Orang Asing di Rumah Kita

Opini Ilmiah


Jumat, 23 Mei 2014 - 09:52:55 WIB | dibaca: 1121 pembaca



Oleh: Aswandi

JUDUL opini di atas terinspirasi kisah imajiner “Orang Asing”, dikutip dari Rhenald Kasali (2013) dalam bukunya; “Camera Branding”. Singkat cerita, “Beberapa tahun setelah aku lahir, ayahku bertemu dengan seorang asing yang baru tiba di desa kami. Sejak awal, Ayah terpikat dengan pesonanya dan segera mengajaknya untuk tinggal bersama keluarga kami. Orang asing itu cepat diterima bukan hanya di rumahku, tetapi juga di masyarakat sekitar karena pesonanya. Ia mudah bergaul dan diterima dengan cepat. Saat aku tumbuh dewasa, aku tidak pernah menanyakan posisinya dalam keluargaku.

Dalam pikiran mudaku, Ia memiliki kedudukan yang khusus. Orang tuaku mengajarkan hal yang baik, terutama ayahku mengajarku untuk taat, memiliki rasa hormat dan bertanggung jawab. Orang asing itu pandai berdongeng dan tidak pernah berhenti berbicara dan membuat keluarga kami semakin terpesona. Ayahku tampaknya tidak keberatan dan betah dengan kisah petualangan, misteri dan komedi yang ia ceritakan berjam-jam lamanya. Lama-lama kami merasa ia bagian dari rumah kami, bukan orang asing lagi. Setelah sekian lama ia tinggal di rumah kami. Aku bertanya-tanya, apakah ibu pernah berdoa untuk orang asing itu agar ia pergi.

Ayah memimpin rumah tangga kami dengan keyakinan dan standar moral yang tinggi, tetapi orang asing itu tidak pernah merasa berkewajiban untuk menghormati kami. Kata-katanya kotor, bergaul lawan jenis yang bukan muhrimnya dan seks bebas dibicarakan secara bebas pula, bicara seenaknya, dan orang tuaku tidak mengizinkan keluarga kami mengkonsumsi alkohol dan merokok karena menurut keyakinan keluarga kami dua kebiasaan tersebut adalah tanda kapir nikmat, tetapi orang asing itu mendorong kami setiap hari secara teratur untuk mencobanya. Waktu demi waktu berlalu, ia mulai berani menentang nilai-nilai yang diajarkan orang tuaku. Ketika tamu lama kami itu memaki dan berkata kotor membakar telingaku, dan membuat telinga dan muka ayah dan ibuku memerah. Sekalipun demikian di rumah kami ia masih ditempatkan pada posisi terhormat, ia duduk manis di depan ruang tamu menunggu banyak orang untuk mendengarkan ia bicara dan bertingkah. Akupun mulai tahu bahwa konsep hidup masyarakat kita sekarang ini dipengaruhi oleh orang asing ketimbang dipengaruhi oleh ayah dan ibunya atau yang diajarkan oleh bapak dan ibu guruku. Sekarang pembaca kuberitahu, nama orang asing itu sebagaimana kami memanggilnya “Televisi”. Ia memiliki isteri, kami memanggilnya “Komputer”. Belakangan dia diketahui punya isteri muda, namanya “Laptop”. Anak pertamanya adalah “Cell Phone”, anak keduanya “iPod”. Dan beberapa cucunya baru lahir,: iPad, Android, Twiter, Facebook dan Line”.  

Penulis tidak apriori terhadap kehadiran orang asing di rumah kita, harus diakui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberi manfaat banyak bagi kehidupan umat manusia, tetapi kitapun tidak boleh membantah bahwa kemajuan teknologi tersebut membawa dampak negatif atau merusak kehidupan ini, terutama bagi pengguna yang tidak mampu mengendalikannya..

Membuktikan asumsi di atas, penulis kutip kesimpulan dari beberapa riset, bahwa kehadiran televisi meningkatkan tingkat kekerasan sebesar 160%, sebanyak 80% kekerasan di televisi membawa pengaruh terhadap kekerasan dalam dunia nyata, faktor yang paling dekat hubungannya dengan perilaku kekerasan atau agresif, melebihi faktor kemiskinan, ras atau perilaku kasar orang tua. Ia mendapati anak yang berjam-jam menonton televisi keras cendrung agresif di ruang kelas maupun di tempat bermain, dampak ikutannya di usia dewasa perilakunya menjadi bertambah agresif dan membuat masalah lebih besar, baik dalam rumah tangga maupun di masyarakatnya.

Selain berdampak kekerasan, televisi kurang efektif terhadap pembelajaran. Malcolm Gladwell (2006) dalam bukunya “Tipping Point” mengemukakan bahwa dalam sejumlah eksperimen, anak yang diminta membaca satu bab dari sebuah buku kemudian diuji untuk mengukur pemahaman mereka atas informasi di dalamnya, menghasilkan skor lebih tinggi dibanding anak yang mempelajari informasi serupa melalui sebuah tayangan video.
Amy Chua (2011) dalam bukunya “Battle Hymn of The Tiger Mother” menceritakan cara mendidik anak agar sukses ala China. Satu diantara beberapa hal yang tidak boleh dilakukan adalah menonton televisi atau main game computer.

Nicholas Carr (2011) dalam bukunya “The Shallows” mengutip pernyataan Katherine Hayles, seorang Profesor Duke University yang mengakui bahwa dampak dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ini membuat ia tidak bisa lagi menyuruh mahasiswanya untuk membaca keseluruhan buku”.
Kehakutan atas kehadiran telivisi, membuat Fred Rogers mengatakan “barangkali televisi adalah satu-satunya peralatan elektronik yang lebih bermanfaat justru setelah dimatikan, demikian Milton Chen (1996) dalam bukunya ” The Smart Parent’s Guide in KIDS’ TV”.

Di atas kita seakan-akan menyalahkan hadirnya televisi, namun yang sebenarnya kehadiran televisi sangat tergantung bagaimana kita menggunakannya. Studi di tiga puluh negara dilakukan oleh Warwick Elly terhadap 200.000 pembaca pada anak berprestasi tinggi ternyata mereka juga cukup banyak menonton TV, jauh lebih banyak dari pada waktu yang mereka habiskan untuk membaca ”, dikutip dari Jim Trelease (2008) dalam bukunya “Read Aloud Handbook”.

Dilema tersebut mudah dijawab tanpa menyalahkan siapapun, karena kebermaknaan televise dan produk elektronik lainnya tergantung pada pengguna teknologi itu. Nicholas Carr (2011) mengutip pendapat McLuhan bahwa, “Kita begitu mudah mengambing-hitamkan perangkat teknologi untuk dosa para penggunanya”, artinya produk ilmu dan teknologi tidak dengan sendirinya bagus atau jelek: penggunanyalah yang menentukan nilai mereka.  Studi terhadap 1.680 anak berusia sekolah yang menggunakan komputer, para peneliti menemukan kalau “Penggunaan Tanpa Berlebihan”, maka komputer adalah satu faktor kunci pencapaian akademik anak. Mereka yang menggunakan komputer kurang dari delapan jam seminggu mencapai prestasi lebih tinggi dalam hal pengenalan kata dan huruf, pemahaman bacaan, kalkulasi matematika dari pada anak tidak menggunakan komputer. Sebaliknya, studi internasional terhadap anak berusia 15 tahun di 32 negara bagian di Amerika Serikat menemukan prestasi negatif berhubungan dengan askes komputer secara berlebihan. Para peneliti menemukan semakin banyak komputer ada di rumah, semakin rendah nilai matematika dan membaca. Ketika studi ini pindah kepada penggunaan komputer di ruang kelas, tidak ada dampak negatif asalkan penggunaan komputer sesuai tujuan pendidikan atau komunikasi. Dengan perkataan lain, penggunaan ICT yang terkendalikan sesuai tujuan.
Dibagian lain, Milton Chen (1996) menegaskan agar memperlakukan kehadiran televisi dan sejenisnya sebagaimana kita memperlakukan resep obat  (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)

 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Dimensi Pembelajaran Bermakna

Seleksi Calon Mahasiswa Baru Universitas Tanjungpura 2014

Bangkit Itu Mudah

Kepemimpinan Berbasis Kekuatan

Penerimaan Peserta Program SM-3T Angkatan IV Tahun 2014