Mewujudkan Kebahagiaan Tanpa Batas

Opini Ilmiah


Selasa, 26 Januari 2016 - 08:11:56 WIB | dibaca: 459 pembaca


Oleh: Aswandi
 
MENCAPAI kebahagian dan keselamatan merupakan tujuan hidup manusia dari sejak dulu hingga saat ini, bahkan di masa yang akan datang. Hampir semua agama mengajarkan doa bagi keselamatan dan kebahagiaan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat kelak, bahkan mereka yang tidak beragama sekalipun melakukannya.  

Usaha mencari kebahagiaan tersebut bermacam-macam bentuk dan caranya. Ada yang mengusahakannya dengan lemah lembut, santun, dan tenang, namun tidak jarang dilakukan dengan cara kasar, kurang sopan dan gelisah.  

Seorang teman berprofesi dokter, menceritakan pengalamannya menyaksikan pasiennya menjelang sakratul maut. Dari sekian banyak orang yang dijemput malaikat pencabut nyawa, ternyata mereka mengakhiri hidupnya dengan dua suasana yang berbeda, yakni meninggal dunia dalam keadaan tenang dan dalam keadaan gelisah. Diantara mereka yang meninggal, baik almarhum maupun almarhumah adalah teman dan kolega si dokter tersebut, maka ia pun berusaha untuk memahami secara lebih mendalam fenomena dua suasana kematian itu dan akhirnya ia berasumsi atau berhipotesis, bahwa “Kebahagiaan seseorang dalam hidupnya berpengaruh saat mereka menghadapi kematiannya”. Mereka yang menjalani kehidupannya dengan penuh kesabaran, santun, pandai bersyukur, jujur, tawaduk, dan peduli terhadap sesama, terlihat sangat tenang di saat malaikat mencabut nyawanya. Sebaliknya, mereka yang kurang sabar, kasar, egois, kurang jujur, kurang pandai bersyukur, dan kurang peduli terhadap sesama terlihat sangat gelisah atau susah di saat kematiannya. Beliau menasehati kami agar dalam menjalani kehidupan ini tetap selalu berpegang dan berpedoman sesuai tuntunan Allah SWT.

Kita sering memberikan batasan atau pengertian dan penilaian yang keliru atau salah tentang “Kebahagiaan” itu. Kebahagiaan selalu dikaitkan dengan banyak harta dan uang, memiliki istri cantik rupanya dan bahenol tubuhnya, dan jabatan atau kekuasaan tinggi yang dimilikinya. Kita sering lupa, bahwa tiga faktor luar (harta, tahta dan wanita) tersebut memang diperlukan, namun hanya berfungsi  sekedar faktor pemelihara (hygein factor), kebahagiaan yang sesungguhnya itu berasal dan ada di dalam diri kita sendiri, kuncinya adalah bagaimana kita mempersepsi dan memberi makna kebahagiaan pada kehidupan itu.

Ford dikenal raja otomotif dunia yang sangat kaya, menemukan kebahagiaan ketika ia hidup bersama petani bunga, bukan di istana raja. Bapak Jenderal Wiranto, bercerita ia menikmati kebahagiaan dalam hidupnya ketika ia bersama orang tua bermain di sawah dan pengalaman tersebut sangat menginspirasi perjalanan karier dan hidupnya, Prof. Dr. H. Hadari Nawawi sebelum wafat menasehati penulis agar mengasuh dan mendidik anak dengan penuh kebahagiaan karena saat yang sangat berbahagia dalam hidupnya adalah di saat kecil dimana ia senang bermain di sungai Pemangkat.     

Orang bijak, berkata “Di akhir kehidupan nanti, kita tidak pernah menyesali hidup ini karena kita belum pernah menjadi orang kaya dan menjadi seorang pejabat penting di negeri ini, kita menyesali hidup ini karena tidak sempat memberikan nilai kehidupan lebih bermakna bagi kebahagiaan orang lain”.

Kesalahan kita mempersepsi tentang kebahagiaan tersebut mempengaruhi semua aktivitas dan usaha yang kita lakukan. Kebahagiaan ini, dapat kita capai antara lain melalui usaha kita untuk melakukan hal yang terbaik dalam profesi, posisi dan dimanapun kita bekerja. Seorang George Molloch dalam sebuah puisinya mengatakan, “Jika Anda tidak bisa menjadi pucuk cemara di puncak bukit sana, jadilah rambat sedang di lembah. Jika Anda tidak bisa menjadi kayu belian/ulin penguat bangunan, jadilah akar terkuat pengikat perahu nelayan. Jika Anda tidak dapat menjadi teratai wangi di taman sari, jadilah rumput penghias jalan. Jika Anda tidak bisa menjadi jalan tol, jadilah Anda titian bambu menuju mata air pegunungan. Tak semua kita bisa menjadi nakhoda, siapa nak jadi awak?. Tak semua kita nak jadi pemimpin, siapa nak jadi guru, polisi, petani, ketua RT dan pemain sepak bola?. Ada tugas besar dan ada tugas kecil. Ada turbin gas raksasa dan kilang minyak lepas pantai, tetapi mesti ada juga yang menjadi korek api menyulut kompor dapur. Kehidupan kita adalah sebuah sistem. Semua sistem berfungsi dengan baik, apabila semua komponen didalamnya berkerja dengan cara benar dan baik. Oleh karena dalam menjalankan fungsi kekhalifan ini, dimanapun dan diprofesi apapun, jadilah yang berbaik”.    

Kata bijak tersebut penulis sampaikan saat memberi sambutan mewakili rektor Universitas Tanjungpura dalam acara pelantikan Pengurus Yayasan Bumi Katulistiwa (YBK) Periode Ke-7, Masa Bakti: 2015-2016 di Sun City Jakarta, Jum’at, 22 Januari 2016 lalu. Secara pribadi penulis tegaskan bahwa organisasi sosial ini sangat membanggakan, sangat diperlukan dan menjadi contoh yang baik bagi organisasi lainnya, bukan saja dalam konteks kedaerahan, melainkan juga dalam konteks nasional berbangsa dan bernegara. Bukankah pada saat ini membangun kebersamaan dan kepedulian sesama manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan sekat etnisitas, baik suku maupun agama secara tulus dan ikhlas adalah sesuatu yang tidak mudah dan sangat mahal harganya. Banyak organisasi bersifat kedaerahan dan kesukuan tetapi organisasi tersebut bersifat ekslusif, lebih banyak memikirkan dan mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi suku dan etnisnya semata, demikian pula organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan tumbuh subur, tetapi sayangnya mereka kurang inklusif, terbatas dan lebih mementingkan diri mereka sendiri, yang semestinya mereka menjadi rahmat atau kebahagiaan bagi seluruh alam (rahmadallil ‘alamin). Pengalaman berbeda penulis alami dengan organisasi YBK ini, yakni sebuah organisasi kemasyarakatan dengan keanggotaan penduduk Kota Jakarta yang berasal dari Kalimantan Barat, dan etnis China atau Thionghoa. Usaha dari organisasi kemasyarakatan tersebut, antara lain memberi beasiswa kepada para pelajar dan mahasiswa Kalimantan Barat, baik yang sedang melanjutkan studinya di dalam maupun di luar negeri tanpa membatasi atau membedakan agama dan suku. YBK telah memberi akses kepada banyak pelajar dan mahasiswa kurang mampu di daerah ini, barang kali ada diantara pelajar dan mahasiswa penerima beasiswa tersebut yang sebelumnya menderita depresi mental berupa kehilangan harapan dalam hidupnya akibat kemiskinan orang tua mereka. Mereka yang menderita depresi mental itu terselamatkan oleh kehadiran dan kepedulian YBK. Oleh karena iu, semestinya kita mendukung keberadaan dan eksistensi organisasi sosial kemasyarakatan tersebut yang telah membuktikan kiprahnya membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Kalimantan Barat tanpa batas atau sekat primordialisme kesukuan dan keagamaan (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Melawan Rasa Takutt

Selamanya adalah Sama

Agenda Pendidikan 2016

Maling Teriak Maling

Revolusi Mental Bidang Pendidikan