences – a step towards to integration of scientific and indigenous forms of knowledge in the management of natural resources for the future. Environmental Development sustainability 8:467-493. DOI 10.1007/s10668-006-0050-7
  15. Dip Kapoor dan Edward Shizha,(Ed.) - Indigenous Knowledge and Learning in Asia/Pacific and Africa,DOI:.057/9780230111813. www.palgraveconnect.com - licensed to npg - PalgraveConnect - 2016-03-16
  16. Leo Sutrisno, 2015, Orangutan Kalimantan. Pontianak Post, 7 juni 
  17. Leo Sutrisno, 2015, Enggang gading, Pontianak Post, 21 Juni
  18. Leo Sutrisno, 2015, Tengkawang Tungkul, Pontianak Post, 28 Juni
  19. Leo Sutrisno, 2015, Keramik singkawang. Pontianak Post, 30 Agustus

Penulis: Leo Sutrisno


Berita Terkait Opini Ilmiah /

Aktor Kekerasan

Dialog Sains (nalar-Barat) dan Mistik (religius-Timur)

Penerimaan Mahasiswa Baru Program Magister (S2) Tahun Akademik 2016/2017

Rasionalisasi PNS

Lapor Diri Peserta PPG SM3T 2016 LPTK UNTAN