Penyakit Narsistik

Opini Ilmiah


Selasa, 22 April 2014 - 11:33:17 WIB | dibaca: 1282 pembaca



SATU hari menjelang wafat, Jefry Al-Buchari mengatakan kepada keluarganya bahwa ia ingin berhenti berdakwah karena merasa masih perlu banyak belajar. Pernyataan ustaz gaul tersebut menunjukkan sikap rendah diri dari seorang berilmu, yakni sikap semakin berisi semakin merunduk atau zuhud, tidak sebaliknya meresa diri paling pintar, paling hebat dan pemilik otoritas kebenaran, sementara orang lain semua bodoh, salah dan sesat. Belakangan ini sikap tersebut dikenal sebagai penyakit narsistik. Penderita penyakit narsistik sedang mewabah di negeri ini, hampir setiap hari kita saksikan di layar kaca atau televisi dan di media masa lainnya, mereka menilai pemerintahan dibawah komando Susilo Bambang Yudoyono (SBY) tidak pernah benar, semua kebijakan yang dibuat pemerintah adalah salah. Sebaliknya, ada yang selalu menilai SBY dan pemerintahnya adalah benar, seakan-akan tidak pernah berbuat salah. Dalam bahasa agama, dua jenis manusia tersebut di atas adalah kelompok manusia yang tidak mendapat petunjukNya atau sudah kehilangan hidayahNya. Mereka tidak ditunjukkan sesuatu kebenaran, atau ditunjukkan suatu kebenaran, tetapi tidak mau, tidak mampu dan tidak memiliki kekuatan untuk mengatakan dan melaksanakan kebenaran itu. Mereka tidak ditunjukkan suatu kesalahan, namun mereka tidak mau, tidak mampu dan tidak memiliki kekuatan untuk mencegah dan meninggalkannya. Pepatah Cina mengatakan, “Jika setiap kesalahan tidak dikritik, maka pada saatnya nanti kesalahan itu menjadi sebuah kebenaran”.

Narsistik, berawal dari sebuah paham narsisme, yakni ketertarikan yang berlebihan terhadap kemampuan, nilai penting diri sendiri dan sebagai sebuah egoisme. Penyakit narsistik, tidak sebatas menilai diri sendiri selalu tinggi, tetapi juga memandang rendah orang lain dan apa saja yang dibuatnya atau kontribusinya. Narsistik bukan sekedar memiliki kepercayaan diri yang meluap-luap, melainkan juga terus menerus meremehkan orang lain. Para narsist jiwanya kosong atau terfragmentasi. Dia berusaha mengisi kekosongan jiwanya dengan egosentrisme, yakni meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain, dan emosinya selalu mengatakan, “tak seorangpun bisa memerintahku”. Narsisme merupakan sifat bawaan masa kanak-kanak yang idealnya sudah harus berubah dengan meningkatnya usia, paling tidak pada derajat tertentu.

Ken Wilber (2012) dalam “A Theory of Everything” mengatakan setiap kali terjadi generasi baby boomers senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatannya meliputi; vitalitas, kreativitas dan idealism yang luar biasa, diikuti keberanian bereksperimen dengan gagasan baru di luar nilai tradisional. Saat munculnya suatu generasi yang sedang bangkit ini, kelemahan dari baby boomers adalah munculnya penyakit narsistik yang berlebihan. Penyakit narsistik merupakan antithesis dari budaya integral yang bermakna menyatukan, mengumpulkan, bergabung, berhubungan atau merangkul. Bukan dalam pengertian keseragaman maupun pemberangusan perbedaan atau warna-warni kehidupan yang indah. Tetapi kesatuan dan kenyamanan dalam keberagaman, bhineka tunggal ika, berbagi kesamaan di tengah-tengah perbedaan. Pluralisme (bukan pluralistik) tanpa disadari menjadi saran penyakit narsistik yang merupakan pembunuh kebudayaan integral secara umum.

Bukti lain, Dr. Schindler memperlihatkan bahwa tiga dari empat (75%) ranjang di rumah sakit sekarang ini diisi oleh orang karena mengidap penyakit yang disebabkan oleh emosi (Emotionally Induced Illness), yakni penyakit yang disebabkan oleh ketidakstabilan emosi, seperti penyakit merasa diri penting, dikutip dari David Schwart (1996) dalam bukunya “The Magic of Thinking Big”.

Hasrat menjadi diri penting, besar atau hebat adalah sifat dasar manusia dan menjadi pembeda nyata antara manusia dan binatang, demikian kata Freud dan Dewey. Namun sayangnya banyak orang yang berusaha menjadi diri penting atau besar justru tersungkur ke jurang yang dalam dan menjadi gila dengan 1001 macam jenisnya, diantara mereka terdapat negarawan, politisi, olahragawan, ilmuan, artis, dan selebritis.

Setelah dilakukan pengujian “post mortem” ditemukan ternyata manusia menjadi gila tidak berhubungan secara organis dengan sel-sel otaknya sebagaimana diyakini ahli neurologis selama ini. Pertanyaan; “mengapa manusia menjadi gila”?. Beberapa bukti menunjukkan bahwa manusia menjadi gila dalam usahanya mendapatkan perasaan “Merasa Diri Penting” ketika mereka merasa diabaikan dalam dunia nyata, demikian Dale Carnegie dalam bukunya berjudul; “How to Win Friends and Influence People”.
Alice Miller (2000) salah seorang psikiater kenamaan dalam bukunya “The Drama of The Gifted Child” menyatakan bahwa terjadi pada anak yang berprestasi dan dikagumi menyimpan perasaan hampa dan terasing, depresi dan merasa hidupnya tak berarti setelah “Obat Kehebatan” mereka hilang, yakni tidak berada di puncak lagi atau tidak lagi menjadi “Maha Bintang” yang selama ini disanjung dan dipuji menjadi kebutuhan pokok hidupnya.

Hal yang sama dialami oleh Astronot Apollo atau orang pertama yang sampai di bulan dan beberapa atlet olimpiade setelah menjadi pusat perhatian dunia dan kembali dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah jatuh sakit dan menderita penyakit mental yang lebih dikenal “Post Olympic Depression”, demikian Robin Sharma (2006) dalam bukunya ”Who Will Cry When You Die”.

Agar terhindar dari penyakit narsistik, maka seseorang harus berusaha menjaga diri dengan tetap bersikap ikhlas dan tawadhu’ kepadaNya sebagaimana dicontohkan oleh orang-orang shaleh, seperti sikap tawadhu’ pada diri Abu Ubaidah jelas terlihat, misalnya di suatu hari beliau  menjadi iman shalat. Ketika dia pergi meninggalkan tempat itu, dia berkata, “Setan telah menggodaku hingga aku merasa  bahwa aku lebih baik dari pada orang lain. Oleh karena itu, aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya”. Diceritakan, ia memilih pindah rumah atau alamat meninggalkan rumah dimana banyak orang sering memujinya. Demi menjaga dari merasa diri hebat, penting dan sejenisnya, ia tinggalkan kampung halamannya, pindah ke tempat lain yang lebih aman dari pujian dan sanjungan. Padahal pujian sangat layak diberikan kepadanya, terlebih lagi ia selain tawadhu’, melainkan juga sebagai seorang panglima perang dan ahli agama.

Bercermin kepada kepribadian seorang sahabat Rasulullah saw Abu Ubaidah itu cukuplah menjadi pelajaran bermakna kepada kita, betapa tinggi dan mulianya akhlak mereka, dan rendahnya kualitas akhlak yang kita miliki, dan menjadi bukti rendahnya derajat keimanan kita kepada Allah Swt.

Ali ra (1993) dalam “Nahjul Balaghah” menasehati kita; “kebanggaan terhadap diri sendiri meskipun hanya sebesar zarah (biji sawi) adalah musuh kebenaran dan penyakit paling parah bagi akal seseorang, ia merusak diri sendiri sebelum merusak orang lain. Oleh karena itu suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama di sisi Allah SWT dari pada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu”. (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Matinnya Pemimpin Karismatik

Harapan pada Pendidikan Tinggi

Kebaya Identitas Perempuan Indonesia

Biarkan Mereka Berbeda

Apapun Masalahnya Kerja Jawabannya