Pencapaian Hasil Belajar

Dunia Pendidikan


Selasa, 08 April 2014 - 11:27:50 WIB | dibaca: 1617 pembaca



BEBERAPA hari lalu, diberitakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 7 Pontianak mengistirahatkan 25 orang siswanya karena mereka tidak memenuhi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau dianggap tidak mampu secara akademik sekalipun telah diberikan beberapa kali remedial. Bapak Sutarmidji selaku Wali Kota Pontianak dan Kepala Sekolah mensikapi kejadian tersebut secara arif bijaksana, yakni meminta agar siswa-siswa tersebut kembali bersekolah dan kepala sekolah menyanggupinya (Pontianak Post, 4 Februari 2014)

Penulis sangat apresiapi atas keinginan bapak Wali Kota dan Kadis Pendidikan Kota Pontianak untuk memahami secara lebih mendalam mengenai akar persoalan tersebut guna mencari solusi terbaik, yakni menurunkan pengawas dan guru pembina ke lapangan, pertama dan utama mempelajari proses pembelajaran yang berlangsung selama ini. Namun penulis sangat tidak sependapat jika dikatakan bahwa mengistirahkan siswa tidak menyalahi aturan. Jika benar ada aturan seperti itu, berarti aturan gila namanya, lebih kurang bijak lagi dalam kasus ini menyalahkan atau menyudutkan orang tua siswa.

Sikap penulis didasarkan pada asumsi bahwa bapak Wali Kota Pontianak telah memiliki kesadaran akan pentingnya mutu pendidikan sebagai prediktor kemajuan suatu bangsa. Terkait pendidikan bermutu, bapak Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden RI selalu menegaskan bahwa pendidikan bermutu adalah harga mati tanpa kompromi, karena ia merupakan investasi sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung kelangsungan pembangunan dan kehidupan bangsa. Sebaliknya, pendidikan tidak bermutu adalah awal dari keharcuran sebuah bangsa.

Negeri ini berada dalam kondisi pendidikan kurang bermutu, faktanya; (1) mutu pendidikan di Indonesia menempati posisi 50/50 di negara yang diteliti; (2) PISA 2012 memberikan potret mutu pendidikan di Indonesia dibanding negera-negara lain di dunia; (a) prestasi akademik bidang sains dan matematika menempati posisi 64/65 negara; (b) prestasi akademik bidang membaca menempati posisi 61/65 negara; (c) siswa Indonesia menempati posisi pertama atau teratas dari bangsa-bangsa lain di dunia dalam hal kurang serius dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, memperhatikan kondisi terpuruk ini, siapapun diantara kita, terutama stakeholder pendidikan yang tidak mendukung pendidikan bermutu di negeri ini berarti ia telah menjadi bagian atau memiliki kontribusi dalam merusak bangsa ini.


Kesadaran tentang mutu belumlah cukup, harus diikuti sebuah pemahaman mengenai manajemen mutu pendidikan, pembelajaran bermutu atau efektif, dan filosofi mutu yang bergerak dari dalam ke luar, artinya jika anda mengharapkan atau menuntut orang atau pihak lain bermutu, maka diri anda sendiri harus terlebih dahulu bermutu.
Satu pilar pendidikan bermutu adalah adanya standar mutu yang kemudian dijabarkan antara lain melalui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sempat memicu rasa tidak nyaman kita belakangan ini.

Jadi peristiwa tidak menyenangkan dan dipandang sebuah pelanggaran hak asasi manusia di dunia pendidikan tersebut sesungguhnya disebabkan oleh sesuatu yang sangat sederhana dan tidak ada yang dilematis, melainkan murni masalah pembelajaran yang kurang efektif. Pencapaian hasil belajar ditentukan oleh ketuntasan belajar atau tercapainya daya serap dan daya serap itu sendiri dipengaruhi oleh efektifitas proses pembelajaran. Bank dunia 2005 dan EFA Global Monitoring Report 2005, menegaskan bahwa prediktor utama pendidikan bermutu berawal dari pembelajaran efektif,  Sementara proses pembelajaran efektif dipengaruhi oleh banyak faktor, sebagaimana disampaikan John Hattie yakni; guru (50%), kurikulum (45%), pembelajaran (43%) siswa (39%) dan rumah (35%).

Pembelajaran efektif yang merupakan unsur utama dalam pencapaian hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa hal, yakni; (1) ketersediaan dan dukungan pengembangan dan pelatihan profesional pendidik; (2) mekanisme dan proses akuntabilitas, mencakup tata kelola; (3) kurikulum dan kontrol atau penilaian mutu pembelajaran, dan umpan balik pembelajaran; (4) sarana dan prasarana fisik sekolah; (5) kepemimpinan sekolah, organisasi dan budaya sekolah; (6) penjaminan dan sistem dukungan mutu, terutama penjaminan mutu internal; (7) kemitraan orang tua, sekolah dan masyarakat; dan (8) kehadiran dan motivasi peserta didik.

Pendapat lain, terkait prediktor pendidikan bermutu adalah sekolah efektif sebagaimana ditegaskan oleh Peter Martimor (2001) dalam bukunya “Improving School Effectiveness”, yakni; (1) professional leadership; (2) shared vision and goals; (3) learning environment; (4) concentration on teaching and leaning; (5) purposeful teaching; (6) high expectation; (7) positive reinforcement; (8) monitoring progress; (9) pupil right and responsibilities; (10) home-school partnership; dan (11) learning organization


Menurut pengamatan penulis, selain perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, faktor yang sangat lemah dalam pembelajaran efektif di negeri ini adalah; (1) lemahnya kontrol dan pengawasan terhadap mutu pembelajaran dimana pengawas dan kepala sekolah belum berfungsi dengan baik dalam proses pembelajaran itu; (2) Guru kurang memahami kesulitan belajar siswanya karena memang ia tidak proaktif untuk mengetahui dan memahami kesulitan itu yang semestinya setiap ia menemukan kesulitan belajar siswanya, ia catat dalam sebuah buku catatan khusus untuk itu. Pengalaman penulis mengikuti beberapa kali seminar internasional 2013 lalu, terungkap kegiatan utama yang harus dilakukan oleh setiap guru di beberapa negara maju adalah keharusan mereka mencacat setiap kesulitan belajar yang dialami siswanya, kemudian setiap akhir pekan dilakukan pertemuan guru dipimpin oleh kepala sekolah membahas kesulitan belajar siswa tersebut untuk dicarikan solusinya. Dari kegiatan itu dengan cepat diketahui dan dituntaskan setiap ditemukan adanya kesulitan belajar siswa. Sangat berbeda dengan praktek pembelajaran kita selama ini, dimana ketidaktuntasan belajar siswa menumpuk, siswa belajar dalam ketidaktahuan, baru diketahui ketidaktuntasan belajar setelah ulangan umum, bahkan setelah ujian. Ada kesalahan selama ini, kita lebih serius dalam urusan Ujian Nasional (UN) tetapi lalai dalam Ulangan Harian (Formatif Evaluation), padahal telah terbukti bahwa ulangan harian yang kemudian diikuti umpan balik memiliki kontribusi besar terhadap pencapaian hasil belajar, yakni; menyediakan evaluasi formatif memiliki kontribusi sebesar 90%, perilaku di ruang kelas sebesar 80%, umpan balik sebesar 73%, dan hubungan guru-murid sebesar 72%.

Berdasarkan penjelasan di atas, sekali lagi penulis tegaskan bahwa tidak terpenuhi ketidaktuntasan belajar siswa SMKN 7 Pontianak lebih disebabkan oleh pembelajaran kurang efektif yang terjadi selama ini akibat kurang pengawasan pembelajaran.

(Penulis: Dr. Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Dunia Pendidikan /

Sosok Utuh Guru Professional