Penyakit Merasa Diri Penting

Opini Ilmiah


Senin, 15 Agustus 2016 - 11:09:41 WIB | dibaca: 448 pembaca


Oleh: Aswandi - MERASA diri penting adalah virus utama penyakit gila. Dr. Schindler memperlihatkan bahwa “tiga dari empat (75%) ranjang di rumah sakit sekarang ini diisi oleh pengidap penyakit yang disebabkan oleh ketidakstabilan emosi (Emotionally Induced Illness), seperti penyakit merasa diri penting”, dikutip dari David Schwart (1996) dalam bukunya berjudul; “The Magic of Thinking Big”.

Hasrat merasa diri penting adalah sifat dasar manusia dan menjadi pembeda nyata antara manusia dan binatang, demikian kata Freud dan Dewey. Namun sayangnya banyak orang menderita penyakit merasa diri penting dan anehnya berusaha keras mengorbankan segala-galanya hanya untuk disebut diri penting yang kemudian tersungkur ke jurang yang dalam dan menjadi gila dengan 1001 macam jenisnya, diantara mereka terdapat negarawan, politisi, usahawan, akademisi dan ilmuan, olahragawan, artis, selebritis dan banyak profesi lainnya.

Alice Miller (2000) salah seorang psikiater kenamaan dalam bukunya berjudul; “The Drama of The Gifted Child” penyakit merasa diri penting telah terjadi pada masa kanak-kanak, terutama pada anak yang tadinya berprestasi dan dikagumi menyimpan perasaan hampa dan terasing, depresi dan merasa hidupnya tak berarti setelah “Obat Kehebatan” mereka hilang, yakni tidak berada di puncak lagi atau tidak lagi menjadi “Maha Bintang” yang sekian lama disanjung dan dipuji menjadi kebutuhan pokok hidupnya.

Astronot Apollo atau orang pertama yang sampai di bulan dan beberapa atlet olimpiade setelah menjadi pusat perhatian dunia dan kembali dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah jatuh sakit dan menderita penyakit mental yang lebih dikenal Post Olympic Depression, demikian Robin Sharma (2006) dalam bukunya berjudul; ”Who Will Cry When You Die”.

Setelah dilakukan pengujian “post mortem” ditemukan ternyata manusia menjadi gila tidak berhubungan secara organis dengan sel-sel otaknya sebagaimana diyakini ahli neurologis selama ini. Pertanyaan; “mengapa manusia menjadi gila?”. Beberapa bukti menunjukkan bahwa manusia menjadi gila dalam usahanya mendapatkan perasaan “Merasa Diri Penting” ketika mereka merasa diabaikan dalam dunia nyata, demikian Dale Carnegie dalam bukunya berjudul; “How to Win Friends and Influence People”.
Penyakit “Merasa Diri Penting” sepertinya terdapat pada masyarakat kita dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Ada yang sedang mengalami masa inkubasi dan tidak sedikit yang berada dalam kondisi akut.

Sering sekali, kita mendengar teman bercerita bahwa mereka baru saja bertemu seorang yang mengaku dirinya penting atau suka menyobongkan diri, Kehadiran satu orang saja penderita merasa diri penting dalam sebuah organisasi sangat menghambat kemajuan organisasi. Cynthia Barton Rabe (2014) dalam bukunya “The Innovation Killer” menyatakan bahwa penyakit merasa diri penting adalah pembunuh inovasi dan kehadirannya dalam organisasi menjadi faktor ketidakmampuan organisasi tersebut tumbuh dan berkembang.

Fakta menunjukkan, sering kali ditemukan seorang pejabat merasa dirinya penting, sering terlambat hadir di suatu acara dimana ia bertugas membuka acara tersebut, sementara undangan sudah lama menunggu, tanpa merasa malu dan bersalah ia memasuki ruangan pertemuan. Sangat berbeda dengan apa yang pernah penulis alami di setiap acara di Jepang dimana pejabat datang lebih dahulu sebelum acara dimulai. Dulu pernah terjadi seorang pejabat di daerah ini memukul atau menampar seorang bawahannya di tengah jalan raya karena tidak memberi hormat kepadanya di saat keduanya sedang jogging atau lari pagi.  

Fakta lain, di setiap acara, bahkan ketika hendak melaksanakan ibadah selalu ada manusia yang ingin menempati kursi atau tempat terdepan meskipun ia datang terlambat, seakan-akan kawasan VIP, mihrab dan altar milik pribadinya.

Di masa lalu, tidak tahulah sekarang, apakah berpose/berphoto di samping pejabat atau orang penting masih menjadi dambaan seseorang?, kemudian photo diri tersebut dipigura lebar lalu disimpan di estalase ruang tamu atau ruang kerja.

Ali ra (1993) dalam “Nahjul Balaghah” menasehati; “kebanggaan terhadap diri sendiri meskipun hanya sebesar zarah (biji sawi) adalah musuh kebenaran dan penyakit paling parah bagi akal seseorang, ia merusak diri sendiri sebelum merusak orang lain. Oleh karena itu suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama di sisi Allah SWT dari pada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu”.

Rasulullah saw dan para sahabat mengajarkan kepada kita agar tawadhu’ atau suka merendahkan diri, bukan merasa diri penting, seperti Abu Ubaidah Ibnu Jarrah ra satu diantara sahabat Rasulullaah saw yang sukses sebagai pimpinan perang selalu berwajah ceria, terpuji akhlaknya, tidak seorang muslim pun merasa dirugikan olehnya, dan dikenal seorang pemalu.

Pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin menuntut persatuan, dan kekompakan. Beliau berkata, “Kalian jangan berselisih, Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu”.

Beliau sangat mengerti tentang hak menjadi seorang pemimpin sebagai gambaran kerendahan budinya, misalnya, setelah Rasulullah saw. Wafat, banyak orang yang datang menemuinya, termasuk Umar ibnul Khattab ra hendak membaiat Abu Ubaidah menjadi khalifah pengganti Rasullah saw, tetapi ia menolak seraya menjawab, “Apakah kalian datang kepadaku sedangkan di tengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga, yang lebih layak menjadi khalifah, maksudnya Abu Bakar ash-Shiddiq”.

Sikap tawadhu’ pada diri Abu Ubaidah jelas terlihat, misalnya di suatu hari beliau  menjadi iman shalat. Ketika dia pergi meninggalkan tempat itu, dia berkata, “Setan telah menggodaku hingga aku merasa bahwa aku lebih baik dari pada orang lain. Oleh karena itu, aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya”. Diceritakan, ia memilih pindah rumah meninggalkan rumah dimana banyak orang sering memujinya. Demi menjaga dari merasa diri penting dan sejenisnya, ia tinggalkan kampung halamannya, pindah ke tempat lain yang lebih aman dari pujian dan sanjungan. Padahal pujian sangat layak diberikan kepada seorang panglima perang. ahli agama dan berkepribadian tawadhu’ kepada semua orang.

Bercermin kepada kepribadian seorang sahabat Rasulullah saw Abu Ubaidah cukuplah menjadi pelajaran kepada kita, betapa tinggi dan mulianya akhlak mereka, dan rendahnya kualitas akhlak yang kita miliki, dan menjadi bukti rendahnya pula derajat keimanan kita kepada Allah Swt (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)
 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Harapan Hidup Bermakna

Ayam dan Merpati

Penyakit Hedonisme

Pertanyaan adalah Jawaban

Pengendalian Diri