Pengendalian Diri

Opini Ilmiah


Kamis, 09 Juni 2016 - 13:19:51 WIB | dibaca: 738 pembaca


Oleh: Aswandi - Pengendalian diri (self control) adalah kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sendiri dimana kontrol perilakunya dipegang oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain, seperti orang tua, guru dan pimpinannya. Pengendalian diri sering kali dimaknai sebagai kesabaran atau menahan amarah. Nurcholis Madjid selaku cendikiwan Muslim memberi pemahaman lebih jauh tentang pengendalian diri dan kesabaran tersebut yakni kemampuan dan keinginan membuat perencanaan dalam kehidupannya dan sabar menahan keinginan jangka pendek, kenikmatan sejenak atau kesenangan hidup hari ini untuk kehidupan yang lebih baik dimasa depan.

Paul Stoltz (2001) dalam bukunya “Adversity Quetion” mengatakan bahwa sukses atau gagal ditentukan oleh kualitas pengendalian diri (self control), disamping variabel lainnya, seperti; ownership, reach, and engurance. Mereka yang sukses bukan berarti mereka yang tidak punya permasalahan dalam hidupnya dan mereka yang gagal bukan karena memiliki banyak permasalahan dalam hidupnya, tidaklah  demikian. Yang benar adalah mereka yang sukses karena mereka memiliki kualitas pengendalian diri yang tinggi terhadap segala permasalahan yang dihadapinya dalam hidup ini, sementara mereka yang gagal ketika menghadapi permasalahan bersikap sebaliknya atau kurang mampu atau kurang cerdas dalam mengendalikan diri.

Daniel Goleman (1996) dalam bukunya “Emotional Intelligence” menegakan bahwa keberhasilan atau sukses dalam hidup ditentukan sebanyak 80% oleh kecerdasan emosional, diantaranya adalah kecerdasan mengendalikan diri. Sementara IQ hanya menyumbang sebesar 20% saja untuk keberhasilan.

Fakta yang ada sebaliknya, dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi di era gerakan revolusi mental yang telah dicanangkan oleh presiden Joko Widodo sekarang ini, banyak orang yang ingin melakukan kegiatan berorientasi perubahan perilaku ini ternyata kurang berhasil akibat mereka tidak atau kurang mampu mengendalikan diri. Misalnya, di satu tempat mereka bicara tentang kebenaran, tetapi di tempat lain mereka melakukan kecurangan atau tak mampu mengendalikan dirinya, melainkan lebih banyak memperturutkan hawa nafsu dan kehidupan berbudaya hegemoni atau memuja kesenangan hidup di dunia dan takut akan kematian.

Goleman melaporkan sebuah survei besar-besaran terhadap guru dan orang tua,  memperlihatkan adanya kecendrungan yang sama di seluruh dunia, yakni generasi sekarang ini lebih banyak mengalami kesulitan emosional, seperti kesulitan mengendalikan diri, lebih beringasan, kurang menghargai kejujuran dan sopan santun.

Leo Trostoy adalah benar, ia mengatakan banyak orang ingin mengubah dunia, tetapi mereka lupa merubah diri atau mengendalikan diri mereka sendiri.

Pendapat lain, mengatakan ketika kau tidak mampu mengubah situasi, kau ditantang untuk mengubah dirimu sendiri.

Puasa atau shaum Ramadhan yang mulai dijalani hari ini memiliki banyak fungsi, diantara berfungsi sebagai kesabaran dan pengendalian diri. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, bahwa puasa itu adalah separuh kesabaran. Semua yang berpuasa dilarang melakukannya atau harus mampu mengendalikan diri, artinya melalui madrasah ruhaniah Ramadhan ini, kualitas pengendalian diri yang sangat diperlukan dan telah terbukti mampu mengantarkan semua orang kepada  keberhasilan dalam hidupnya dapat dibentuk atau dapat diwujudkan.

Sayyid Sabiq (2010) dalam kitabnya “Fiqih Sunnah” menyatakan bahwa puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa mulai dari fajar hingga matahari terbenam dan disertai dengan niat.

Allah SWT berfirman diwajibkan berpuasa bagi orang beriman sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa atau muttaqin yang antara lain ciri utamanya adalah kemampuan mengendalikan diri atau kecerdasan amarah, yakni marah yang memiliki tujuan yang benar dan jelas, marah pada orang yang tepat, marah dalam kadar yang sesuai, marah pada waktu yang tepat, dan marah dengan cara yang baik. Jika demikian, menurut Aristoteles, ternyata marah bukanlah hal yang mudah melainkan harus terkendalikan dengan baik.

Menurut para pakar, marah adalah suasana hati yang paling sulit dikendalikan, dan yang paling menggoda diantara emosi-emosi negatif. Iblis ketika akan menjerumuskan manusia, pertama-tama datang dari pintu marah, demikian Said Hawwa (2000) dalam bukunya “Mensucikan Jiwa”. Gladwell menyatakan bahwa alasan banyak orang marah di dunia ini tanpa membedakan suku, agama dan ras adalah alasan penghinaan artinya siapa dia akan marah jika dihina.

Terbukti, banyak diantara orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapardan dahaga.

Dikisahkan, Rasulullah Saw mendengar seorang wanita mencaci-maki budaknya. Kepada perempuan itu,baginda Rasululullah Saw memberinya makanan dan memintanya segera memakan makanan tersebut, Perempuan tersebut memperotes seraya berkata, “Saya berpuasa ya Rasululah Saw, Nabi menjawab, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa, tetapi kamu mencaci-maki budakmu. Alangkah banyaknya yang lapar, Alangkah sedikitnya yang berpuasa”, dikutip dari Jalaluddin Rakhmat (2005) dalam bukunya “Madrasah Ruhaniah”.

Setelah perang Badr, para sahabat menyampaikan kesannya bahwa perang Badr tersebut menguras banyak tenaga dan pikiran. Sekalipun dalam jumlah pasukan yang jauh lebih sedilit dari musuh dan amunisipun sangat terbatas, namun kaum Muslimin memenangkan peperangan tersebut. Para sahabat mengatakan perang yang baru selesai itu adalah perang besar, tetapi nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa ada perang yang jauh lebih berat dan besar lagi dari perang Badr ini, yakni perang melawan hawa nafsu atau mengendalikan diri di bulan suci Ramadhan.

Sayyid Sabiq (2010) mengutip sabda Nabi Saw yang mengajarkan bahwa apabila seseorang dalam keadaan berpuasa, hendaklah ia mampu mengendalikan diri; janganlah ia berkata kotor, berteriak, bertindak bodoh, Jika ada seseorang mencelanya dan ingin bertengkar dengannya hendaklah ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”,

Pengendalian diri dapat dilakukan melalui pengekangan aktif dalam arti secara sadar dan terencana menciptkan suasana atau kondisi yang mendukung kekhusu’an dalam menjalani ibadah puasa, menyingkinkan semua aktifitas dan sarana yang dapat mengganggu kekhusu’an beribadah, seperti membatasi nonton hiburan di tv dan menggantikannya dengan kegiatan tadarus al-quran. Selamat menjalani ibadah puasa, jadikan Rhamadan 1437 ini sebagai bulan pengendalian diri agar mencapai keberhasilan  dan keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak, Amiin (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Integritas Semut

Anak adalah Bintang

Belajar di Era Ketidakpastian

Nyalakan Pelita Terangkan Cita-Cita

Melawan Rasa Takut (2)