Mindfulness –éling dan waspada

Opini Ilmiah


Rabu, 15 April 2015 - 08:49:45 WIB | dibaca: 1276 pembaca



Oleh: Leo Sutrisno
Kurikulum telah diperbaharui, walaupun saat ini unutk sementara ditunda pelaksanaannya hingga akhir tahun 2018. Guru akan ‘ditangani’ dengan melatih mereka agar trampil menggunakan berbagai strategi dan metode pembelajaran. Tentu juga akan ditingkatkan penguasaan materi bahan yang akan diajarkan kepada para siswanya. Sarana dan prasarana juga akan dipenuhi sesuai dengan standar yang ada. Managemen sekolah telah dilatihkan kepada para calon dan pejabat kepala sekolah. Semua program ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang terlihat dari peningkatan hasil belajar siswa, peningkatan prestasi siswa, peningkatan pencapaian siswa. Yakinkah kita bahwa tujuan itu akan tercapai?

Jawabannya, ‘yakin’ dan ‘tidak yakin’. Yakin karena hampir semua aspek pendidikan telah ditingkatkan dan diusahakan dipenuhi. Pembaruan kurikulum, menejemen sekolah, sarana dan prasarana, ketrampilan guru dalam melekasanakan pembelajaran dan penguasaan materi bahan ajar telah dilakukan.
Tidak yakin karena pengalaman menunjukkan setiap usaha yang dilakukan dalam bidang pendidikan belum pernah tuntas dan menyeluruh. Alasan klasiknya adalah biaya tidak cukup karena cakupannya amat sangat luas. Sehingga, harus dulaksanakan secara bertahap. Sayangnya, walaupun sudah dirancang secara bertahap dalam sebuah master plan pengembangan pendidikan, implentasi rencana terlalu sering diubah karena kebijakan para pejabat tergantung pribadi sang pejabat.

Lepas dari itu semua, dengan menggunakan istilah-istilah komputer, semua yang dilakukan dalam bidang pendidikan itu tercakup pada aspek ‘hardware’, aspek yang berada di luar pribadi pelaku (guru, siswa, kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya). Aspek ini dikenal dengan istilah ‘software’. Perbaikan mutu pendidikan Indonesia lebih terarah pada hardware pendidikan. Ada baiknya, ke depan perlu dilakukan juga pada ‘perbaikan’ softwarenya, yaitu kepribadian baik guru, siswa, kepala sekolah maupun tenaga kependidikan yang lainnya.

Kepribadian  manusia pelaku pendidikan mesti ditingkatkan. Salah satu yang dapat diusulkan adalah melakukan praktek mindfulness. Konsep mindfulness sudah muncul di dunia Barat pada tahun 1979 ketika Jon Kabat-Zinn memulai  program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) di universitas Massachusetts untuk terapi penyakit kronis di bawah psikologi klinis dan psikiatri. Program ini selanjutnya berkembang untuk tindak alternatif medis baik untuk orang yang sehat maupun orang yang tidak sehat. Kini, program ini melebar tidak hanya di kalangan kesehatan/kedokteran tetapi juga di sekolah, lembaga pemasyarakatan, veteran perang serta bidang-bidang yang lain (mindfulness-Wikipedia).

Pratek meditasi mindfulness berakar dari tradisi  ‘sati’ di agama Budha yang sudah lebih sejak 2500 tahun yang lalu. Mencermati uraian David S. Black (2009) yang mendefinisikan secara ringaks mindfulness ini sebagai ‘respectivity and full engagement with present moment’. Dengan ciri-ciri: terbuka dan menyadari keberadaannya saat ini sebagai lawan dari sikap ‘tidak peduli akan keberadaannya saat ini (mindlessness)’.

Mungkin, bagi para ahli bahasa Jawa, mindfulness dapat dipadankan dengan istilah ‘eling dan waspada’. Istilah ‘eling dan waspada’ dalam konteks masyarakat umum dapat dirunut pada ajaran pujangga Kraton Surakarta R. Ng. Ronggo Warsito (http://www.karatonsurakarta.com/ronggowarsito.html) yang menyangkut ‘jaman edan’ dalam Serat Kolotido kira-kira seperti berikut ini: ‘Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak, ikut gila tidak tahan, jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik, akhirnya menjadi ketaparan. Namun dari kehendak Allah, seuntung-untungnya orang yang lupa diri, masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada’. Ingat dan wasapada – éing dan waspada.

Praktek meditasi mindfulness- éling dan waspada bertujuan untuk mengingatkan diri agar yang bersangkutan eling dan waspada. Tidak ‘latah’ ikut berlaku ‘edan’, tidak lupa diri walaupun di sekitarnya banyak orang yang berbuat gila. Bahkan, jika tidak larut berbuat gila tidak mendapatkan yang telah menjadi haknya.  

Charlotte Zenner, Solveig Herrnleben-Kurz, dan  Harald Walach (2014) memetanalisis 24 hasil penelitian tentang pengaruh pelatihan éling dan waspada di sekolah. Sebanyak 1346 siswa dari kelas 1-12 berpartisipasi pada berbagai program mindfulness yang dilakukan disejumlah sekolah di AS. Sebanyak 876 siswa yang lain berfungsi sebagai pembanding.  Effect size total adalah 0.40. dengan menggunakan ‘barometer effect size’ John hattie (2009) harga effects 0.40 merupakan batas minimal hasil usaha perbaikan pendidikan yang didambakan. Jika dirinci dalam beberapa aspek diperoleh nilai-nilai pada aspek kognitif performa (0.80), penanggulangan stress (0.39), daya lentur (0.36), serta penanggulangan emosi (0.19).

M. JENNIFER KITIL, BRIAN M. GALLA, JILL LOCKE, ERIC ISHIJIMA, dan CONNIE KASARI (Universitas California) pada tahun 2010 meneliti pengaruh pelatihan praktek meditasi éling dan waspada pada 64 orang siswa SD yang berusia 7-9 tahun. Para siswa dilatih meditasi éling dan waspada selama 30 menit dua kali seminggu selama 8 minggu. Para guru dan orang tua siswa diminta mengamati sikap negatif anak-anaknya. Ternyata, praktek meditasi éling dan waspada ini mengurangi sikap-sikap negatif para siswa.
Laurie Carroll, seorang guru matematika yang sudah mengajar 17 baik di Australia maupun di Amerka serikat (14 Februari, 2014) menuturkan rasa senangnya dsebagai guru matematika itu. Terutama selama lima tahun terakhir ini. Kelas sungguh ‘hidup’ dan hasilnya sangat baik.

Selama lima tahun tearkhir ini ia mengintragrasikan kegiatan meditasi - éling dan waspada dalam kegiatan pembelajaran matematika. Dalam satu dua bulan pertama, pelajaran matematikanya  ia awali dengan melakukan meditasi éling dan waspada bersama para murid selama sekitar 10 menit.

Di hari pertama pertemuannya dengan para murid ia berkata, “How would you like to come to my class and do nothing…every day this year?”.  Dengan cara seperti ini ia menangkap apa yang ada yang dipikirkan para siswanya. Setelah selang beberapa waktu kemudian ia melanjutkan, “What I say ‘doing nothing’  actually means? It means sitting in a relaxed position, feet flat on the ground below your knees. Sit up straight. Hands on the desk, palms down. Eyes relaxed or closed.” Sambil mendemonstrasikan sikap meditasi dan mengajak siswanya melakukan hal yang sama. Tentu ada reaksi bertanya-tanya dari siswa. Mungkin saling pandang antar mereka dan ia melanjutkan, “Leave everyone else alone. That means no eye contact. This is your time. We need to agree. The universe will leave you alone, but you have to leave the universe alone. That includes the virtual universe. Cell phones away.”

Setelah meditasi berakhir, ia menanyakan pengalaman mereka selama bermeditasi serta memberi pujian atas semua yang dicapai para siswa termasuk yang sesungguhnya di luar dugaannya. Langkah ini dipakai sebagai jembatan dari suasana meditasi ke suasana pembelajaran.

Kegiatan seperti ini dilakukan setiap hari selama satu dua bulan pertama dalam kelender pendidikan. Hasilnya, kelas sungguh menjadi sebuah tempat yang menyenangkan. Silahkan mencoba!
 
 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Leo Sutrisno

Fungsi Ujian Nasional

Creativity teaching

Selamat Datang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak

Penerimaan Proposal Hibah Penelitian Dosen Pemula untuk Tahun Pendanaan 2016

Selamat Menghadapi Ujian Tengah Semester