Muhammad Pemimpin Umat

Opini Ilmiah


Selasa, 08 April 2014 - 10:56:46 WIB | dibaca: 1383 pembaca



Gambar: Kepemimpinan dalam Organisasi

Oleh: Aswandi

KATA “Umat” berakar dari kata yang berarti “tumpuan”, sesuatu yang dituju dan tekad.Dari kata yang sama dibentuk kata “Umm” yang berarti “Ibu” yang merupakan tumpuan seorang anak. Ali Syaria’ati menguraikan tiga pesan pokok dari kata umat, yakni; pergerakan, tujuan, dan ketetapan atas dasar kesadaran penuh. Manusia sebagai umat harus dihimpun dan diorganisir dalam berbagai bentuk melalui kepemimpinan efektif dan keteladanan. Muhammad Saw adalah seorang nabi sekaligus Rasullullah Saw yang diutus oleh Allah Swt lahir ke muka bumi ini memberi rakhmat semesta alam  sebagaimana Allah Swt berfirman, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi  alam semesta” (QS. Al-Anbiya; 107). Sejalan hal tersebut di atas, Imam Malik meriwayatkan, sabda Rasulullah Saw, “Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia”.  

Besok, tepatnya Selasa, 14 Januari 2014 bertepatan 12 Rabiul Awal 1435H seluruh umat manusia di seantero dunia ini memperingati hari kelahirnya,
Dalam pandangan agama, masyarakat dinamai umat sedangkan pemimpinnya adalah iman. Jadi kedua kata tersebut (iman dan umat) terambil dari akar kata yang sama yang berarti “sesuatu yang dituju”. Kesamaan dua akar kata tersebut mengisyaratkan bahwa imam adalah wakil (mandataris) masyarakat,
Michael H. Hart (2009) dalam bukunya “100 A Ranking of The Most Influential Person in History” menempatkan Muhammad Saw pada posisi pertama (teratas) atau Rasullullah Saw adalah orang yang paling berpengaruh atau satu-satunya orang dalam sejarah yang sangat berhasil, baik dalam hal keagamaan maupun sekuler di dunia sepanjang sejarah. Dari asal usulnya yang sangat sederhana dan bersahaja, Muhammad Saw menerima dan mengembangkan agama besar dunia serta menjadi seorang pemimpin politik yang sangat kuat dan terpercaya bagi umat manusia. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, beliau telah berhasil meletakkan dasar bagi dunia yang beradab dan bermartabat.

Saat ini, pasca wafatnya rasulullah Saw, pengaruh beliau semakin kuat dan merasuk. Semakin banyak umat mempelajari riwayat dan perjalanan hidupnya. seperti Mereka datang menemui Umar bin Khattab, kemudian menemui Bilal, dan selanjutnya menemui Ali ra, maka sebanyak itu pula umat manusia bertambah mengagumi, merindukan dan mengikutinya kecuali bagi mereka yang belum memperoleh hidayah dariNya..

Empat sifat utama nabi Muhammad Saw yang membuatnya diterima oleh umat, yakni; (1) shiddiq atau jujur sebagaimana diakui oleh musuh dan sahabatnya serta diakui oleh sejarah, (2) amanah atau konsisten antara pikiran, perkataan dan tindakannya membuat beliau dapat dipercaya, kepercayaan tersebut digelar al-amin, (3) tabligh atau menyampaikan dakwah dengan baik, dan (4) fathonah atau akal cerdas menjadi modal utama dalam menjalankan fungsi kekhalifahnya di muka bumi ini, dikutip dari Said Hawwa (2008) dalam bukunya “Ar-Rasul Shallallahu `Alaihi wa Sallam”.

Kemudian satu persatu-satu ilmuan dunia membenarkan ajarannya yang dikemas dalam berbagai versi, seperti Aristoteles dengan tesisnya yang sangat populer, “Sampaikan keberaan yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh tanggung jawab;
Selaku pemimpin umat. John Alair (2010) dalam bukunya “Kepemimpinan Muhammad Saw mengemukakan pelajaran penting dari kepemim[inan Rasulullah Saw adalah “pemimpin layak dihormati, dimana rakyat  bersedia bekerja untuknya. Sebuah keyakinan, kebajikan pemimpin layak dikagumi, wewenang pemimpin dapat ditegakkan”.
Pakar kepemimpinan lainnya, seperti James M. Kouzes dan Barry Z. Posner (1997) dalam bukunya “Credibility” mengatakan hal yang sama bahwa sumber kepercayaanseorang pemimpin, meliputi; (1) kejujuran; (b) visioner; (c) inspiratif; dan (d) cakap,

Jadi empat kepribadian Rasulullah Saw dan ditambahkan dengan pendapat para ahli kepemimpinan menjadi dasar dalam menjalankan risalah, antara lain perannya sebagai pemimpin negara, politikus, dan panglima. Setidaknya terdapat 9 (Sembilan) aspek penting bagi pemimpin umat yang dimiliki oleh Muhammad Saw yang tidak dimiliki oleh pemimpin manapun di dunia ini hingga saat ini; (1) menguasai dengan baik apa yang dikampanyekannya, baik secara teoretis maupun praktis, dan yakin akan kebenaran dan kemenangannya; (2) mampu terus menerus berdakwah (bertabliqh atau berkampanye) dengan cara yang baik dan memuaskan. (3) mampu mendidik, mengatur dan mengarahkan pengikutnya; (4) mendapat kepercayaan penuh dari pengikutnya; (5) mengetahui dan mampu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya potensi yang dimiliki oleh para pengikunyat, baik yang terkait dengan potensi fisik maupun intelektual; (6) mampu memecahkan (problem solver) berbagai macam problem dengan energy sehemat (efesien) mungkin; (7) memiliki pandangan jauh ke depan (visioner)  dan mampu membaca realitas yang membawa pengaruh pada gerakan politiknya secara terkendali; (8) mampu meraih dan memanfaatkan kemenangan, dan menerapkan dengan benar prinsip-prinsip seruannya, dan (9) mampu membangun negara dan menetapkan di dalamnya aturan yang berpotensi membawa negara tersebut semakin berkembang dan maju.  

Mencermati empat sifat atau kepribadian Rasulullah Saw, implementasinya dalam kepemimpinan tidak untuk membuat kepemimpinan bersifat individual atau berorinetasi pada dirinya sendiri, melainkan kepemimpinan yang memperkuat sistem kelembagaan keumatan. Hal ini dipelajari secara mendalam oleh Ian Bremmer (2013) sebagai terdapat dalam bukunya “The J Curve” mengemukakan dua variabel penting menjelaskan mengapa suatu negara bangkit dan berjaya, sementara bangsa lain gagal dan jatuh. Sebuah negara yang sangat stabil kokoh berkat kematangan lembaga-lembaga negaranya, dan demikian sebaliknya. Kematangan lembaga negara karena keterbukaan dan demokrasi yang berjalan efektif. Oleh karena itu kehadiran seorang pemimpin harus memperkuat semua sistem dan sub-sistem kenegaraan, bukan semata memperkuat posisi kepemimpinan seseorang di suatu negara atau organisasi sebagaimana sering terjadi saat ini.

Jalaluddin Rakhmat (2009) dalam bukunya “The Road to Muhammad” mengemukakan setidaknya kita belajar kepemimpinan dari akhlak Rasulullah Saw dalam dua hal, yakni; (1) lemah lembut terhadap umat atau kaumnya, dan (2) bermusyawarah dalam mengambil keputusan.

Muhammad Syafii Antonio (2007) dalam bukunya “Muhammad Saw; The Super Leader Super Manager” mengatakan bahwa kita dapat belajar kepemimpinan dan manajemen dari teladan terbaik Muhammad Saw dalam berbagai dimensi, diantaranya; pengembangan diri, militer, hukum, pendidikan, sosial politiuk, dakwah, keluarga dan bisnis.
Mengakhiri opini ini, izinkan penulis mengutip sebuah syair Imam Syafi’I; “Aku mencintai orang saleh meskipun aku bukan golongan mereka. Aku hanya  mengharapkan syafaat Allah Swt dengan mencintai mereka. Aku membenci orang yang gemar berbuat dosa, meskipun aku dan mereka sama saja” (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

2014 Tahun Kepemimpinan

Sosok Utuh Guru Professional

Mendidik dengan Cinta

Edaran Dirjen Dikti no.177/2014 tentang Usulan Kenaikan Pangkat/Jabatan Dosen

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES 2014)