Pemimpin Bersama Guru

Opini Ilmiah


Senin, 03 November 2014 - 10:55:48 WIB | dibaca: 1101 pembaca



Foto: Asrama Mahasiswa Universitas Brunai Darussalam

Oleh: Aswandi
 
GURU adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Pada era globalisasi, profesi guru bermakna strategis, karena penyandangnya mengemban tugas sejati bagi proses kemanusiaan, pemanusiaan, pencerdasan, pembudayaan, dan pembangun karakter bangsa. Esensi dan eksistensi makna strategis profesi guru tersebut diakui dalam realitas sejarah pendidikan di semua belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Sebuah tesis menyatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh pendidikan berkualitas, dan pendidikan berkualitas ditentukan sebesar 50% oleh guru profesional dan bermartabat.

Beberapa fakta sejarah emas guru Indonesia sebagai bukti bahwa bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) selaku presiden RI selalu ingin bersama guru Indonesia;

Semasa hidupnya, almarhum Prof. Dr. Hadari Nawawi pernah bercerita kepada penulis, bahwa saat beliau menjadi anggota MPR-RI, tiga puluhan tahun lalu, presiden di negeri telah mengalami silih berganti. Undang-undang guru sudah pernah disusun dan selalu kandas dalam pembahasan di DPR-RI. Undang-undang tentang guru tersebut tidak atau kurang menarik untuk dibahas oleh lembaga legislatif pada waktu itu karena diyakini atau dianggap tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemajuan sebuah bangsa, dan secara ekonomi termasuk ke dalam perundang-undangan “Kering” atau tidak menghasilkan banyak uang bagi pembahasnya, berbeda dengan perundang-undangan bidang ekonomi.

Sangat berbeda, sejak awal SBY memerintah, presiden RI Ke-6 yang pernah bercita-cita menjadi seorang guru telah berhasil melahirkan Undang-Undang guru, yakni UU RI No.14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Pengakuan itu berawal tatkala tanggal 2 Desember 2004, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencanangkan guru sebagai profesi dan memiliki kekuatan formal sebagai dasar legal pengakuan atas profesi guru dengan segala dimensinya.

Metamorfosis harapan untuk melahirkan UU tentang Guru dan Dosen telah menempuh perjalanan panjang.
Pencanangan Guru sebagai Profesi oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menjadi salah satu akselerator lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 itu
Tidak mengurangi penghormatan kepada para presiden RI sebelumnya, penulis menyampaikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada beliau karena UU RI No. 14/2005 tersebut menjadi dasar, pintu masuk atau entri point bagi guru Indonesia yang bercirikan; professional, bermartabat, dan  sejahtera.

Tiga karakteristik guru Indonesia tersebut telah terbukti mampu mengangkat harkat martabat guru Indonesia dari posisi terhina dan tidak diminati menjadi posisi terhomat dan sangat diminati oleh generasi muda terbaik di negeri ini. Data terakhir menunjukkan bahwa menjadi guru mendapati urutan ke-4 dari sepuluh program studi yang diminati calon mahasiswa di Indonesia dan mahasiswa calon guru Indonesia adalah lulusan terbaik sekolah menengah.

Penulis sendiri mengalami penghinaan oleh pejabat penting di daerah ini karena mengetahui penulis berprofesi seorang guru Sekolah Dasar Negeri pada waktu itu. Sejak itu sudah ada dalam pikiran penulis bahwa cukup Aswandi sendiri yang terhina karena berprofesi sebagai seorang guru, di masa yang akan datang tidak boleh ada lagi guru yang terhina seperti yang penulis alami. Peristiwa penghinaan tersebut justru menjadi tombak, inspirator dan motivator penulis untuk selalu bersama guru. Terakhirnya seorang guru pernah terhina ini diizinkan Allah SWT menjadi seorang gurunya calon guru dan dua periode (8 tahun) menjadi pimpinan atau Dekan dari sebuah fakultas yang melahirkan guru Indonesia.

Bukti berikutnya, Pemerintahan dibawah komando SBY secara terus menerus meningkatkan kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi dan pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan yang kemudian sangat berdampak pada kesejahteraan guru. Buktinya, tidak kurang dari 70% APBN DIPA Kemendikbud teralokasikan untuk melaksanakan kegiatan sertifikasi guru/dosen dan untuk membayar tunjangan profesi guru/dosen, dan baru sekarang ini telinga kita mendengar dan mata kita melihat, gaji guru tidak beda dengan gaji gubernur dan wali kota, seperti yang dialami para guru di DKI Jakarta dan beberapa daerah lain di Indonesia.

Bukti selanjutnya, Beberapa tahun lalu, keuangan negeri ini mengalami resesi akibat resesi keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Pemerintah mengambil kebijakan pemotongan APBN di semua kementerian, Kemendikbud pada waktu itu harus memangkas anggarannya sebesar Rp. 7, 6 trilyun. Proyek pembangunan sekolah dan ruang kelas baru, Biaya Operasional Manajemen Sekolah dan beasiswa untuk sementara waktu ditangguhkan, pak SBY mengingatkan pemotongan beberapa mata anggaran tersebut di atas boleh saja dilakukan, tetapi anggaran yang digunakan untuk melaksanakan sertifikasi dan membayar gaji beserta tunjangan profesi guru/dosen tidak bolehdipotong, harus tetap segera dibayarkan.

Presiden SBY mengetahui bahwa kinerja guru yang telah memiliki sertifikat pendidik tidak berbeda dengan kinerja guru yang belum disertifikasi, Namun, sekalipun kondisi demikian tidak membuat beliau marah, dan tidak mengurangi keinginan dan tekat beliau mensejahterakan guru Indonesia. Beliau berkeyakinan bahwa pada saatnya nanti, jika guru telah sejahtera, maka akan diikuti oleh peningkatan kinerjanya. Beliau berharap agar kita bersabar menghadapi kondisi ini.
Bukti berikutnya, beliau selalu hadir setiap kali diundang mengikuti pertemuan atau kegiatan yang dihadiri para guru Indonesia. Terakhir, sebelum beliau menyerahkan jabatannya kepada presiden Joko Widodo, Kementerian Dikbud melaksanakan suatu kegiatan menghadirkan para guru program SM 3T di Hotel Bidakara Jakarta, karena bersamaan waktunya dengan kunjungan beliau ke berbagai negara, maka beliau yang semulanya akan hadir bersama guru diwakili oleh bapak Boediono selaku wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi. Sikap beliau yang selalu ingin bersama guru Indonesia mendapat dukungan penuh dari seorang istri, Ibu Ani yang juga sangat dekat hatinya dengan guru Indonesia.

Penulis berhadap dan yakin, bapak Joko Widodo selaku presiden RI ke-7, bapak Jusuf Kalla selaku wakil presiden, bapak Anies Baswedan selaku Mendikbud dan bapak M. Nasir selaku Mendiktiristek akan melakukan hal yang sama sebagaimana telah dilakukan oleh bapak SBY, yakni pemimpin bersama guru Indonesia (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pidato Pelantikan Pemimpin

Berguru Kepada Orang Gila

Memilih Kepala Daerah

Bergerak Bersama Membangun Bangsa

Pendidikan Berbasis Perkembangan Manusia