Pemimpin Pemecah Masalah

Opini Ilmiah


Kamis, 10 April 2014 - 09:02:54 WIB | dibaca: 1208 pembaca



ARNOLD Toynbee seorang penulis sejarah manusia mengatakan bahwa kebangkitan umat manusia atau kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan atas kemampuannya memberikan tanggapan secara tepat terhadap masalah yang dihadapi umat dan bangsanya. Tesis tersebut memberi pemahaman bahwa perubahan, kebangkitan dan kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kehadiran seorang pemimpin yang telah terbukti memiliki kemampuan menyelesaikan masalah (problem solver) yang sedang dihadapi bangsanya.
    
Penulis tegaskan bahwa masalah tidak sama dengan fakta/data. Dan Fakta/Data belum dapat disebut masalah, baru awal dari timbulnya masalah. Penegasan ini penting, karena seringkali banyak orang sudah merasa paham terhadap suatu masalah, padahal mereka itu baru memiliki fakta/data yang masih sangat mentah, kemudian fakta/data tersebut diidentifikasi dan dikaji secara lebih mendalam baru dapat ditemukan permasalahan yang sesungguhnya untuk dicarikan jawabannya. Misalnya Angka Partisipasi Kasar (APK) bidang pendidikan masih sangat rendah (sebuah fakta).

Permasalahan sangat luas, mengapa demikian?. Boleh jadi jumlah sekolah/ruang kelas, guru kurang, dan nilai sekolah bagi anak/keluarga kurang bermakna sehinga anak-anak mereka tidak perlu ke sekolah, dan seterusnya.   

Pemilu 2014 diharapkan melahirkan pemimpin yang mampu menyelesaikan atau memecahkan masalah. Kita pilih presiden sebagai kepala pemerintahan yang mampu menyelesaikan masalah bangsa, demikian pula kita pilih anggota DPR RI/DPRD yang mampu menjalankan fungsinya untuk menyelesaikan masalah bangsa pula.

Berdasarkan tesis  di atas, penulis amati dan berpendapat setidaknya ada dua orang calon presiden RI yang layak dipilih pada Pemilu 2014 pengganti SBY, karena telah terbukti mampu menyelesaikan sebagian permasalahan bangsanya, yakni seorang calon presiden RI yang diusung melalui mekanisme Konvensi Partai Demokrat dan seorang calon presiden RI lainnya yang digadang oleh sebuah partai politik peserta pemilu.

Sementara ada calon lain dimunculkan, namun beliau selalu mengatakan “Belum Mikir Mau Menjadi Presiden”, izinkan agar beliau menjadi pengikut yang baik saja dulu.

Stateman sangat sederhana dan sedikit kocak. Namun bagi penulis penuh makna dan dapat dipahami, karena beliau menyadari bahwa untuk menjadi pemimpin pada level yang lebih tinggi haruslah terlebih dahulu sukses menjadi pemimpin pada level di bawahnya.

Warren Bennis seorang pakar kepemimpinan membenarkan pendapat tersebut, ia menegaskan bahwa seorang pemimpin berasal dari seorang pengikut. Pemimpin yang baik berasal dari pengikut yang baik pula. Di zaman edan sekarang ini banyak pengikut berperilaku seperti monster (hantu bangkit) memiliki khasrat ingin menjadi pemimpin, setelah menjadi pemimpin nanti mereka akan membuat kerusakan di muka bumi ini.

Selain itu, sepertinya beliau menyadari bahwa belum mampu membuktikan janjinya untuk menyelesaikan dua persoalan besar daerah yang dipimpinnya, yakni macet dan banjir.

Fenomena di atas satu contoh baik dari seorang pemimpin di tengah-tengah hiruk-pikuk banyak orang yang sedang haus kekuasaan, semoga saja menjadi pembelajaran bermakna.

Tidaklah salah jika ada yang meminta beliau untuk bersabar menjadi presiden, buktikan dulu menjadi seorang gubernur pemecah masalah utama ibu kota.

Kekhawatiran banyak pihak/orang terhadap mereka yang ingin menjadi pemimpin dan/atau menjadi anggota DPR RI/DPRD, apakah telah memiliki pemahaman yang luas dan jelas mengenai segala persoalan daerah dan bangsanya.

Jangan sampai terjadi ingin menjadi anggota DPRD Provinsi Kalbar, wawasan berpikirnya dari Pelampung Siantan hingga Batulayang. Sistem rekrutmen pemimpin dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku pada saat ini tidak menutup kemungkinan calon pemimpin yang bertaburan balihonya di tempat umum menjual diri sekalipun tidak paham atas permasalahan yang ada di wilayah terorialnya, paham saja tidak, apalagi mau menyelesaikan permasalahan itu terpilih menjadi pemimpin kerena kemampuannya mendulang suara rakyat. Jika ini yang terjadi, akan jadi apa daerah dan bangsa ini.

Sehubungan dengan itu, untuk memperoleh pemimpin yang mampu menyelesaikan persoalan rakyat dan bangsa ini, penulis setuju sebuah tema Pemilu 2014 sebagai jawabannya, yakni “Pemilih Cerdas, Pemilu Berkualitas”, artinya para pemilih jangan mau dibodohi, pilihlah pemimpin berdasarkan hati nurani masing-masing atas kesadaran dan pemahaman bahwa calon pemimpin yang dipilih itu memiliki kemampuan menyelesaikan masalah.

Mengikuti penjelasan tentang perbedaan makna antara “Fakta dan Masalah” di atas, semakin jelas betapa sulitnya seorang pemimpin untuk membuat sebuah perubahan dan kemajuan jika tidak memahami permasalahan dan kurang berpengalaman dalam menyelesaikan permasalahan rakyat dan bangsanya.

Pemimpin pemecah masalah adalah seorang climbers atau pemimpin yang memiliki mental pendaki sekalipun banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi, ia terus mendaki demi mencapai visi, bukan pemimpin bermental campers atau pemimpin yang berkemah, berhenti mendaki karena ada tantangan dan rintangan, apalagi quitters atau pemimpin yang berhenti atau tak mau mendaki akibat tidak memiliki visi yang jelas.

Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai tingkat kecerdasan calon pemimpin dalam menghadapi masalah digunakan empat karakteristik berikut ini; control atau Kendali, Origin and Ownership atau Asal Usul dan Pengakuan, Reach atau Jangkauan; dan Endurance atau Daya Tahan, dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya “Adversity Quotient”.

Empat karakteristik tersebut di atas, dijelaskan secara singkat berikut ini; (1) Control atau Kendali mempertanyakan berapa banyak control atau kendali yang dirasakan terhadap sebuah peristiwa yang menimbulkan kesulitan; (2) Origin and Ownership atau Asal Usul dan Pengakuan mempertanyakan dua hal; siapa atau apa yang menjadi asal usul kesulitan dan sampai sejauh manakah seseorang mengakui akibat kesulitan itu; (3) Reach atau Jangkauan mempertanyakan sejauh manakah kesulitan menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan seseorang; dan (4) Endurance atau Daya Tahan mempertanyakan dua hal yang berkaitan; berapa lamakah kesulitan akan berlangsung dan berapa lamakah penyebab kesulitan itu akan berlangsung.

Disamping karakteristik tersebut di atas, kecerdasan calon pemimpin dalam menghadapi masalah dapat dikenali melalui kemampuannya dalam mendengarkan respons orang lain terhadap masalah yang dihadapinya, kemudian keinginan dan kemampuannya untuk explore atau menjelajahi asal usul masalah tersebut dan memberikan pengakuan atas akibatnya.

Langkah selanjutnya, calon pemimpin tersebut mau dan mampu menganalisis bukti-buktinya untuk mengawali tindakannya dalam menjawab permasalahan yang dihadapinya (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kembali pada Keluarga

Petunjuk Penulisan Artikel Penelitian / Jurnal Elektronik di Lingkungan UP4I - FKIP Untan

Bersatu Berjuang Menang

Sekolah Tanpa Kertas

Pencapaian Hasil Belajar