Pemimpin Sederhana

Opini Ilmiah


Senin, 23 Juni 2014 - 09:37:47 WIB | dibaca: 1085 pembaca



Oleh: Aswandi
 
TEORI kepemimpinan mengalami evolusi dalam tiga fase, yakni; teori sifat (trait), teori situasional, dan teori kepengikutan. Sekalipun teori sifat hadir untuk pertama kalinya dan disempurnakan oleh teori berikutnya, Namun pada saat ini teori sifat masih relevan dan seringkali digunakan sebagai pisau analisis dalam memahami kepemimpinan, misalnya sifat atau karakter sederhana seorang pemimpin. Istilah sederhana tersebut seringkali ditukar gantikan penggunaannya dengan istilah “Zuhud”.  
Ibnul-Jauzy mengatakan, “Az-Zuhd adalah ungkapan tentang pengalihan keinginan dari sesuatu kepada sesuatu lain yang lebih baik darinya”. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Az-Zuhd adalah menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat, entah karena memang tidak ada manfaatnya atau entah karena keadaannya yang tidak diutamakan, karena ia dapat menghilangkan sesuatu yang lebih bermanfaat atau dapat mengancam manfaatnya, entah manfaat yang sudah pasti maupun manfaat yang diprediksi”, demikian Imam Ahmad bin Hambal (2000) dalam bukunya “Az-Zuhd”.

Perkembangan selanjutnya, sederhana tidak semata dihubungan dengan sifat fisik-material seorang pemimpin, seperti kemeja yang dipakainya, bajaj yang ditumpanginya dan blusukan yang dijalaninya untuk menarik simpati pemilih, melainkan juga terkait dengan kepemimpinan, manajemen dan kebijakan publik yang dilakukannya. Seorang teman mencritakan pengalamannya saat mendampingi Menteri Dalam Negeri ketika melakukan kunjungan atau studi banding ke berbagai negari Asia dan Erofah. Ia mengatakan bahwa kebijakan publik di negara-negara yang dikunjunginya itu sangat sederhana, mudah dipahami, dan terukur, sangat berbeda dengan kebijakan publik di negera ini yang terkesan bagus dalam konsep tetapi kurang efektif dalam implementasinya.

Jadi, pemimpin sederhana adalah pemimpin bermental kelimpahan, berpakaian kesederhanaan, dan menjadi pemimpin dimotivasi untuk memberi manfaat yang lebih bagi pengikut atau rakyatnya.  

Kita memiliki pemimpin sederhan, seperti nabi Muhammad Saw, Isa as, Mahatma Gandhi, Siddharta Gautama, Ahmadinejad dan di Indonesia kita memiliki M. Natsir pendiri Masyumi.

Rasullullah Saw bersabda, ”Lebih baik seseorang mengenakan pakaian dari tambalan-tambalan dari pada dia mengambil dalam amanatnya sesuatu yang bukan dari miliknya sendiri”. Dari Abdullah, dia berkata, ”Rasulullah Saw tidur di atas tikar yang menimbulkan bekas guratan di lambungnya”. Dari Atha’ bin Abi Rabbah, Rasulullah Saw bersabda, ”Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang memakan sebagaimana hamba sahaya makan dan aku duduk sebagaimana hamba sahaya duduk”. Kesederhanaan hidup baginda Rasulullah Saw diikuti oleh para sahabat, seperti Abu Bakar, yakni seorang khalifah/pemimpin negara, ketika meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar atau satu dirhampun. Satu-satunya jubah yang digunakan ketika memerintah ia kembalikan kepada negara.

Siddharta Gautama yang lebih dikenal sebagai pendiri agama Budha dibesarkan dalam istana mewah, tetapi tidak betah hidup enak berleha-leha. Dari jendela istana yang gemerlapan dia menjenguk keluar dan tampak olehnya orang miskin terkapar di jalan-jalan, pagi makan, sore tidak atau tidak mampu makan sama sekali, hari demi hari mengejar kebutuhan hidup yang tak kunjung terjangkau. Tidak tahan melihat penderitaan rakyatnya, ia ambil keputusan meninggalkan kehidupan istana yang serba berkecukupan untuk hidup sederhana bersama rakyatnya. Sekarang ini banyak orang dari segala penjuru angin ingin berguru kepadanya tentang ”Empat Kebajikan Kebenaran”.

Mahatma Gandhi menolak semua keuntungan kekuasaan yang didambakan oleh para pemimpin di dunia, dia menolak bepergian kemanapun kecuali dengan berjalan kaki atau naik kereta kelas tiga dan mengasingkan diri dalam kesederhanaan, ia nikmati dingin dan kejamnya sinar matahari di musim panas sebagaimana dialami rakyatnya guna mempertajam kecerdasan emosional, sosial dan spritualnya, ia percaya semakin murni penderitaan, semakin besar kemajuan, sangat berbeda dari kebanyakan pemimpin kita dimana kehidupan sederhana hanya sebuah retorika; diundangkan, dipidatokah, dikhutbahkan, dikampanyekan dan tidak sejak dulu diamalkan.

Dia berkata, “Jika India dan kemudian seluruh dunia, ingin mendapat kebebasan yang sebenarnya, maka kita harus pergi dan tinggal di desa-desa, di gubuh-gubuk, bukan di istana, demikian ditulis oleh Stanley Wolpert (2005) dalam bukunya “Gandhi’s Passion the Life and Legacy of Mahatma Gandhi”. Gaya hidupnya sangat kontras dibanding gaya hidup kebanyakan para pemimpin kita saat ini yang lebih disibukkan dengan rumah dan mobil dinasnya yang sangat mewah. Dibangun, dipelihara, dan kesehariannya dibiayai dari keringat rakyatnya. Kenapa mereka tidak malu kepada rakyatnya.

Ahmadinejad sebagai salah seorang pemimpin sederhana diberbagai kesempatan selalu mengingatkan dirinya, ”Kenapa saya harus merasakan kenyamanan kalau rakyat di sekitar saya menderita kepanasan. Untuk mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera, para pemimpin dan pejabat negara harus memiliki standar hidup yang sama dengan kebanyakan orang dalam masyarakatnya. Pemimpin harus mencerminkan kehidupan nyata masyarakat di sekitarnya, tidak hidup di menara gading”, katanya. Adapun bukti kesederhanaan Ahmadinejad yang membedakannya dari para pemimpin dunia lainnya, antara lain; (1) Kantor Presiden Republik Islam Iran hanyalah sebuah bangunan kecil di kawasan padat, kantor yang tak bermeja, hanya memiliki kursi membentuk U mengelilingi ruangannya, ketika seorang pelayan menawarkan minuman, selesai diminum meletakkan gelasnya di bawah kursi, sangat berbeda dari kita yang akhir-akhir ini berlomba-lomba membangun kantor mewah untuk para pemimpin dan birokrat; (2) Selalu memakai jas murahan dan baju tanpa dasi produksi dalam negeri, sepatu usang/butut, layaknya pakaian yang dikenakan laki-laki dewasa di Iran pada umumnya; (3) Karena faktor kemiskinannya, ia tidak mampu memasang baheho, poster, spanduk, apalagi iklan sebagai sarana kampanye menjadi presiden Iran, tetapi  sikap konsisten dan istiqamahnya mengalahkan fungsi media kampanye tersebut; (4) Menggunakan mobil tua merek Peugeot produksi 1973, berbeda dari kebanyakan pemimpin yang merasa minder mengendari mobil sendiri tanpa supir pribadi, terlebih lagi mobil berusia tua, dan penulis menemukan pejabat di negeri miskin ini tersinggung karena duduk di samping supirnya; (5) Menjadi Walikota sekaligus sebagai petugas kebersihan yang kerjanya menyapu jalan serta membersihkan sampah di selokan agar aliran air menjadi lancar, setahu penulis hanya Ahmadinejad, pemimpin dunia abad ini yang melakukan tugas mulia tersebut; (6) Ketika menjabat sebagai walikota memberikan semua gajinya untuk kepentingan masyarakat. Wahai para pemimpin, sekali-kali berdirilah di depan cermin, tatap wajahmu dengan tulus, ikhlas dan jujur sembari memohon petunjuk TuhanMu. Di balik cermin tersebut, kamu akan menemui dirimu sebagai seorang pemimpin yang belum melakukan apa-apa buat rakyat/pengikutmu, justru kau akan melihat banyak rakyat kecil yang selama ini termarjinalkan telah berbuat banyak untuk bangsa/daerah, tanah tumpah darahnya melebihi dari apa yang kamu perbuat. Jangan salahkan pemimpin atas ketidakmajuan bangsa ini karena ini semua terjadi akibat kesalahan dan kebodohan kita memilih mereka (Penulis, dosen FKIP UNTAN dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Prediktor Kemajuan Sebuah Bangsa

Pemimpin Pemberani

Pidato Pemimpin Perubahan

Miskin, Kaya dan Memberi

Masalah Kontemporer Pendidikan