Merubah Pola Pikir

Opini Ilmiah


Selasa, 13 Mei 2014 - 14:31:02 WIB | dibaca: 1445 pembaca



Oleh: Aswandi
 
PADA opini sebelumnya, penulis telah menjelaskan konsep dasar tentang pola pikir (mindset), pentingnya pola pikir bagi kelangsungan hidup manusia, dan pola pikir sebagian umat manudia dalam kondisi tersandra atau terjebak dalam mainstream kecerdasan yang membuatnya menjadi tidak berdaya. Setelah dikaji secara mendalam oleh pakar neuroscience disimpulkan bahwa kegagalan, ketidakberhasilan, dan ketidakberdayaan tersebut lebih disebabkan oleh pola pikir (mindset) yang keliru.. Seperti dikatakan Peter F.Drucker bahwa,  “Bahaya terbesar dari turbulensi atau pergolakan bukanlah karena turbulensi itu sendiri, melainkan disebabkan oleh cara berfikir kemarin yang masih digunakan untuk menyelesaikan persoalan hidup hari ini”. Artinya, seperti apapun kita hari ini, semua terwujud sebagai akibat dari pola pikir itu. Dan hari masih ditemukan banyak kesalahan berpikir, seperti kesalahan berpikir tentang; (1) Pelayanan publikoleh pemerintah selalu dianggap lebih baik dari pihak swasta. Faktanya tidak demikian, melainkan justru sebaliknya pelayanan publik oleh pihak swasta lebih baik dari pada pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah atau negeri. Hal ini terjadi akibat kesalahan pola pikir pihak pemerintah dimana efektivitas pelayanan publik ditentukan dari pencapaian kinerja pemerintah bagi dirinya, bukan untuk rakyat atau customernya.  Mereka meminta dilayani, sementara pihak swasta berorientasi melayani dan mereka meyakini bahwa kelangsungan hidupnya ditentukan oleh pelanggan atau customernya; (2) pembelajaran berorientasi pada mengajar yang dilakukan oleh pendidik, bukan pada belajar yang dijalani oleh peserta didik. Mereka lupa bahwa yang utama dalam pembelajaran itu adalah peserta didik itu belajar, bukan pendidik itu mengajar; (3) kehadiran seorang pemimpin untuk melayani, bukan untuk dilayani. Seringkali kehadiran pemimpin selalu dikaitkan dengan posisinya dalam sebuah jabatan, bukan pada kekuatan pengaruhnya bagi pengikut; (4) kekuatan tanpa batas seringkali dipahami berasal dari dalam, padahal kekuatan sejati berasal dari dalam diri sendiri. Itulah sebabnya banyak orang gagal karena dikalahkan oleh dirinya sendiri; (5) makna efektivitas selalu dikaitkan dengan hasil yang dicapai, padahal sesungguhnya efektivitas itu terkait erat dengan proses. Bukankah banyak orang sukses pada saat ini adalah mereka melakukan usaha yang sama, namun faktor pembeda antara yang sukses dan yang gagal itu adalah proses atau bagaimana mereka melakukannya; (6) berpikir reaktif menjadi tradisi yang memadai di sekolah kita, sementara berpikir proaktif, kreatif, dan inovatif yang sangat diperlukan dalam kehidupan ini justru tidak diajarkan pada peserta didik di sekolah; dan (7) seringkali motivasi dimaknai sebagai upaya memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu, padahal yang sebenarnya motivasi itu adalah sesuatu yang otonmeus pada diri seseorang. Kita tidak boleh memberi motivasi, melainkan merespons alasan mengapa seseorang ingin melakukan sesuatu.
Berbagai kesalahan berpikir tersebut di atas dapat diubah atau diperbaiki.

Howard Gardner (2006) dalam bukunya “Changing Minds” mengatakan sebagai seorang psikolog yang memfokuskan diri secara serius pada objek kajian tentang pikiran manusia selama hampir 40 tahun dan diperkuat pendapat para pakar lainnya menyimpulkan bahwa; “pikiran manusia bersumber dari “sistem keyakinannya, dimana sebuah pola pikir bisa saja dengan cepat mengalami perubahan, demikian sebaliknya.

Pendapat lain disampaikan oleh Khaled Hosseini (2008) dalam bukunya “The KiteRunner ”, ia menegaslkan bahwa “sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang”

Sebuah illustrasi, pada abad ke-20, seorang diplomat yang paling dihormati diantara semua negara besar adalah duta besar German untuk London. Namun pada tahun 1906 dengan tiba-tiba mengubah fikiran dan sikapnya yakni mengundurkan diri sebagai duta besar karena menolak memimpin acara makan malam yang diadakan korps diplomat bagi Edward VII. Raja Edward VII adalah sosok yang terkenal dengan kesenangannya bermain cinta atau seorang womanizer dan sudah jelas acara makan malam seperti apa yang dikehendakinya. Duta besar dilaporkan dan berkata; “Saya tidak mau melihat seorang mucikari di cermin saat saya bercukur pada pagi hari”, demikian Peter F. Drucker (2007) dalam bukunya berjudul “Classic Drucker”.

Howard Gardner (2007) seorang psikolog yang sangat tekun dan menghabiskan sebagian lama hidupnya mempelajari pikiran manusia berhasil mengidentifikasi tujuh faktor penggerak perubahan pola pikir, yakni alasan (reason), penelitian (research), kesepahaman (resonance), penggambaran ulang yang sesuai (representational redesciption), sumber daya dan imbalan (resource and reward), peristiwa dalam dunia nyata (real world events), dan hambatan (resistance).

Ketujuh faktor pengerak perubahan pola pikir manusia secara singkat penulis jelaskan berikut ini.
REASON, sebuah pendekatan rasional melibatkan dan mengidentifikasi faktor yang relevan, kemudian menimbang tiap faktor dan membuat penilaian secara keseluruhan (induksi) atau sebaliknya dilakukan secara deduksi.
RESEARCH, penelitian ilmiah menghasilkan suatu kecendrungan yang menjanjikan dan sangat mempengaruhi perubahan pola pikir manusia.
RESONANCE, kesepahaman mempengaruhi ranah afektif dan terjadi sebagai akibat seseorang merasakan sesuatu “hubungan” dengan perubahan pola pikirnya, beranggapan orang tersebut “dapat diandalkan” atau “dihormati”.
REPRESENTATIONAL REDESCREPTION, sebuah perubahan pola pikir menjadi meyakinkan jika perubahan itu digambarkan dalam bentuk yang berbeda dan bentuk-bentuk itu saling memperkuat satu sama lain.
RESOURCE REWARD, perubahan pola pikir akan terjadi pada individu yang pikirannya terbuka. Namun perubahan pola pikir tersebut lebih mungkin terjadi ketika sumberdaya yang cukup banyak dapat diambil darinya.
REAL WORLD EVENTS, kejadian dunia secara nyata menjadi faktor penggerak atau prediktor perubahan pola pikir manusia.
RESISTENCE, perubahan pola pikir manusia akan terjadi ketika keenam faktor pertama bekerjasama dan hambatan yang timbul relatif lemah. Sebaliknya, perubahan pola pikir tidak akan terjadi ketika hambatan yang timbul kuat, dan faktor lain tidak mengarah pada arah yang sama dengan kekuatan itu.

Mengakhiri uraian ini, dikutip penegasan kembali Howard Gardner (2007) bahwa agen perubahan pola pikir manusia yang paling menentukan dan berada di puncak piramida terbalik adalah mereka yang terpilih dalam jabatan politik atau ditunjuk untuk menduduki posisi atau otoritas tertentu untuk membuat banyak keputusan. Pertanyaan selanjutnya, apakah mereka yang terpilih dalam posisi tersebut mampu melalankan tupoksinya (Penulis, Dekan FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pengumuman (PENTING) Akademik No. 9517/UN.22.6/DT/2014

Integrasi UN dan SNMPTN

Tersandra Pola Pikir

Pemuda Pemilik Masa Depan

Memulai Perubahan