Penguatan Insan Pendidikan

Oleh: Aswandi
KERANGKA Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) 2015-2019 merujuk pada paham “Tri Sakti” yakni “Terbentuknya “Insan” serta “Ekosistem” Pendidikan dan Kebudayaan yang berkarakter dengan dilandasi semangat gotong-royong”.

Membicarakan insan atau pelaku pendidikan adalah sangat penting untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikaan di negeri ini karena persoalannya ada di situ. Ada pendapat mengatakan insan atau faktor manusia memiliki kontribusi sebesar 65% bagi keberhasilan sebuah ekosistem atau institusi, sebaik apapun sistem yang dibuat sangat tergantung pada insan atau manusia yang ada di belakangnya menjalankan sistem tersebut. Sering dicontoh, sebaik apapun kurikulum dibuat, tergantung pada guru dan tenaga kependidikan yang akan melaksanakan kurikulum tersebut. Itulah sebabnya untuk sementara ini pemerintah tidak memberlakukan implementasi kurikulum 2013 secara keseluruhan, melainkan untuk beberapa sekolah yang insan pendidikannya telah dinilai siap.  

Penguatan pelaku pendidikan adalah menguatkan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua dan pemimpin institusi pendidikan dalam ekosistem pendidikan yang diarahkan pada penguatan perilaku yang mandiri dan berkepribadian. Siswa adalah pelanggan utama dalam sistem pendidikan, dan penyelenggaraan pendidikan harus berbasis utamanya pada kepentingan siswanya, bukan yang lain. Siswa yang diharapkan tidak hanya cerdas, melainkan memiliki karakter yang kuat dan berahklak mulia. Untuk maksud di atas, semua siswa harus mendapat penguatan melalui proses pembelajaran efektif, pembelajaran yang membebaskan, membangun kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini akan terjadi dalam ekosistem pendidikan yang menyenangkan, ibarat siswa belajar dalam sebuat taman.  

Selanjutnya, guru adalah orang tua kedua di sekolah dan unsur utama (50%)  menentukan mutu pendidikan. Mereka harus memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran, dan mereka harus: professional, bermartabat dan sejahtera. Ditetapkannya UU RI No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen memberi posisi strategis dimana guru adalah sebuah profesi. Berawal dari sana landasan utama penguatan guru dilakukan, baru kemudian penguatan-penguatan lain dilakukan.

Kemudian, meningkatkan kualitas dan kehandalan perencanaan kebutuhan dan distribusi harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan sesungguh-sungguhnya. Dirasakan selama ini penyediaan dan perencanaan guru tidak berbasis riset dan data serta kurang didasarkan atas analisis kebutuhan sehingga persepsi pemerintah dan pemerintah mengalami perbedaan. Selain itu, manajemen guru tidak professional, bahkan terintervensi politik praktis dan berbagai kepentingan lainnya sehingga menyebabkan distribusi guru mengalami disparitas atau tidak menyebar secara merata, menumpuk di satu tempat, sementara di tempat lain kekurangan guru, dan sulit ditertibkan sekalipun telah diatur melalui SKB Lima Menteri.

Itulah sebabnya, strategi penguatan profesi guru harus dilakukan secara simultan, yaitu mensinergiskan dimensi: (1) analisis kebutuhan guru yang objektif, transpran dan akuntabel, (2) penyediaan calon guru oleh LPTK yang standar melalui sistem seleksi yang objektif, transparan dan akuntabel, kurikulum dan pembelajaran yang efektif dan integralistik dalam kultur akademik yang memberdayakan, didukung ketenagaan, sarana dan prasarana/ berasrama, teaching school, serta pembiayaan yang memadai, (3) rekruitmen dan seleksi persiapan calon guru terkendalikan secara nasional agar terhindar dari over capacity; (4) penempatan dan redistribusi sesuai dengan kebutuhan, (5) melakukan evaluasi kinerja secara lebih proporsional sehingga memungkinkan para guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri secara professional; (6) pengembangan keprofesian berkelanjutan secara efektif melalui tiga kegiatan utama; pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif; (7) pengawasan etika profesi, dan sebagainya sehingga semua bermuara pada profesionalisasi guru berbasis individu atau madani/mandiri; dan (8) memastikan tunjangan dan kesejahteraan guru dibayar tepat waktu, tepat sasaran dan tepat jumlah.

Insan pendidikan lainnya yang harus mendapat penguatan adalah kepala sekolah. Michael Fullah (2005) dalam bukunya “Principalship” menegaskan bahwa kepala sekolah adalah pintu masuk (gate keeper) bagi kemajuan sekolah atau pendidikan. Maju mundurnya sekolah sangat ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Jarang kita temukan, sekolah yang baik dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang buruk, demikian sebaliknya.
Penguatan kepala sekolah dapat dilakukan melalui refungsi kepala sekolah dari menjalankan tungas tambahan menjadi seorang pemimpin sekolah dan dibantu oleh beberapa orang sebagai manajer atau wakil kepala sekolah.
Karena perannya sebagai pemimpin sekolah, maka kepadanya diharuskan memiliki kapabilitas dan intergritas yang kuat lagi tepercaya disertai insentif, kesejahteraan atau tunjangan yang wajar dan memadai. Untuk maksud tersebut penulis usulkan agar pengangkatan kepala sekolah dilakukan melalui mekanisme lelang jabatan oleh sebuah tim seleksi yang independen guna menghindari intervensi politik praktis (politik balas jasa) dari para kepala daerah.

Insan pendidikan yang tidak kalah pentingnya mendapat penguatan adalah orang tua peserta didik. Mereka adalah pendidik pertama dan utama. Namun kenyataannya, orang tua dalam ekosistem pendidikan atau persekolahan tidak mendapat posisi yang baik atau termarginalkan, faktanya komunikasi diantara mereka belum berjalan efektif. Ke depan, kemitraan atau sinergitas antara orang dan sekolah harus diefektifkan. Modalnya adalah saling mempercayai, tidak berjalan sendiri-sendiri, Dalam tradisi pendidikan di banyak negara maju, seorang guru setengah dewa, semua orang tua dan masyarakat menghormatinya, Jika anak mereka bermasalah dengan gurunya, maka orang tua wajib membela guru dari anak mereka. sehingga profesi guru menjadi sangat kuat, tidak pernah terjadi orang tua berani melaporkan seorang guru ke polisi karena menjalankan fungsi mendidik dan mengajar sebagaimana sering terjadi di negeri ini.

Insan atau aktor pendidikan lainnya adalah pemimpin institusi pendidikan. Sama halnya dengan jabatan kepala sekolah, rekrutmen jabatan pimpinan institusi pendidikan sebaiknya dilakukan secara objektif melalui lelang jabatan yang diikuti oleh mereka yang memiliki kapabilitas dan integritas yang kuat dan tepercaya.

Berdasarkan uraian di atas, penulis simpulkan bahwa penguatan insan pendidikan dapat dilakukan dengan cara, antara lain: (1) menempatkan dan memperlakukan mereka di tempat yang benar dalam ekosisistem pendidikan yang didasarkan pada pondasi yang kuat, baik landasan filosofis, hukum, sosiologis maupun landasan-landasan lainnya; (2) berikan kebebasan berpikir dan bertindak disertai tanggung jawab; (3) tingkatkan kapabilitas (profesionalitas dan kompetensi) dan integritas melalui pendidikan dan  pembelajaran secara terus menerus; (4) beri kesejahteraan yang wajar dan memadai; dan (5) bangun sinergitas para insan pendidikan dalam sebuah komunitas dimana antara mereka dapat saling berkomunikasi secara efektif (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)