Negeri “Seolah-Olah”

Opini Ilmiah


Kamis, 17 September 2015 - 08:13:07 WIB | dibaca: 1150 pembaca


Oleh: Aswandi
 
DI awal tahun 1990-an, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama beberapa tokoh masyarakat peduli demokrasi melaunching berdirinya “Forum Demokrasi”. Pada waktu itu beliau menyampaikan pidato, antara lain pesan yang disampaikan “Indonesia Negeri Seolah-Olah”, dicontohkan; seolah-olah ada demokrasi karena ada pemilihan umum (pemilu) sekalipun penyelenggaraan pemilu bergelimang dosa, bertabur fitnah, ada dusta dihampir semua tahapan pemilu, dan ada lembaga legislatif sekalipun kualitas mental anggotanya tidak lebih baik dari siswa Taman-Kanak-Kanak. Seolah-olah banyak orang atau pihak mengaku membela yang benar, padahal yang sesungguhnya adalah mereka membela yang bayar. Penulis tambahkan, Seolah-olah ada pembelajaran atau perkuliahan, ternyata hanya menerapkan sebuah strategi pembelajaran Catat Buku Sampai Abis, bukan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Seolah-olah melaksanakan program kesetaraan gender, ternyata tidak lain adalah gerakan memposisikan suami takut istri atau suami dibawah kuasa istri, dan seterusnya semua seolah-olah. Setelah itu, penulis bersilaturrahmi ke beliau di Kantor Pusat Nahdatul Ulama (NU) di Jakarta menanyakan lebih jauh tentang demokrasi dan beberapa hal penting tentang keagamaan, kenegaraan dan keumatan. Pada pertemuan tersebut beliau mengulang kembali keresahannya yang berhulu pada mentalitas “Seolah-Olah”.

Potret negeri seperti contoh di atas sebelumnya telah digambarkan oleh bapak Mochtar Lubis sebagaimana ia tulis dalam sebuah buku berjudul “Manusia Indonesia”. Pada buku tersebut disebutkan beberapa karakteristik manusia di negeri ini, pertama adalah hipokrit atau munafik, cirinya antara lain; jika berkata, ia dusta atau bohong, jika berjanji, ia mungkir atau tidak menepatinya dan jika diserahi amanah, ia berkhianat.

Jauh sebelumnya, semua agama telah mengajarkan umatnya tentang larangan “Seolah-Olah atau Berbohong”. Nabi Saw bersabda, “Malaikat menjauhi sekitar satu mil para pembohong karena bau busuk perbuatannya”. Berbohong adalah akar atau pangkal semua kejahatan, kehinaan dan pembohong tempatnya di neraka. HR. Ahmad, bahwa, “Banyaknya pembohong, pertanda datangnya kiamat kecil”, Sekalipun semua agama melarang berbohong, namun masih saja kita temui banyak orang senang berbohong, munafik, mentalitas seolah-olah, senang menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya, dan mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan (Al-Baqarah:42), bahkan berbohong dijadikan strategi mencapai kemenangan, seperti kemenangan dalam pemilu dan pilkada.  Mahatma Gandhi menegaskan bahwa kebenaran itu adalah sebuah pilihan bukan bersifat situasional, benar di satu tempat dan di suatu saat, benar pula di tempat dan di saat lainnya. Ia tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan. 

Dalam momentum membangun kembali atau merevolusi mental bangsa ini, penulis usulkan untuk memulainya cukup dengan menanamkan 1 (satu) nilai kepribadian saja, yakni “Jujur” kepada semua manusia Indonesia. Penelitian perubahan perilaku membuktikan bahwa perubahan perilaku harus dimulai dari hal-hal yang kecil atau sedikit demi sedikit, namun harus dilakukan secara konsisten, dampaknya mempengaruhi banyak perubahan perilaku lainnya. Jika perlu perubahan perilaku tersebut dilakukan melalui sebuah gerakan nasional guna menghasilkan kesadaran kolektif semua masyarakat Indonesia, KPK telah memulainya dengan sebuah slogan “Berani Jujur, Hebat”, penerimaan siswa dan mahasiswa baru secara jujur, penerimaan pegawai, baik sipil, militer maupun swasta secara jujur, pilkada serentak yang akan dilaksanakan 9 Desember 2015 nanti berlangsung secara jujur, lelang jabatan di pemerintahan dilakukan secara jujur sebagaimana telah dimulai oleh bapak Hildi Hamid selaku bupati Kabupaten Kayong Utara, harus dicontoh oleh Pembina Kepegawaian lainnya di negeri ini, baik Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota, dan sebagainya.
Adapun alasan kepribadian atau karakter “Jujur” (menyatakan kebenaran, baik melalui pikiran dan niat, ucapan dan tindakan sesuai fakta tanpa menambah dan menguranginya), karena dari banyak penelitian terbukti bahwa kejujuran itu adalah tempat berseminya segala bentuk kemuliaan dan prediktor utama (hulu) dari semua kesuksesan, apapun profesinya.

James M. Kouzer dan Barry Z. Posner (1997) dalam bukunya “Credibility” setelah melakukan penelitian mendalam terhadap para pemimpin sejati di hampir semua profesi, disimpulkan bahwa terdapat 4 (empat) faktor utama kepemimpinan efektif. Faktor pertama adalah jujur, sedangkan tiga faktor lainnya; visioner, inspiratif dan cakap.

Thomas J. Stanley (2003) dalam bukunya “The Millionaire Mind” menyimpulkan penelitiannya bahwa terdapat 5 (lima) faktor utama kesuksesan ekonomi. Faktor pertama adalah sikap jujur terhadap orang lain, sementara 4 (empat) faktor lainnya; disiplin (kendali atau kontrol pada diri sendiri), ketrampilan sosial (dapat bergaul dengan masyarakat), pasangan yang mendukung, dan kerja keras melebihi orang kebanyakan.

Tidak mesti kejujuran, boleh karakter lainnya, seperti; mutu, ikhlas dan bersungguh-sungguh (rigor), yang penting dilakukan secara konsisten. Thomas Lickona seorang pakar perubahan perilaku atau karakter menyarankan memulainya dari membiasakan dua karakter, yakni; bertanggungjawab dan memiliki rasa hormat kepada semua orang, terutama rasa hormat kepada mereka yang usianya lebih tua  (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Proses Menjadi Seorang Pemimpin

Menjadi Seorang Bupati

Malu pada Semut

Kemerdekaan dan Pendidikan

Ayo Kerja