Miskin, Kaya dan Memberi

Opini Ilmiah


Jumat, 06 Juni 2014 - 10:10:27 WIB | dibaca: 1214 pembaca



Oleh: Aswandi

TIGA kata pada judul opini di atas memiliki hubungan simbiotik mutualistik, dan  tidak bisa dipahami dari hasil analisis jalur karena tiga konsep ini tidak berada pada jalur linear. Membantah atau menolak asumsi, hipotesis atau keyakinan selama ini bahwa hubungan tiga konsep tersebut di atas bersifat kausalitas.

Ada pendapat, jika nanti sudah kaya baru bisa memberi, selagi miskin tak mungkin dapat memberi. Pendapat tersebut perlu dikoreksi. Pemberian, tidak selalu berupa materi, banyak bentuk lain, selain materi, seperti ilmu dan ketrampilan. Mentalitas memberi adalah sebuah kebiasaan. Mereka yang miskin dan pelit lagi, dapat dipastikan setelah kaya tetap saya pelit, kikir dan rakus. Sebaliknya, sekalipun miskin namun dermawan atau suka memberi, nanti setelah kaya, tetap memberi atau pemurah.   

Sebuah fenomena hari ini, para koruptor bukanlah orang miskin, mereka adalah orang kaya, kebutuhan hidupnya secara material sudah sangat cukup, bergelimang harta, bahkan cukup untuk sekian generasi keturunannya, dan sangat mengerti korupsi itu dosa, tetapi masih saja mencuri uang rakyat. Mereka yang tergolong kaya raya ternyata tidak sedikit yang pelit, rakus, tamak, dan senang menimbun kekayaan yang nanti boleh jadi kekayaannya itu akan menjadi bahan bakar untuk membakar dirinya di akhirat nanti.

Fenomena sebaliknya adalah tidak sedikit pula orang sukses di berbagai profesi yang membuatnya tercatat sebagai orang kaya di dunia sekarang ini, tidak terkecuali di Indonesia, ternyata mereka berasal dari awalnya adalah orang miskin yang memiliki; (1) virus mental “The Need of Diving” atau “Keinginan Memberi”; (2) memperoleh akses pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas, baik pada pendidikan informal, formal dan nonformal; (3) setelah mereka berhasil, sukses dan kaya, mereka membagi kekayaannya untuk orang lain, terutama untuk pengembagan sumber daya manusia. Beberapa contoh berikut ini.

Bruce Lee, sejak kecil dari keluarga miskin, memiliki cita-cita yang sangat mulia, yakni ingin memberi, tetapi tidak tahu caranya, bagaimana dalam kemiskinan ini bisa memberi. Singkat cerita, ia bekerja di sebuah rumah makan di Taxas. Uang yang diperolehnya dari mencuci piring di rumah makan tersebut digunakan untuk mengikuti pendidikan bela diri di sebuah pusat pelatihan. Prestasinya menonjok, akhirnya mengikuti banyak pertandingan dan menjuarainya, akhirnya menjadi orang Asia pertama di Hollyword. Dari kejuaran demi kejuaran dan menjadi bintang film laga, ia memperoleh uang yang kemudian digunakannya untuk mewujudkan apa yang telah menjadi keinginannya sejak kecil, yakni ingin memberi.

Andre Agasi, anak kecil yang memiliki nasib yang sama, yakni berasal dari keluarga miskin, tetapi memiliki cita-cita besar dan mulia, yakni ingin memberi. Guna mewujudkan keinginannya, ia pun rajin datang ke lapangan tenis dan bekerja sebagai pemungut bola. Setiap hari pekerjaan sebagai ball boy dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan sesekali mendapat kesempatan bermain tenis. Singkat cerita, Andre Agasi menjadi pemain tenis dan menjuarai berbagai pentandingan, baik lokal, nasional, bahkan juara dunia. Dari prestasi itu, iapun menjadi orang kaya. Setelah menjadi orang kaya, ia pun memenuhi keinginannya memberi atau membagi sebagian kekayaannya buat orang miskin. Ia dirikan sebuah sekolah persiapan masuk perguruan tinggi dengan tujuan mengubah kehidupan anak-anak yang telah menjadi keinginannya sejak kecil.  

Greoge Foremen, seorang petinju yang berasal dari keluarga broken home, dalam setiap kali pertarungan, ia memiliki motivasi membunuh lawannya. Motivasi tersebut membuat setiap kemenangannya kurang mendapat apresiasi penontonnya. Setelah kalah dari Muhammad Ali, ia membenci olah raga tinju dan menggantung sabuknya selama 10 tahun. Kemudian setelah itu, datang seorang ibu meminta bantuan kepadanya untuk melatih putranya yang nakal dan suka berkelahi agar diajari bertinju sebelum putranya masuk penjara. Sebelum sempat ia melatih tinju anak nakal tersebut, terdengar khabar bahwa anak yang dimaksud masuk penjara karena melakukan tindak kekerasan. Foremen  kembali menekuni dunianya sebagai seorang petinju bukan karena ingin kembali menjadi juara, melainkan ingin memberikan keterampilannya dalam olah raga tinju ini, terutama bagi anak nakal yang ingin menjadi petinju. Sejak itu George Foremen adalah salah seorang petinjuk yang sangat dihormati dan disegani.       

Bill Gates, sekalipun berasal dari keluarga kaya, namun tidak satu sen pun ia mengawali usaha bisnisnya dari kekayaan orang tuanya. Setelah berhasil dalam bisnisnya dan tercatat sebagai orang kaya. Bill Gates adalah orang kaya terbesar yang menyerahkan sebagian (98%) dari kekayaannya untuk pemberdayaan umat manusia, tertinggal 2%  kekayaannya untuk membiayai kehidupannya.

Warren Fuffet memberikan hampir semua hartanya, ia berkata; “yang saya berikan itu tidak ada artinya bagi saya, tetapi sangat berarti bagi orang lain. Semua kebutuhan saya dapat saya penuhi dengan kurang dari 1% kekayaan saya”,  

Lebih dari 75 tahun, Oseola McCarty mencari sesuap nasi dengan mencuci dan menyeterika pakaian orang lain. Saat berusia 87 tahun perempuan tua ini terjatuh, mengakibatkan tulang persendiannya terganggu dan iapun berhenti bekerja sebagai tukang cuci dan setrika. Setelah tidak bekerja lagi, ia ambil 60% tabungannya untuk diberikan sebagai beasiswa bagi keluarga miskin, selebihnya (40%) ia bagikan kepada gereja dan kerabatnya, tidak untuk dinikmatinya sendiri.
Fenomena yang sama, ada di negeri ini. dimana awalnya miskin, kemudian menjadi kaya dan tidak lupa asal usulnya, yakni membagi kekayaannya untuk orang miskin dan daum dhua’fa, diantaranya; Ciputra, dikenal dengan berbagai bisnisnya dan menyelenggarakan pendidikan di berbagai jenjang melalui Yayasan Pelita Harapan. Chairul Tanjung, adalah sosok lainnya, yang dulu untuk membayar uang kuliahnya sebesar Rp. 74 ribu, ibunya rela menggadaikan sehelai kain halus kesayangannya, Sekarang beliau mendirikan sekolah unggul di tempat kelahiran orang tuanya.

Burhan Urai, masa kecil, mau makan setiap harinya harus berjuang keras dan lebih sering tidak makan. Setelah kaya ia bagi kekayaannya untuk orang miskin. Tahun 2012 lalu, ia mengirim dan membiayai 5.000 guru Indonesia belajar bahasa Mandarin ke Cina.

Kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah dan masyarakat yang dari tahun ke tahun memberi dan menambah jumlah penerima beasiswa bagi keluarga kurang mampu secara ekonomi, semoga mereka nanti menjadi agen perubahan menuju Indonesia yang lebih maju, beradab dan bermartabat.

Mengakhiri opini ini, penulis kutip penyataan Martin Luther King bahwa, “Setiap orang bisa menjadi hebat karena setiap orang bisa melayani”. Oleh karena itu, Jangan tunda untuk memberi. Jangan menunggu kaya, sudah sangat banyak nikmat yang telah Allah Swt berikan kepada kita hingga sekarang ini, baik pikiran, kesehatan, kesempatan dan sebagainya. Berikan apa yang masih kita miliki; harta, pikiran, pengetahuan dan ketrampilan, pengampuan dan memaafkan (Penulis, Dosen FKIP Untan, Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Masalah Kontemporer Pendidikan

Publikasi Ilmiah Guru

Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan

Penerimaan Mahasiswa PRODI BARU: Program MAGISTER PENDIDIKAN SOSIOLOGI FKIP Untan

Membangun Budaya Gemar Membaca