Pendidikan Berbasis Perkembangan Manusia

Opini Ilmiah


Jumat, 26 September 2014 - 10:51:09 WIB | dibaca: 452 pembaca



Foto: Di Beijing International Convention Center

Oleh: Aswandi

ALVIN Tofler (1989) dalam bukunya “Future Shock” menegaskan bahwa masyarakat masa depan semakin terarah pada tugas intelektual yang inovatif dan kreatif, ditandai tiga ketrampilan utama, yakni (1) menjadi manusia pembelajar atau belajar terus menerus; (2) menjalin hubungan (jejaringan) atau sinergis; dan (3) memiliki kebebasan memilih. Mereka yang disebut tidak terpelajar di abad mendatang, bukanlah mereka yang tidak bisa membaca, bukanlah mereka yang tidak bisa menulis, dan bukan pula mereka yang tidak bisa menghitung. Mereka yang disebut tidak terpelajar di masa mendatang adalah mereka yang tidak lagi belajar atau tidak menjadi manusia pembelajar. Diantara karakteristik atau ciri siswa masa depan adalah siswa yang terus menerus belajar; (1) belajar apa saja; (2) belajar dimana saja; dan (3) belajar kapan saja.

MacGilchrist, Myers and Reed (2006) dalam bukunya “The Intelligent School” menyatakan bahwa belajar terus menerus merupakan hakikat atau esensi dari sekolah cerdas (The Intelligent School). Dengan perkataan lain, sekolah cerdas adalah sekolah yang melahirkan siswanya belajar terus menerus atau belajar sepanjang hayat.   

Pakar pendidikan lainnya berpendapat, “Jangan merasa atau mengaku diri Anda telah menjadi seorang guru professional, sebelum Anda melahirkan siswanya menjadi manusia pembelajar atau menusia yang senang belajar”. Tanpa disadari dan didorong oleh sebuah keinginan agar siswanya mencapai prestasi akademik atau Nilai Ujian (UN) tinggi, tindakan guru dan tenaga kependidikan lainnya justru membunuh semangat belajar siswanya, indikasinya antara lain belajar menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Perhatikan di saat pengumuman hasil ujian, bagi siswa yang dinyatakan lulus, mereka tidak sekedar meluapkan rasa bahagia karena keberhasilan tersebut, melainkan juga karena merasa sedikit terbebaskan dari sebuah proses pembelajaran yang selama ini dirasakannya kurang menyenangkan. Demikian pula yang dinyatakan belum berhasil UN yang semestinya harus mengulang setahun kemudian, tetapi mereka lebih memilih jalan mengikuti program paket; A, B, dan C, karena tidak menyenangi pengulangan dalam pembelajaran. Menjadi aneh dan lucu, bertahun-tahun mereka mengenyam pendidikan formal, namun akhirnya memperoleh ijasah pendidikan non-formal.

Fenomena manusia tidak senang belajar, terjadi disemua jenjang dan jenis pendidikan, mulai dari Taman Kanan-Kanak hingga perguruan tinggi, bahkan terjadi pada di hampir semua strata masyarakat.

Pada opini terdahulu, penulis  mengutip Alfie Kohn (2009) dalam bukunya berjudul “The School-Out Children Deserve” dan Thomas Amstrong (2011) dalam bukunya berjudul “The Best School” dimana mereka menyatakan pendapat yang sama, bahwa pendidikan dan pembelajaran berbasis prestasi akademik bukanlah sistem pendidikan yang baik untuk mengantarkan muridnya menjadi manusia pembelajar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu melatih para pelajar berpikir sendiri dan tidak menerima begitu saja gagasan pertama yang mereka terima dan siswanya menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Pendidikan yang mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) seutuhnya adalah pendidikan berbasis perkembangan manusia.

Pandangan mereka, didasarkan pada asumsi teoritik bahwa perkembangan menunjukkan proses yang tengah berlangsung, sesuatu yang terjadi dalam waktu tertentu. Dan perkembangan manusia adalah mengungkapkan atau melejitkan potensi yang terdapat dalam diri manusia, dan juga makna mengurai, membuka atau membebaskan manusia dari keterkungkungan, kerumitan atau rintangan.

Perkembangan timbul dari dalam. Alam tidak bisa memaksakan diri untuk maju dalam apapun yang tidak didorong keluar oleh kekuatannya sendiri.
Lebih jauh terdapat beberapa asumsi pendidikan dan pembelajaran berbasis perkembangan manusia ini; (a) menjadi manusia seutuhnya adalah bagian terpenting dari belajar. Inti dari pendidikan bermakna adalah memfasilitasi perkembangan manusia; (b) mengevaluasi pertumbuhan manusia seutuhnya adalah sebuah proses penuh makna, berkelanjutan, dan bersifat kualitatif yang menyangkut pertumbuhan manusia itu sendiri. Berbasis perkembangan manusia lebih mengukur pertumbuhan pendidikan dan pembelajaran di tengah pengalaman belajar itu sendiri; (c) lebih menyukai kurikulum yang lebih fleksibel, dibuat untuk individu dan memberi siswa pilihan  bermakna; (d) tertarik pada masa lalu, masa kini, dan masa depan setiap siswa; (e) bersifat ipsatif atau dari diri; (f) mendasarkan klaim keabsahannya dari kekayaan pengalaman manusia. Perkembangan manusia berakar pada tradisi humanism, aliran pikiran filosofi yang mendukung harga diri dan nilai setiap manusia.

Studi kasus individu, laporan diri, studi tentang pembelajaran berbasis fenomenologis, interpretasi hermeneutika atas karya siswa, pengamatan antropologi partisipatif, studi etnografi, pendidikan berbasis kualitatif; (g) muncul sebagai bagian dari upaya kalangan masyarakat bawah yang dalam hal ini oleh praktisi yang terinspirasi oleh pemikiran kreatif di bidang pendidikan dan psikologi; (h) inti pendidikan dan pembelajaran berbasis perkembangan manusia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan datang dari hasil perbuatan. Bukan perkataan, dan dari menjalani kehidupan dengan sepenuhnya. Kebahagiaan itu berada di dalam batin dan bukan di luar. Jadi kebahagiaan tidak bergantung pada apa yang kita miliki, tetapi pada siapa diri kita.

Dampak positip pendidikan dan pembelajaran berbasis perkembangan manusia, antara lain; (a) membuat siswa terlibat dalam kegiatan belajar dan perkembangan yang akan membuat mereka lebih siap untuk turun ke dunia nyata; (b) membuat semua siswa bersinar di bidang kekuatannya; (c) mengurangi kebutuhan untuk mengelompokkan siswa sebagai anak lambat belajar dan siswa yang tak mampu memusatkan perhatiannya, tak berprestasi akademik atau label negatif lainnya; (d) membuat siswa dapat mengembangkan kompetensi dan kualitas yang pada akhirnya akan membantu dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik dan nyaman untuk kehidupannya; (e) membantu memperbaiki banyak masalah sosial yang mencemari remaja dalam budaya masa kini yang terkotak-kotak; (f) membantu siswa lebih menjadi dirinya sendiri; (g) memberi pendidik dan siswa kendali lebih besar atas lingkungan belajar mereka; (h) mengurangi masalah disiplin di sekolah; (i) mendorong inovasi dan keragaman program belajar; (j) mendorong kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan taraf perkembangan manusia dan tidak mendukung kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan taraf perkembangan manusia di sekolah. Misalnya fokus utama pendidikan usia dini adalah bermain. Sekolah Dasar adalah memahami alam semesta. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama adalah perkembangan sosial, emosional, dan metakognitif. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas adalah menyiapkan anak untuk hidup mandiri dalam kehidupan nyata (Penulis, Dosen FKIP Untan)    


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kehidupan Bermakna

Mempolisikan Polisi

Kampus Penyelamat

Transisi Kepemimpinan

Kemerdekaan dalam Pembelajaran