Mutu atau Mati

Opini Ilmiah


Senin, 15 Juni 2015 - 09:14:43 WIB | dibaca: 831 pembaca


Oleh: Aswandi
 
MUTU adalah jalur pasti dan cepat menuju keberhasilan atau kesuksesan. Namun tetap membutuhkan kesabaran dan pengekangan aktif dalam proses mewujudkannya. Dan sebaliknya, pikiran, sikap dan perilaku tak bermutu adalah jalur pasti dan cepat menunju kematian, seperti perilaku suka berdalih, menunda pekerjaan dan bekerja tanpa prioritas. Carson dan Palmer, sedikit contoh dimana anak dari keluarga miskin di Detroit Amerika, hidup di pemukiman kumuh dikelilingi tumpukan barang bekas. Dalam kondisi tak berdaya secara ekonomi, orang tua mereka dengan bersusah payah menyekolahkannya di sekolah bermutu di negerinya. Berkat kesabaran dan pengekangan aktif tersebut berbuah dengan baik dimana anak-anak mereka menjadi doktor di bidang medis dalam usia muda, sebuah prestasi akademik yang belum pernah dicapai oleh para pemuda di negerinya.

Sejarah membuktikan, sesuatu yang kuat pada zamannya, belum tentu kuat untuk selamanya, demikian sebaliknya, sesuatu yang lemah, belum tentu selamanya lemah. Dinosaurus, jenis makhluk hidup dikenal sangat kuat dan perkasa, hanya karena perubahan iklim, binatang yang menjadi simbol kekuatan itu punah/mati, sementara kecoa, jenis serangga kecil tetap hidup hingga saat ini. Di dunia usaha, tidak sedikit perusahaan besar jatuh bangkrut,  sebuah negara yang dulunya berjaya mengalami nasib yang sama, di lembaga pemerintah juga demikian. Sebuah perguruan tinggi yang awalnya dikenal dengan sebutan Universitas Murah Meriah (UMM) dimana setiap tahunnya bersusah-payah memperoleh mahasiswa sekalipun telah menerangkap manajemen angkot, yakni menerima mahasiswa baru bergelombang-gelombang, pada saat ini universitas tersebut telah berubah menjadi Universitas Makin Mahal (UMM) dan harus melakukan seleksi ketat karena kebanjiran peminat.  
 
Bukti lain, mutu bersifat universal dan menembus batas primordialisme, baik ras, agama dan suku, dimana terbukti semua orang yang ingin tetap hidup pasti berorientasi pada mutu tinggi, dan sebaliknya. Fakta membuktikan, tenaga kerja asing di Timur Tengah mendapat perlakuan dan insentif atau penghasilan yang berbeda sesuai mutu, profesionalisme dan keahliannya, misalnya tenaga kerja asal Filipina (katolik) mendapat tempat lebih layak dari pada tenaga kerja Indonesia (muslim), demikian pula tenaga kerja kita di negara tetangga. Ini membuktikan bahwa batas primordialisme keagamaan dan kesukuan diabaikan, mereka lebih mengedepankan mutu tenaga kerja. Penulis yakin di masa-masa yang akan datang, mutu menjadi pertimbangan utama dalam pergaulan dan kerjasama di era global ini,  hampir setiap hari diberitakan bidang pekerjaan mempersyaratkan sertifikasi mutu berskala internasional.    

Di dunia pendidikan juga demikian, orientasi masyarakat memilih lembaga pendidikan bagi putra-putrinya mengalami perubahan, yang dulunya berorientasi pada primordialisme dan afiliasi keagamaan berubah ke orientasi mutu yang menjanjikan masa depan. Saat ini tidak aneh lagi, peserta didik memilih lembaga pendidikan swasta yang diselenggarakan oleh sebuah ormas keagamaan, baik itu sekolah maupun perguruan tinggi berbeda dengan agama dan afiliasi keagamaan yang dianut oleh peserta didiknya. Peserta didik Muslim misalnya, sekolah atau kuliah di lembaga pendidikan Katolik, demikian pula peserta didik beragama Katolik, Protestan, Hindu dan Budha melanjutkan studinya di lembaga pendidikan Islam yang bermutu.
Dari berbagai fenomena tersebut di atas, membuktikan bahwa eksistensi manusia adalah “Mutu”  dimana mutu menjadi orientasi dalam menjalankan roda kehidupannya. Jika tidak berorientasi pada mutu, lambat atau cepat akan mati dengan sendirinya, tidak harus menunggu pihak/orang lain yang menyebabkan kematiannya.

Pakar mutu (quality) menyatakan bahwa mutu memiliki banyak pengertian dan dari waktu ke waktu pengertian tersebut mengalami evolusi. Hal ini menandai bahwa konsep mutu itu tidak stagnan, melainkan berkembang menurut zamannya.
Pendapat lain tentang mutu, Tenner dan DeToro (1995) dalam bukunya “Total Quality Management” menggambarkan mutu adalah sesuatu yang baik, excellence, first rate, the best, meeting the needs of customers dalam  bicara atas 3 (tiga) prinsip; (1) customer focus;(2) process improvement; dan (3) total involvemen.

Murgatroyd dan Morgan (1993) dalam bukunya “Total Quality Management and The School” menambahkan terdapat 3 (tiga) definisi tentang mutu, yakni; (1) quality assurance (determination of standard); (2) contract conformance (special commitmen); and (3) customer driven quality.

Jadi, Mutu adalah sebuah visi yang selalu berubah yang menjadi sumber kehidupan, memerlukan pembaharuan atau inovasi secara terus menerus melalui proses belajar.

Jauh sebelumnya, Charles Darwin mengingatkan bahwa keberlangsungan hidup manusia dari kematiannya tidak ditentukan karena kekuatan yang dimilikinya, melainkan karena kemampuannya beradaptasi terhadaap perubahan yang terjadi sebagai dampak dari proses belajar yang dialaminya. Proses pembelajaran yang terbaik dan paling murah adalah belajar dari kesalahan diri sendiri. Namun sayangnya masih banyak manusia yang tidak mau belajar dari dirinya. Penelitian terbesar pernah dilakukan di Amerika Serikat terhadap para residivis, hasilnya cukup mengejutkan; 30% para residivis ditahan kembali enam bulan kemudian, dan 67,5% lainnya ditahan kembali tiga tahun kemudian”, dikutip dari Deutschman (2008) dalambukunya “Change or Die”.

Berdasarkan uraian di atas, penulis sampaikan pentingnya membangun kesadaran akan mutu bagi semua demi kelangsungan hidupnya melalui proses pembelajaran efektif. Pertama yang dapat dilakukan adalah pemetaan mutu, semua harus menyadari bahwa peta atau potret mutu yang objektif dan transparan itu penting dan semua harus proaktif untuk mendapatkan dan memahaminya, bukan sebaliknya. Penulis menemukan masih banyak pihak; pemerintah, sekolah/madrasah dan masyarakat kurang peduli terhadap mutu, takut terhadap penilaian mutu, tidak jarang diantara mereka berpandangan bahwa mutu itu dapat dikompromikan, dan mereka lupa, bahwa mutu itu berasal dari dalam ke luar, artinya jika anda mengharapkan atau menuntut orang atau pihak lain bermutu, maka diri anda sendiri harus terlebih dahulu bermutu.

Sebagaimana uraian di atas, mutu di bidang pendidikan ditentukan oleh pembelajaran efektif, dan pembelajaran efektif dipengaruhi oleh beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan atau layanan pendidikan, yakni: (1) ketersediaan dan dukungan pengembangan dan pelatihan profesional pendidik; (2) mekanisme dan proses akuntabilitas, mencakup tata kelola; (3) kurikulum dan kontrol atau penilaian mutu pembelajaran, dan umpan balik pembelajaran; (4) sarana dan prasarana fisik sekolah; (5) kepemimpinan sekolah, organisasi dan budaya sekolah; (6) penjaminan dan sistem dukungan mutu, terutama penjaminan mutu internal; (7) kemitraan orang tua, sekolah dan masyarakat; dan (8) kehadiran dan motivasi peserta didik.

Pendapat lain, terkait prediktor pendidikan bermutu adalah sekolah efektif sebagaimana ditegaskan oleh Peter Martimor (2001) dalam bukunya “Improving School Effectiveness”, yakni sekolah yang memenuhi 11 (sebelas) karakteristik berikut ini; (1) professional leadership; (2) shared vision and goals; (3) learning environment; (4) concentration on teaching and leaning; (5) purposeful teaching; (6) high expectation; (7) positive reinforcement; (8) monitoring progress; (9) pupil right and responsibilities; (10) home-school partnership; dan (11) learning organization (Penulis, Dosen FKIP Untan).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Plagiat di Perguruan Tinggi

Meningkatkan Hasil UN

Lelang Jabatan

Tanjungpura Nama Kampusku

Sekolah sebagai Taman