Pemimpin Pemberani

Opini Ilmiah


Rabu, 18 Juni 2014 - 11:39:29 WIB | dibaca: 1150 pembaca



Oleh: Aswandi

Pada diri dua orang calon presiden RI (Prabowo dan Jokowi) melekat dua karakter atau kepribadian yang sangat diperlukan Indonesia ketika bangsa ini ingin menjadi sebuah bangsa bermartabat dan beradab. yakni berani dan sederhana. Hal ini telah ditegaskan Mahatma Gandhi, bahwa; ”di jalan menuju kehidupan berstandar moral tinggi dimulai dengan tindakan berani dan sederhana”.

Suatu kenyataan, bahwa “banyak pemimpin di negeri ini justru takut, pengecut, dan tidak bertanggung jawab atau suka menyalahkan orang lain”, dikutip dari Mochtar Lubis (1995) dalam bukunya “Manusia Indonesia”.

Pada opini hari ini, penulis memilih topik “Pemimpin Pemberani”. Opini berikutnya, penulis lanjutkan dengan topik “Pemimpin Sederhana”.
Keberanian adalah sebuah kata sifat yang sangat penting sebagai wujud dari super dan pejuang hidup-mati, ia diperlukan untuk mewujudkan impian. Jika setiap orang ingin meninggalkan warisan yang benar-benar abadi, hal ini merupakan hasil dari tindakan berani. Keberanian adalah  kebenaran yang membuat semua kebenaran lainnya nyata.

Socrates dan Aristoteles, filosof Yunani mengatakan keberanian adalah karakter penting dalam menjalani kehidupan yang baik dan mempertahankan kehidupan masyarakat sipil, dikutip dari Kouzes dan Posner (2006) dalam bukunya “ALeader’s Legacy”.

Sejarawan Romawi Tacitus menulis, “Hasrat untuk selamat akan menghambat setiap prestasi besar dan mulia. Namun keberanian membawa efek sebaliknya. Karena keberanian akan membuka pintu kemajuan”.

Disimpulkan oleh para ahli bahwa sepanjang sejarah, “setiap muncul sebuah peradaban baru, Allah SWT selalu menepuk bahu seorang pemimpin pemberani untuk memulainya”.

Seorang teolog Swiss mengatakan; “Keberanian adalah rasa takut yang telah disertai dengan doa”. Winston Churchill, salah seorang Perdana Menteri Inggris mengatakan, “Keberanian secara tepat dianggap sebagai kualitas yang utama dalam diri manusia, dan kualitas keberanian inilah yang menjamin kualitas-kualitas lainnya”.

Pendeta Peter J. Gomes menulis, “Kita mau menciptakan kehidupan yang tidak sekedar hidup. Keinginan tersebut membutuhkan keberanian”.

Keberanian sangat penting untuk mempertahankan komitmen pada norma perilaku universal; norma keadilan misalnya. Mahatma Gandhi mengatakan, “kita harus mempunyai keberanian, kemauan keras dan tanggung jawab pribadi untuk memberantas ketidakadilan jika kita ingin memperbaiki standar moral para pemimpin”.  

Kepemimpinan dimaknai membawa orang ke tempat yang belum pernah mereka singgahi dan kita tidak dapat ketempat itu tanpa keberanian. Pemimpin pemberani bersedia mengorbankan fisiknya untuk perbuatan mulia yang diyakininya dan secara moral berani melakukan apa yang benar dan menerima konsekwensinya.

Namun pada akhirnya keberanian morallah yang menentukan standar kepemimpinan seseorang”, demikian Kashavan Nair (1997) dalam bukunya “A Higher Standard of Leadership”.

Selain itu, kepemimpinan harus dipahami sebagai ungkapan keberanian yang mendorong orang lain untuk melakukan dan membela hal yang benar, bukan membela yang bayar. Dengan keberanian dan kerja keras, seorang pemimpin memenangkan persaingan, Kemauan keras pemimpin memberikan keyakinan kepada pengikutnya bahwa mereka bisa unggul dan tetap eksist.

Pewarta Injil Billy Graham mengatakan, “Keberanian itu menular, jika seorang pemimpin pemberani memegang teguh prinsipnya, maka para pengikutnya turut berani”.

Larry Osborne mengatakan, ciri yang menonjol pada diri setiap pemimpin besar yang membawa kemajuan adalah keberanian mengambil resiko”.
Pidato Franklin Delano Roosevelt saat dilantik untuk pertama kali menjadi pemimpin bagi bangsa Amerika menyatakan, “Yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri”.

John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “The 21 Indispensable Qualities of`A Leader” menulis kebenaran tentang keberanian; (1) keberanian dimulai dengan pergumulan batin, artinya keberanian pemimpin dimulai dari dalam dirinya sendiri. Semua pergumulan besar terjadinya di dalam diri seseorang, demikian Seldom Kopp; (2) keberanian artinya mengubah segalanya, menjadi benar, bukan sekedar meredakannya saja. Keberanian adalah menyangkut prinsip bukan persepsi; (3) Keberanian seorang pemimpin menginspirasikan komitmen para pengikutnya; (4) Kehidupan berkembang menurut keberanian.

Soekarno (Presiden Pertama RI) dan Mahatir Muhammad (Perdana Menteri Malaysia) tercatat sebagai pemimpin pemberani Asia dan telah berhasil meletakkan pondasi yang kuat untuk berdiri tegak dan berlangsungnya sebuah negara.

Setelah sekian lama, negara Asia kehilangan pemimpin pemberani, muncul periode berikut  ”Pemimpin Pemberani Asia” yang berasal dari Iran yakni Ahmadinejad.
Mempelajari profil Presiden Iran tersebut, penulis menemukan banyak  informasi yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi muda, pemimpin masa depan, misalnya sikap tegas dan berani menghadapi fitnah dan ancaman negara adikuasa, dengan mengatakan; “Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya?. Sebaliknya, jika teknologi nuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya”, demikian Adel El Gogary (2007) dalam bukunya, “Ahmadinejad The Nuclear Savior of Tehran”. Seorang guru dan anak tukang besi yang sangat dihormati dan disegani saat ini kembali menunjukkan keberaniannya, yakni; ”Kemenangnnya bukan hanya untuk sebuah revolusi dan dilakukan tidak sekedar untuk menciptakan demokrasi. Maka keputusan pertamanya di dalam negeri adalah memecat 30 orang duta besar Iran dari jabatannya, dan mengajukan mereka untuk penyelidikan lebih lanjut dengan tuduhan penggelapan keuangan negara dan melakukan penyalahgunaan wewenang selama 16 tahun terakhir. Beliau menyadari diantara segala kerumitan ada setan yang bersembunyi. Setan bisa menjelma seorang rahib di tengah sakit yang menderanya”. Keberanian lainnya membuat keputusan yang mengejutkan banyak pihak adalah “Menggunakan kembali Rafsanjani saingan beratnya pada putaran terakhir pemilihan presiden dalam pemerintahannya”, tanpa menaruh rasa dendam dan sakit hati.

Setiap langkah dalam perjalanan menuju standar kepemimpinan yang lebih tinggi memerlukan keberanian, yakni  keberanian mengikat diri pada kebenaran absolut dan  universal.  (Penulis, Dosen FKIP UNTAN dan Direktur The Aswandi Foundation)




Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pidato Pemimpin Perubahan

Miskin, Kaya dan Memberi

Masalah Kontemporer Pendidikan

Publikasi Ilmiah Guru

Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan