Pemuda Pemilik Masa Depan

Opini Ilmiah


Rabu, 30 April 2014 - 09:48:10 WIB | dibaca: 1643 pembaca



SEJAK dulu hingga sekarang ini, sejarah telah membuktikan bahwa pemuda, remaja dan bahkan seorang anak cilik memiliki peran yang sangat penting dalam  memperjuangkan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan hingga mempersiapkan masa depan bangsanya.

John Freely (2012) dalam bukunya “The Grand Turk”, sebuah buku yang menceritakan sosok seorang anak berusia 12 telah mulai berjuang untuk kemerdekaan bangsanya dan saat ia berusia 21 tahun, yakni di tahun 1453, ia berhasil memimpin penaklukan konstantinopel, ibu kota Romawi Timur di bekas koloni Yanuni Byzantium, remaja yang dimaksud bernama Sultan Hehmet II, di mata Muslim dikenal sebagai “Sang Penakluk”, sementara di Barat ia dianggap sebagai “Teror bagi Dunia”. Selama 32 tahun masa kekuasaannya, seorang pemuda sekaligus pemimpin militer yang sangat brilian ini terus memerintahkan pasukannya untuk memperluas batas kekaisaran hingga Asia kecil dan terus menerobos ke negeri-negeri Erofa. Demi membendung ekspansi agresifnya, tiga paus pun memeranginya atas nama kekristenan Erofa melawan imprerium baru kaum Muslim.

Bukti lain dari peran pemuda sebagaimana ditulis oleh Brian Garfield (2011) dalam bukunya :The Paladin”, sebuah buku mengisahkan seorang anak cilik yang menjadi agen rahasia Peran Dunia II di era Wilston Chulchill, seorang pimpinan peran waktu itu. Seorang pimpinan perang membutuhkan seorang anak berjiwa kesatria yang tugasnya menerobos tanpa dicurigai ke dalam wilayah-wilayah musuh yang terdalam. Membunuh pria atau wanita satu demi satu atau ribuan sekaligus. Melaksanakan misi yang terbungkus dalam hening ketika sejarah perang digoreskan bagi generasi yang belum terlahir.

Di negeri inipun peran pemuda sangat penting. Fakta membuktikan bahwa Indonesia mulai dikonstruksi sebagai sebuah bangsa berawal tahun 1908, berlanjutat pada tahun 1928, yakni 28 Oktober yang dikenal sebagai “Sumpah Pemuda”, yakni satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Teks aslinya berbunyi sebagai berikut; “(1) kami poetra dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia; (2) kami poetra dan poeteri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia; dan (3) kami poetra dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persaoean, bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda yang mereka rumuskan jauh sebelum kemerdekaan merupakan nilai berbangsa yang sangat penting dan tetap relevan hingga saat ini, namun menurut penulis nilai sumpah pemuda tersebut harus terus direvitalisasi..
Di era perubahan yang semakin cepat, komplek, tak menentu dan tidak pasti di era global ini, para pemuda pemilik masa depan diharapkan setidaknya; (1) menjadi manusia pembelajaran; (2) memiliki pola pikir (mindset) 3G; dan (3) memiliki belas kasih (compassion).
Dalam prespektif pembelajaran yang menurut para ahli perubahan memberi kemampuan beradaptasi dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi, pembelajaran pemuda pemilik masa depan, adalah mereka yang belajar apa saja, belajar dimana saja dan belajar kapan saja.

James Reed dan Paul G. Stoltz (2013) dalam bukunya “Put Your Mindset to Work” mengatakan bahwa keahlian seseorang bukanlah jaminan karena memiliki daya tahan yang sangat singkat, sekitar 5 tahun. Ketika perubahan yang terjadi semakin cepat, kompleks, tak pasti dan tak menentu, keahlian menjadi tidak berguna, bahkan tidak lagi bernilai atau bermakna. 96% hasil survei membuktikan bahwa pencari kerja di berbagai profesi memilih pola pikir (mindset) dibanding keahlian karena ia menjadi faktor kunci pada apa yang mereka cari dan pekerjakan. Asumsi pencari kerja saat ini berfokus pada pola pikir dan sisanya keahlian akan berjalan dengan sendirinya. Masa depan yang dicirikan oleh perubahan sebagaimana dicirikan di atas sangat tergantung pada kepemilikan pola pikir (mindset) yang benar. Pola pikir yang dimaksudkan meliputi tiga hal (3G) yakni; Global Mindset, Good Mindset dan Grit Mindset. Global mindset adalah aspek terdepan karena merubah cakrawala dari pola pikir 3G, antara lain dicirikan mampu beradaptasi, fleksibel, kreatif dan inovatif. Good mindset adalah tentang kebaikan dan mutu muncul selanjutnya karena ia menjadi fondasi dari segala macam bangunan, antara lain dicirikan kejujuran, kepercayaan, kesetiaan, moralitas, dan ketulusan. Grit mindset adalah ketegasan, ia menjadi bahan bakar yang mendorong pola pikir 3G baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sulit sekalipun yang dicirikan komitmen, tanggung jawab, keteladanan, keuletan, ketahanan malangan, keinginan untuk menang, dan rigor atau bekerja sungguh-sungguh hingga berhasil.

Pemuda pemilik masa depan, menurut Karel Amstrong,(2013) dalam bukunya “Twelve Steps to a Compassionate Life” harus memiliki belas kasih terhadap sesamanya, Ia menegaskan bahwa semua komunitas global yang di dalamnya semua orang dapat hidup bersama saling menghormati. Kaidah emas yang digunakan menjadi dasar menuju kehidupan belas kasih tersebut adalah sebuah nilai yang pernah dipopulerkan oleh Confusius, “Jangan perlakukan orang lain dengan cara yang tidak Anda inginkan untuk diri Anda sendiri”, atau dalam bentuk positif; “Selalu perlakukan orang lain sebagaimana yang Anda inginkan untuk diri Anda sendiri”.

Februari 2009 di Swiss disepakati sebuah Piagam Belas Kasih (Charter for Compassion) yang bersemayam di dalam jantung seluruh agama, etika, dan tradisi spiritual  menghimbau kita untuk selalu memperlakukan semua orang sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan. Komunitas belas kasih dunia menyerukan kepada seluruh laki-laki dan perempuan, untuk; (1) mengembalikan belas kasih ke pusat moralitas dan agama; (2) kembali kepada prinsip bahwa setiap interpretasi atas kitab suci yang menyuburkan kekerasan, kebencian, atau kebejatan adalah tidak sah; (3) memastikan bahwa kaum muda diberi informasi akurat dan penuh rasa hormat mengenai tradisi, agama, dan budaya lain; (4) mendukung apresiasi positif atas keragaman budaya dan agama; (5) menumbuhkan empati yang cerdas atas penderitaan seluruh manusia, bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh, dan (6) perlu segera menjadikan belas kasih sebagai sebuah kekuatan yang jelas dan dinamis di dunia kita yang terpolarisasi. Berakar dalam tekad yang berprinsip mengatasi keegoisan, belas kasih dapat menembus batas-batas politik, dogmatis, ideology dan agama. Lahir dari saling kebergantungan kita yang mendalam, kasih sayang adalah penting bagi hubungan manusia dan bagi kemanusiaan yang paripurna. Ini adalah jalan menuju pencerahan dan sangat diperlukan untuk penciptaan ekonomi yang adil dan komunitas global yang damai. Mengakhiri opini ini, penulis kembali berpesan kepada para pemuda pemilik masa depan agar mempersiapkan diri menjadi manusia pembelajar, menjadi manusia yang memiliki pola pikir global, good dan grit, dan memiliki belas kasih kepada sesama (Penulis: Aswandi, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memulai Perubahan

Kekerasan Seksual pada Anak

Larangan Menyisakan Makanan

Buku Perubah Peradaban

Penyakit Narsistik