Miskin Dahulu Sukses Kemudian

Opini Ilmiah


Jumat, 27 Juni 2014 - 11:21:00 WIB | dibaca: 1372 pembaca



The monuments of france - Arc De Triomphe

Oleh: Aswandi

TIDAK  benar, jika ada pihak yang mengatakan bahwa orang miskin tidak boleh sekolah atau dilarang pintar dan sukses.
Penulis amati dan baca dari banyak buku, ternyata sekarang ini banyak orang sukses, baik di luar maupun di dalam negeri ini berasal dari keluarga miskin, dan sukses yang mereka capai melebihi sukses yang telah dicapai orang lain sebelumnya.

Dimasa kecilnya hidup miskin, kemudian setelah dewasa mencapai kesuksesan luar biasa, diantaranya; (1) Dr. Paul Parmer, karena kemiskinan dimasa kecilnya, ia tinggal bersama keluarganya dalam bus bekas di lahan parkir yang sebelumnya bus tersebut adalah barang ronsokan yang tidak bertuan dan ditumbuhi rumput. Meskipun kehidupan seperti itu tidak menghilangkan harapannya menatap masa depan yang lebih baik. Orang tuanya memilih sekolah terbaik atau bermutu bagi anak-anaknya dan bekerja keras untuk membiayai pendidikan mereka, karena ia menyadari bahwa pendidikan berkualitas itu mahal dan tidak gratis. Ia berikrar atau berjanji untuk membaktikan seluruh hidupnya guna memberikan pelayanan medis yang bermutu tinggi bagi kaum miskin. Dijalaninya proses pendidikan dan pembelajaran dengan efektif, akhirnya di usia 25 tahun ia berhasil atau sukses menyelesaikan studinya dan memperoleh gelar doktor dengan pujian. Kemudian ia mendirikan klinik pelayanan kesehatan umum yang inovatif di Haiti dan Rwanda dan gratis berobat bagi orang miskin; (2) Carson memiliki kisah yang sama. Keluarga miskin berdarah negro terdiri dari seorang ibu yang sudah ditinggal suami bernama Sonya dengan dua orang anak bernama Curtis Carson dan Benjamin (Ben) Carson. Mereka tinggal di daerah kumuh Detroit Amerika Serikat. Meskipun berasal dari keluarga miskin, tetapi kedua anaknya bersekolah di sebuah lembaga pendidikan bermutu atau berkualitas yang sebagian besar siswanya berkulit putih. Tidak jarang mereka bersaudara mendapat perlakuan tidak menyenangkan; dihina, dimaki dan perilaku kekerasan lainnya. Ibunya Sonya seorang janda pekerja keras dalam profesi sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di lima rumah setiap harinya. Profesi PRT membuatnya pergi meninggalkan rumah ke tempat ia bekerja sebelum anaknya bangun tidur dan tiba ke rumah larut malam setelah semua anaknya telah tertidur. Sekalipun mereka berstatus keluarga miskin yang semestinya mendapat santunan kesejahteraan sosial dari pemerintah yang jumlahnya cukup untuk hidup, tetapi ibunya Sonya menolak santunan pemerintah tersebut dengan alasan ia harus memberikan pelajaran kepada kedua putranya bahwa sukses itu hanya diraih dengan kerja keras. Pesan moral yang selalu diingat oleh ibunya adalah tidak ada juara yang setengah hati, melainkan mereka yang bekerja keras. Bukankah semakin keras kita bekerja, semakin sulit kita menyerah, dan tak seorangpun yang memberikan kemampuan terbaiknya pernah menyesali hidupnya. Singkat cerita, di usia 27 tahun, Ben Carson, putra bungsunya berhasil menyelesaikan studi doktornya dengan pujian; (3) Di negeri ini, kita mengenal Ir. Ciputra,  Dahlan Iskan, dan terakhir Chairul Tanjung. Mereka tercatat sebagai orang sukses yang berasal dari keluarga miskin, misalnya Chairul Tanjung, di usianya yang masih sangat muda telah tercatat sebagai orang kaya di Indonesia. Si Anak Singkong yang sekarang telah menjadi pengusaha sukses di negeri ini mempunyai kisah hidup yang dapat menjadi pembelajaran bermakna bagi generasi muda saat ini. Meskipun miskin, beliau memilih sekolah dan perguruan tinggi terbaik, yakni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan pilihan tersebut karena biayanya murah, yakni Rp. 75.000 (tujuh puluh lima ribu rupiah) untuk membayar biaya pendaftar kuliah tahun pertama , ibunya harus bekerja keras dan menggadaikan satu-satunya kain yang dimilikinya. Setelah Chairul Tanjung mengetahui kerja keras dan pengorbanan ibunya, iapun berjanji pada dirinya tidak mau lagi meminta uang kepada ibunya dan bekerja apa saja selama tidak mengganggu kuliahnya. (4) Kisah yang sama, ketika mengunjungi Manokwari, Profesor Yohanes Surya melihat ada anak tidak sekolah, diketahui karena faktor kemiskinan menyebabkan anak tersebut tidak sekolah. Beliau bertanya kepada anak tersebut, “apakah mau sekolah”?, dijawab “Mau Sekolah”. Profesor kembali bertanya, “Apakah mau menjadi anak asuhku dan tinggal bersamaku di Jakarta”?, kembali dijawab “Mau”. Anak miskin dari kepulawan paling timur tersebut berangkat ke Jakarta dan disekolahkan di lembaga pendidikan bermutu. Pada tahun pertama, prestasi anak tersebut di bawah siswa lain, tahun ke dua prestasinya hampir menyamai siswa di kelasnya, dan tahun berikutnya anak yang tidak pernah diperhitungkan di desanya ternyata mampu mencapai prestasi akademik melebih siswa lainnya. Khabar terakhir ia sedang menyelesaikan studi doktornya di luar negeri.

Peristiwa yang dialami si miskin yang sukses tersebut di atas mengingatkan penulis pada pesan Scott Peck (1997) dalam bukunya ”The Roadless Traveled” mengatakan; ”Kehidupan itu sulit adalah sebuah kebenaran yang paling hebat. Bila kita memahaminya, kita makin mengenalnya, dan setelah itu kita menerimanya, maka kehidupan kita tidak sulit lagi”.

Dalam kehidupan ini banyak pintu menuju sukses, kalau satu pintu tertutup, lainnya terbuka, tetapi kita sering memandang terlalu lama dan terlalu penuh penyesalan kepada pintu yang tertutup itu, sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita, demikian pesan optimisme Alexander Graham Bell.

Dan sukses selalu ditemukan pada akhir jalan panjang yang bertaburan dengan sampah dan banyak kegagalan kita, demikian Walter Staples. Dan setiap keberhasilan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari usaha keras dengan penuh kesungguhan dan memulainya secara benar, yakni melalui pintu pendidikan bermutu, bukan sebaliknya.

Anak Indonesia dimanapun ia berada dan dalam status social ekonomi apapun, harus memperoleh pelayanan pendidikan bermutu (quality education for All) dan pemerintah/pemerintah daerah berkewajiban menyelenggarakan pendidikan bermutu di semua jenis dan jenjang pendidikan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2010 mengamanahkan kepada satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan tinggi wajib mengalokasikan tempat bagi calon peserta didik berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi paling sedikit 20% dari jumlah keseluruhan peserta didik baru dalam berbagai bentuk beasiswa ramah social, seperti bidik misi.

Memberikan pelayanan pendidikan bermutu kepada semua warga negara harus menjadi sebuah gerakan yang melibatkan kita semua; keluarga, masyarakat dan pemerintah. Semestinya kita malu kepada Oseola  McCarry, seorang perempuan kulit hitam berusia 87 tahun. Lebih dari 75 tahun mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai tukang cuci dan menyeterika pakaian. Di usia yang sudah sangat uzur dan jatuh sakit membuatnya terpaksa berhenti bekerja dan menyerahkan tabungan seumur hidupnya sejumlah $ 150.000 kepada Universitas Sourtern Mississippi sebagai dana beasiswa bagi para mahasiswa kulit hitam Amerika (Penulis, Dosen FKIP Untan dan The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Cerdas Memberi Peringatan

Sukses dan Cinta

Pemimpin Sederhana

Prediktor Kemajuan Sebuah Bangsa

Pemimpin Pemberani