Nyalakan Pelita Terangkan Cita-Cita

Opini Ilmiah


Senin, 09 Mei 2016 - 13:22:05 WIB | dibaca: 666 pembaca


Oleh: Aswandi - MEMPERINGATI Hari Pendidikan 2016 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengusung tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita”, sementara Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengangkat tema “Ayo Kerja, Inovatif dan Kompetitif”. Dua tema tersebut saling melengkapi dan saling terkait.

Semua orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang dicita-citakannya. Dan di era perubahan yang semakin cepat,  kompleks, mengglobal dan tidak pasti seperti sekarang ini menyalakan pelita (menyediakan akses) untuk mewujudkan cita-cita tidaklah mudah, apalagi di saat masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan atau persekolahan untuk menatap masa depan putra-putrinya.

Zufelt (2004) dalam bukunya “The DNA of Success” menyatakan bahwa “sukses timbul dari hasrat, keinginan dan cita-cita inti ketimbang dari cara berfikir. Sukses bukan di luar sana melainkan datang dari dalam diri kita masing-masing atau urusan batin.

Di bagian lain, Zufelt mengatakan kesuksesan akibat kita mengetahui mengenai apa yang benar-benar kita inginkan (hasrat inti), mengerahkan kuasa atau kemampuan yang menaklukkan, mendapat bimbingan dalam merealisasi hasrat inti dan focus pada kuasa dan lakukan kuasa yang menaklukkan itu.. 

Mark Twain menyatakan “Saya bisa mengajari siapapun bagaimana cara mencapai kesuksesan dalam kehidupannya. Masalahnya, saya tidak dapat menemukan siapapun yang dapat menyatakan apa yang mereka inginkan atau cita-citakan.

Goldsmith (2016) dalam bukunya “Triggers” menyatakan kebenaran abadi yang harus diperhatikan bagi setiap orang yang mau berubah yakni, “tak ada yang dapat membuat kita berubah kecuali kita sungguh-sungguh ingin berubah. Namun sayangnya, mengapa kita seringkali tidak menjadi diri yang kita inginkan atau tidak sungguh-sungguh meniatkannya”.

Albert Schweitzer mengatakan sukses bukanlah kunci menuju kebahagian, kebahagiaanlah kunci menuju sukses. Jika anda mencintai dan menyenangi pekerjaan, Anda akan sukses”.     

Jujur kepada diri sendiri adalah modal utama mencapai kesuksesan, baik kejujuran terhadap apa yang kita inginkan atau cita-citakan dan jujur terhadap potensi yang kita miliki. Agar cita-cita menjadi terang, kegagalan selama ini karena cita-cita dalam kegelapan.

Pendapat lain, Pantalon (2013) dalam bukunya”Instant Influence” menyatakan hal yang sama bahwa setiap keberhasilan karena didasarkan pada motivasi instrinsik atau motivasi diri yang sangat dalam, sebaliknya setiap orang yang telah kehilangan cita-cita atau keinginan dikategorikan sebagai penderita penyakit jiwa atau depresi mental yang sangat gawat.  

Nyalakan pelita, maksudkan memberi jalan atau akses yang jelas dan pasti untuk mencapai cita-cita seseorang. Bapak Anies Baswedan selaku Mendikbud menegaskan bahwa, “Anak Indonesia harus memperoleh kepastian bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang mereka butuhkan atau perlukan untuk menjawab tantangan jamannya, dan hal ini tidak mudah di era tantangan masa depan yang ditandai penuh ketidakpastian itu. Namun ketrampilan yang diperlukan oleh anak Indonesia di abad ke-21 ini mencakup tiga komponen, yakni; (1) kualitas karakter, baik karakter moral maupun karakter kinerja, seperti; kerja keras, ulet, tangguh, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, adaptif, dan kepemimpinan; (2) kemampuan literasi, selain literasi baca, tulis dan hitung. Juga literasi sain, teknologi, finansial dan budaya; dan (3) kompetensi yang semakin kompleks dan tidak terstruktur sehingga membutuhkan kreatifitas, berfikir dan bersikap kritis, mampu mememecahkan masalah, komunikatif dan kolaboratif.

Faktanya, semua anak adalah jenius, berkesempatan memperoleh pendidikan. Namun terkadang mereka kebanyakan tidak memperoleh akses dan mengalami pembodohan secara struktural dimana ketidakadilan dalam memperoleh pendidikan bermutu untuk semua masih sering saja terjadi.

Tugas kita adalah menyalakan pelita atau memberi akses atau jalan setiap orang agar mereka pendidikan bermutu. Kemedikbud mengajar semua terlibat menyalakan pelita melalui program keterlibatan publik (keluarga, pemerintah dan masyarakat) dalam proses dan penyelenggaraan pendidikan benar-benar dilaksanakan.

Menyalakan pelita juga sedang dilaksanakan di perguruan tinggi untuk meningkatkan indeks inovatif dan kompetitif atau daya saing perguruan tinggi yang sekarang ini masih sangat rendah, Fakta pada tahun 2015 indeks inovatif Indonesia mencapi 4,6 atau peringkat 30 dunia, dengan indeks inovasi pendidikan tinggi sebesar 4,0 atau peringkat ke-60 dunia, diharapkan tahun 2020 nanti indeks inovasi perguruan tinggi mencapai peringkat 56, sementara indeks daya saing dua tahun terakhir ini meningkat dari peringkat ke- 60 menjadi ke-65, dengan indeks sebesar 4,5, artinya lebih banyak negara lain memiliki daya saing yang lebih baik.

Jumlah perguruan tinggi saat ini adalah 4438, mahasiswa lebih dari 7 juta, dan jumlah dosen 300.000 orang adalah modal atau kekayaan yang dimiliki, selanjutnya perguruan tinggi harus menjalin kemitraan dengan pihak luar, seperti industri atas prinsip menjawab masalah bersama saling menguntungkan untuk kemajuan bersama (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Melawan Rasa Takut (2)

Pejabat Dilarang Merokok

Bicara Pemimpin

Catatan Ujian Nasional

Aktor Kekerasan