Penyakit Hedonisme

Opini Ilmiah


Selasa, 28 Juni 2016 - 09:02:13 WIB | dibaca: 684 pembaca


Oleh: Aswandi - BAPAK Warih Sadono selaku Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Barat dalam Kuliah Umum di Universitas Tanjungpura beberapa waktu lalu menceritakan pengalamannya dalam penegakan hukum di Indonesia. Bagi penulis kuliah tersebut baik dari substansi maupun cara penyampaiannya sangat menarik. 
 
Penulis sempat mencatat beberapa pointers beliau, yakni sebagai berikut: (1) sasaran penegakan hukum mengalami perubahan, yang dulunya dilakukan terhadap seorang pelaku kejahatan, sekarang dilakukan terhadap banyak orang dimana satu kejahatan mereka lakukan secara berjamaah, misalnya dilakukan oleh satu keluarga terdiri; ayah, ibu dan anak, paman dan keponakan, dan jenis kroni, kolusi dan nepotisme lainnya; (2) menangkap pejabat yang melakukan kejahatan ternyata tidak mudah karena berbagai sumber power (kekuatan) yang dimilikinya, baik berupa uang maupun para preman atau pembunuh bayaran. Penyidik harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup memadai untuk mengungkap kejahatan pejabat itu. Hal ini dibenarkan oleh Abraham Samad sebagaimana pernah beliau sampaikan kepada penulis bahwa banyak pejabat menunggu giliran ditangkap ketika mereka pensiun. Abu Bakar Siddiq ra sudah sejak lama, yakni di saat ia dilantik menjadi khalifah pengganti Rasulullah Saw mengingatkan hal yang sama; “karena kekuasaan Anda menjadi kuat, dan ketika kekuasaan itu dicabut, maka Anda menjadi lemah”; (3) seorang tokoh agama yang kesehariannya menyerukan umat agar beramal makruf bernahi mungkar, beralih profesi meniti karier sebagai seorang politikus, tidak puas menjadi politikus beralih profesi menjadi pejabat (kepala daerah) melakukan korupsi dan ditangkap di suatu tempat saat beliau berzina. Dalam keadaan DPO beliau tidak takut kepada Allah Swt; (4) di negeri ini jumlah orang miskin sangat banyak dan dari waktu ke waktu jumlahnya bertambah. Setiap hari mereka berpikir dan bertanya kepada diri mereka sendiri; “Besok Makan Apa?, Makan atau Tidak”, Di tengah kehidupan yang sangat menyedihkan itu, banyak penguasa dan pejabat berduit atau mereka yang sudah sangat kaya itu, setiap hari berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Besok Makan Siapa”. Setelah makan aspal, makan semen, makan apa lagi ya?. Ada diantara mereka itu mengkorupsi perjalanan haji, dan mengkorupsi pengadaan kitab suci Al-Qur’an; (5) demikian pula kejahatan lainnya, seperti penyalahgunaan narkoba dan kekerasan seksual yang dari waktu ke waktu semakin marak saja, mewabah di kalangan anak dan remaja, satu kasus terungkap dan pelakunya dihukum berat hingga hukuman mati, namun di waktu bersamaan terungkap perdagangan dan penyalahgunaan narkoba tak henti-hentinya dan sebagainya.

Penulis mendengar dan mencatat ada dua point penting disampaikan oleh bapak Kejari Kalbar sebelum mengakhiri kuliahnya, beliau mengatakan; (1) berbagai kejahatan tersebut di atas bersumber dari “Penyakit Hedonisme”; dan (2) mencegah kejahatan dimulai dari membangun sikap atau karakter “Kejujuran”, terutama jujur terhadap dirinya sendiri.  

Hedonisme diambil dari bahasa Yunani “hedonismos” yang artinya “Kesenangan, Kenikmatan, dan Sejenisnya”. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan, dan mencari kesenangan itu adalah tujuan utama dalam kehidupan dan tindakan manusia. Menurut pandangan filosof seperti Sokrates, Aristippos dan Kyrene bahwa menjadi hal yang terbaik bagi manusia adalah kesenangan, baik kesenangan bersifat badani, juga rohani. Asumsi mereka adalah menyamakan “Yang Terbaik” itu dengan “Kesenangan”. Secara kodrati-realistik, manusia dari sejak kecil selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya mereka mencari sesuatu yang lain lagi, demikian seterusnya.

Karakteristik dari penganut pahan hedonisme ini ditandai sifat antara lain; individualistis, egoistis, materialistik, memiliki rasa gengsi tinggi dan memuji merek terkenal yang mahal harganya, baik berupa sandang maupun papan yang dimilikinya sebagai simbol kemewahan, dan mental instant atau menerabas dimana ingin kaya dalam waktu singkat. Tidak jarang pandangan hedonisme ini memicu kehidupan seks bebas dan hidup sebebas-besanya demi memenuhi hawa nafsu tanpa batas. Gaya hidup hedonisme umat ini dimanfaatkan dengan baik oleh mereka untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan anehnya kehidupan seperti itu diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya dari sejak kecil dalam ruang dan waktu hampir tanpa batas, contoh sederhana perhatikan saat berhari raya dimana bau amis hedonisme sudah tercium sekarang ini.   
 
Mereka (kaum hedonist) lupa bahwa kebahagiaan itu berasal dan ada di dalam dirinya, baik dalam keimanan, ketaqwaan dan pikirannya, bukan di luar dirinya.

Said Hawa dalam kitabnya “Mensucikan Jiwa” menegaskan bahwa mencari kesenangan semata dalam hidup dan kehidupan ini menjadi jalan atau pintu masuk terbaik menuju kesesatan dan kesengsaran hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Rasulullah Saw mengingatkan di akhir zaman nanti, kehidupan umat manusia bagaikan bermain-main di atas ombak. Mengapa demikian, ya Rasulullah Saw?, baginda menjawab, “Mereka mencintai kesenangaan dunia dan takut mati”. 

Penulis sependapat dengan bapak Kejari Kalbar bahwa diantara sumber kerusakan mental bangsa ini adalah penyakit hedonisme dan penyakit ini harus segera dicegah demi keselamatan bangsa ini.  
  
Menurut beliau, banyak usaha dapat dilakukan, namun yang utama adalah tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt, dan tanamkan sejak awal sikap “Jujur” sebagai karakter semua rakyat ini.

Selain apa yang telah dinyatakan oleh bapak Kajari Kalbar tersebut di atas, penulis tambahkan tingkatkan secara terus menerus tiga kebaikan bagi umat ini, yakni ; well educated, well pay and well motivated. Dua kebaikan, yakni pendidikan bermutu bagi semua (well educated for All), dan perbaikan kesejahteraan atau gaji (well pay) sudah dilakukan, namun belum sebagaimana harapan, semoga yang sedikit itu memberi dampak bermakna bagi kehidupan tanpa kejahatan. Oleh karena itu, ada satu kebaikan lagi yang sering kali kurang mendapat perhatian kita selama ini, yakni motivasi dan niat baik (well motivated). Untuk memurnikan kebaikan motivasi atau niat baik ini, kepada semua pihak harus mau dan berani mengimplementasikannya dalam semua aktivitasnya. Misalnya, beberapa tahun terakhir ini pihak kepolisian telah melakukan “Well Motivated” ini melalui reformasi penerimaan calon anggota Kepolisian RI dimana setelah dinyatakan lulus seleksi administrasi, calon polisi wajib mengikuti seleksi tentang sikap sebelum seleksi bidang lainnya diberikan guna mengetahui sejauhmana motivasi atau niat baik dari calon anggota kepolisian dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di masyarakat. Jika faktanya, masih ditemukan terdapat banyak oknum anggota kepolisian melakukan tindakan kejahatan, maka menurut penulis perlu dilakukan introspeksi atau perbaikan (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pertanyaan adalah Jawaban

Pengendalian Diri

Integritas Semut

Anak adalah Bintang

Belajar di Era Ketidakpastian